Kasman Singodimedjo, Pahlawan Peristiwa Lengkong 25 Januari 1946 Di Kota Tangerang, Membangkitkan Semangat Menyongsong Indonesia Emas

Kasman Singodimedjo, Pahlawan Peristiwa Lengkong 25 Januari 1946 Di Kota Tangerang, Membangkitkan Semangat Menyongsong Indonesia Emas

Oleh : Dr. Ali Aminulloh, S.Ag., M.Pd.I., ME (Dosen IAI Al-Zaytun)


Keteladanan Lengkong: Pengorbanan di Usia Puncak

Hari ini, Kamis tanggal 27 November 2025, bangsa Indonesia kembali mengenang Pertempuran Lengkong, sebuah episode heroik yang mengukir sejarah pengorbanan di Tangerang ( biasa diperingati oleh Pemkot dan masyarakat Tangerang setiap tanggal 27 November ).

Peristiwa berdarah 25 Januari 1946 ini adalah saksi bisu betapa mahalnya harga kemerdekaan, yang tidak dicapai tanpa pertaruhan jiwa.

Saat itu, Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaan, namun perjuangan belum usai. Pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang hanya berjumlah sekitar 80 orang, dipimpin oleh Letnan Kolonel M. Kasman Singodimedjo, melancarkan serangan nekad untuk merebut senjata dari markas besar Jepang di Lengkong.

M. Kasman Singodimedjo, seorang tokoh penting yang lahir pada tahun 1913, adalah seorang terpelajar yang mengabdikan diri sebagai Komandan Batalyon PETA dan kemudian TKR. Ia gugur bersama 35 pejuang lainnya di medan Lengkong, pada usia 33 tahun. Usia di mana seseorang berada di puncak kekuatan, visi, dan potensi pengabdian.
Pengorbanan Kasman dan para syuhada Lengkong ini selaras dengan prinsip universal dalam agama, yakni pentingnya ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi kesulitan. Dalam konteks ini, kita mengingat firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 139.
Ayat ini memberikan penegasan spiritual yang kuat bahwa pantang menyerah adalah karakter dasar seorang pejuang sejati.

Lima Nilai Utama dan Posisi Tawar Bangsa

Kepahlawanan Kasman Singodimedjo telah mewariskan lima pelajaran utama yang harus kita reaktualisasi dalam konteks perjuangan modern menuju visi “Indonesia Emas” 2045:
1. Kesetiaan dan Pengabdian: Mewujudkan dedikasi tanpa batas dan berintegritas tinggi.
2. Kebijaksanaan dan Kepemimpinan: Mampu memotivasi dan mengambil keputusan strategis di tengah ketidakpastian.
3. Kesiapan untuk Mengorbankan Diri: Mengorbankan ego, waktu, dan kenyamanan demi kepentingan publik.
4. Patriotisme dan Nasionalisme: Menerjemahkannya menjadi cinta produk dalam negeri dan menjunjung tinggi nama bangsa.
5. Ketabahan dan Keteguhan: Sikap pantang menyerah dalam menghadapi krisis dan disrupsi.

Kelimanya adalah fondasi kokoh untuk memperkuat posisi tawar bangsa di hadapan persaingan global. Negara yang warganya menjunjung tinggi integritas, ketabahan dalam berinovasi, dan pengabdian yang tulus, akan memiliki martabat dan suara yang kuat, dan tidak akan mudah tunduk pada kepentingan pihak asing.

Dua Medan Perang, Satu Semangat Transformasi

Tantangan yang dihadapi Letkol Kasman di masa perjuangan terasa kontras dengan realitas hari ini, namun sejatinya, keduanya menuntut esensi semangat yang sama.
Di era Lengkong pada tahun 1946, tantangan utama adalah penjajahan fisik dan perang bersenjata, di mana ancaman terhadap kedaulatan bersifat nyata dan harus dibayar dengan nyawa.

Kini, medan pertempuran telah bergeser. Menyongsong Indonesia Emas, tantangan kita adalah perang ekonomi, disrupsi teknologi, krisis integritas, dan perang informasi. Ancaman terhadap kedaulatan kini lebih halus, berupa ketergantungan ekonomi, pembajakan data, hingga perpecahan akibat hoaks.

Meskipun berbeda wujud, kedua era tersebut membutuhkan persatuan, semangat juang, kepemimpinan yang berani, dan pengorbanan total. Jika di masa lalu pengorbanan diwujudkan dengan darah, hari ini, pengorbanan diwujudkan dengan dedikasi waktu untuk belajar seumur hidup (lifelong learning), integritas tanpa kompromi untuk menolak korupsi, dan semangat pantang menyerah dalam berinovasi di bidang profesional masing-masing.

Ini adalah perwujudan lain dari seruan Illahi dalam Surat Al Insyirah (94): 5-6 yang menjanjikan “setelah adanya kesulitan pasti ada kemudahan. “
Semangat pantang menyerah inilah yang harus menjadi modal kita untuk mentransformasi medan perang dari fisik menjadi medan keunggulan intelektual, ekonomi, dan moral.

Jika M. Kasman Singodimedjo, seorang pemimpin yang terdidik, mampu mengorbankan seluruh hidupnya pada usia 33 tahun demi kedaulatan bangsa,

Lalu, di usia Anda sekarang, apa peranmu dalam memperjuangkan cita-cita Indonesia Emas hari ini? *


Indonesia, 27 November 2025
—–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!