Ayat ini memberikan penegasan spiritual yang kuat bahwa pantang menyerah adalah karakter dasar seorang pejuang sejati.
Lima Nilai Utama dan Posisi Tawar Bangsa
Kepahlawanan Kasman Singodimedjo telah mewariskan lima pelajaran utama yang harus kita reaktualisasi dalam konteks perjuangan modern menuju visi “Indonesia Emas” 2045:
1. Kesetiaan dan Pengabdian: Mewujudkan dedikasi tanpa batas dan berintegritas tinggi.
2. Kebijaksanaan dan Kepemimpinan: Mampu memotivasi dan mengambil keputusan strategis di tengah ketidakpastian.
3. Kesiapan untuk Mengorbankan Diri: Mengorbankan ego, waktu, dan kenyamanan demi kepentingan publik.
4. Patriotisme dan Nasionalisme: Menerjemahkannya menjadi cinta produk dalam negeri dan menjunjung tinggi nama bangsa.
5. Ketabahan dan Keteguhan: Sikap pantang menyerah dalam menghadapi krisis dan disrupsi.
Kelimanya adalah fondasi kokoh untuk memperkuat posisi tawar bangsa di hadapan persaingan global. Negara yang warganya menjunjung tinggi integritas, ketabahan dalam berinovasi, dan pengabdian yang tulus, akan memiliki martabat dan suara yang kuat, dan tidak akan mudah tunduk pada kepentingan pihak asing.
Dua Medan Perang, Satu Semangat Transformasi
Tantangan yang dihadapi Letkol Kasman di masa perjuangan terasa kontras dengan realitas hari ini, namun sejatinya, keduanya menuntut esensi semangat yang sama.
Di era Lengkong pada tahun 1946, tantangan utama adalah penjajahan fisik dan perang bersenjata, di mana ancaman terhadap kedaulatan bersifat nyata dan harus dibayar dengan nyawa.
Kini, medan pertempuran telah bergeser. Menyongsong Indonesia Emas, tantangan kita adalah perang ekonomi, disrupsi teknologi, krisis integritas, dan perang informasi. Ancaman terhadap kedaulatan kini lebih halus, berupa ketergantungan ekonomi, pembajakan data, hingga perpecahan akibat hoaks.
Meskipun berbeda wujud, kedua era tersebut membutuhkan persatuan, semangat juang, kepemimpinan yang berani, dan pengorbanan total. Jika di masa lalu pengorbanan diwujudkan dengan darah, hari ini, pengorbanan diwujudkan dengan dedikasi waktu untuk belajar seumur hidup (lifelong learning), integritas tanpa kompromi untuk menolak korupsi, dan semangat pantang menyerah dalam berinovasi di bidang profesional masing-masing.
Ini adalah perwujudan lain dari seruan Illahi yang menjanjikan kemudahan setelah adanya kesulitan, seperti termaktub dalam Surah Al-Insyirah (94): 5-6:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Semangat pantang menyerah inilah yang harus menjadi modal kita untuk mentransformasi medan perang dari fisik menjadi medan keunggulan intelektual, ekonomi, dan moral.
Jika M. Kasman Singodimedjo, seorang pemimpin yang terdidik, mampu mengorbankan seluruh hidupnya pada usia 33 tahun demi kedaulatan bangsa.
Lalu, di usia Anda sekarang, apa peranmu dalam memperjuangkan cita-cita Indonesia Emas hari ini? (**)
Indramayu, 26 November 2025
——-
![]()
