Dari ‘Tamparan’ Pohon ke Komitmen Nyata: Bupati Indramayu Siap Jadi Penasihat Pembangunan Politeknik Tanah Air
Oleh Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. M.E
( Dosen IAI Al Zaytun Indramayu Jawa Barat )
Di tengah riuhnya perayaan Sumpah Pemuda, Selasa (28/10/2025), sebuah ikrar baru seolah menggema dari Mahad Al-Zaytun. Bukan sumpah politik, melainkan sebuah janji untuk kedaulatan di sektor paling fundamental: pangan. Saat ribuan pasang mata tertuju pada podium dalam acara peletakan batu penjuru Politeknik Tanah Air, Bupati Indramayu Lucky Hakim justru menyingkirkan naskah pidato resminya.
Ia memilih untuk bercerita, sebuah narasi spontan yang lahir dari sebuah “tamparan” singkat namun telak, tepat di gerbang Al-Zaytun beberapa saat sebelumnya.
Pelajaran dari Pohon yang Tak Ditebang
Semuanya berawal dari rasa heran. Saat memasuki kompleks Al-Zaytun, Lucky Hakim terkesima melihat barisan pohon besar yang berdiri rapi.
“Pohonnya baru atau lama? Kalau baru, kok sudah besar-besar?” tanyanya dalam hati.
Pertanyaan itu terjawab setelah ia berbincang dengan Syaykh Panji Gumilang. Pohon-pohon itu ternyata tidak ditanam dari bibit, melainkan dipindahkan utuh dari lokasi lain.
Lalu, sebuah pertanyaan singkat dari Syaykh Panji Gumilang datang menusuk kesadarannya.
“Memangnya Pemda tidak punya alat pemindah pohon?”
“Dan beneran kami tidak punya,” aku Lucky Hakim di hadapan hadirin.
“Setahu saya, Pemda punyanya alat tebang pohon. Ini satu pukulan untuk saya. Tadi singkat, tapi Syekh sudah menampar saya.”
Momen itu menjadi sebuah pencerahan. Ia merenung, betapa seringnya manusia bersikap egois. Demi sebidang tanah, pohon-pohon yang tumbuh bertahun-tahun, yang akarnya menjaga tanah dan daunnya memberi oksigen, dengan mudah ditebang habis. Manusia seolah menjadi virus bagi bumi.
“Kita boro-boro menanam pohon, yang sudah berdiri saja ditebang,” ujarnya reflektif. “Catat! Kita harus beli alat pemindah pohon.”
Pelajaran dari pohon itu menjadi metafora kuat. Pembangunan tidak harus merusak. Sama halnya dengan mendatangkan sapi ternak, manusianya harus disiapkan lebih dulu agar ternak itu terawat, bukan malah mati atau merusak. Itulah, menurutnya, esensi dari pendirian Politeknik Tanah Air: melahirkan generasi cerdas yang tahu cara merawat dan membangun, bukan generasi yang hanya bisa mendatangkan lalu menelantarkan.

Mengubah Stigma, Menjadi Penasihat Peradaban Baru
Visi itu kemudian ia tarik ke dalam konteks yang lebih luas: mengubah takdir Gantar, sebuah wilayah yang ironisnya kerap dicap sebagai “tempat jin buang anak.”
Lucky Hakim menolak stigma negatif itu mentah-mentah. Ia berkomitmen penuh untuk menyulap Gantar menjadi pusat peradaban baru.
Komitmennya yang kuat ini rupanya tak luput dari perhatian Syaykh Panji Gumilang.
Pada sesi taushiyah, Syaykh secara langsung mendaulat Bupati Lucky Hakim untuk menjadi penasihat dalam panitia pembangunan Politeknik Tanah Air. Sebuah amanah yang disambut dengan kesiapan penuh oleh sang bupati, menandai terjalinnya sinergi konkret antara pemerintah daerah dan Al-Zaytun untuk mewujudkan mimpi besar tersebut.
Dengan peran barunya, visinya menjadi semakin jelas.
“Di sini, di Gantar, harus menjadi pusat keramaian, pusat ekonomi, pusat teknologi, dan juga pusat pertanian,” tegasnya.
Ia mengaku tengah berjuang mati-matian selama hampir dua bulan terakhir untuk mewujudkan infrastruktur vital, mulai dari perbaikan jalan hingga lobi untuk pembukaan akses tol di Gantar.
Tujuannya satu: agar warga bangga mengatakan, “Saya tinggal di Gantar,” dan agar masyarakat merasakan manisnya pembangunan yang selama ini seolah menganaktirikan mereka.
Merajut Asa Petani, dari Sekam Padi hingga Industri Hijau
Persoalan paling mendasar yang ingin ia selesaikan adalah nasib para petani. Ia berkeliling Indramayu dan menyaksikan sebuah potret yang memilukan: para petani bekerja banting tulang dari pagi hingga sore, kulit mereka legam dan tangan mereka kasar, namun hidup mereka jauh dari kata sejahtera.
“Mereka tidak kaya-raya, boro-boro kaya. Untuk bertahan hidup saja hampir tidak bisa,” ungkapnya prihatin.
Di sinilah peran Politeknik Tanah Air menjadi sangat krusial. Ia berharap akan lahir ilmu dan teknologi yang mampu memberikan nilai tambah pada setiap jengkal hasil pertanian. Jangan hanya berorientasi pada berasnya saja, tetapi bagaimana sekam, dedak, hingga batang padinya bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi.
“Saya tidak punya keilmuannya, tapi saya yakin banyak profesor yang mengerti,” katanya. “Sehingga petani yang tadinya hanya dapat 4-5 juta dari beras, bisa mendapatkan nilai lebih.” Visi ini akan diintegrasikan dengan pembangunan kawasan industri hijau yang ramah lingkungan, yang lokasinya didekatkan dengan pusat produksi untuk memangkas biaya distribusi. Dengan akses tol Gantar yang terhubung ke Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati, produk-produk olahan ini siap menembus pasar domestik hingga ekspor.

Epilog: Mengurai Benang Kusut Paradoks
Sebelum mengakhiri pidatonya, Lucky Hakim mengurai sebuah paradoks besar yang selama ini menjadi benang kusut di Indramayu. Sebuah daerah yang bergelimang kekayaan alam—di bawah tanahnya ada minyak dan gas, lautnya kaya ikan dan garam, sawahnya subur sebagai lumbung padi nasional, dan devisa dari ribuan pekerja migran terus mengalir setiap tahun—justru menyandang predikat sebagai kabupaten dengan jumlah penduduk miskin terbanyak.
“Ini kan aneh,” tanyanya retoris. “Lautnya asin, ada ikannya. Tanahnya subur, minyaknya ada. Tapi kenapa miskin?”
Baginya, jawaban atas teka-teki ini sudah sangat jelas dan terpampang di depan mata. Masalahnya bukan terletak pada sumber daya alam, melainkan pada kualitas sumber daya manusianya. Kekayaan melimpah menjadi sia-sia karena salah kelola.
Oleh karena itu, ia menaruh harapan raksasa di pundak Al-Zaytun dan seluruh entitas pendidikan. Pendirian Politeknik Tanah Air bukanlah sekadar pembangunan gedung. Ia adalah investasi peradaban, sebuah upaya sungguh-sungguh untuk menempa “kunci” yang selama ini hilang. Kunci untuk membuka gerbang kemakmuran, mengakhiri ironi, dan memastikan kekayaan alam Indramayu benar-benar menetes untuk kesejahteraan rakyatnya. Itulah sumpah pemuda yang sesungguhnya tengah diikrarkan di tanah Gantar.**
Indramayu, 29 Oktober 2025
—-
![]()
