Upaya dan Usaha Pemberdayaan Gen-Z Untuk Mengelola Potensi Desa Yang Terabaikan Akibat Dari Migrasi ke Kota

Upaya dan Usaha Pemberdayaan Gen-Z Untuk Mengelola Potensi Desa Yang Terabaikan Akibat Dari Migrasi ke Kota

Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas

Topik diskusi rutin mingguan GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) setiap Kamis-Senin, 9 Oktober 2025 GMRI di Sekretariat Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A, Jakarta Pusat semakin gayeng dan marak dalam dua session yang dihadiri sahabat dan kerabat dari Solo, Yogya dan Surabaya yang dipandu Mas Momok yang didampingi Mas Agung yang memapar hasratnya untuk membangun komunitas spiritual di Yogyakarta dan Gunung Kidul, karena dianggap memiliki banyak obyek wisata spiritual atau religius guna menstimuli gerakkan kebangkitan dan kesadaran serta pemahaman spiritual dari lingkungan petani binaannya di kedua daerah tersebut.

Upaya memadukan kajian spiritual dengan segenap potensi kearifan lokal setempat dengan komunitas petani diharap dapat mempercepat gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual sadaya untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang produktif, khususnya dalam bidang pertanian dan peternakan perikanan yang cukup potensial untuk dikembangkan guna mendukung pertahanan serta ketahanan pangan. Karena memang gerakan kebangkitan spiritual akan lebih efektif dan bermanfaat diarahkan pada tradisi dan budaya agraris dan maritim yang terkesan sejak satu abad silam mulai ditelantarkan oleh warga bangsa Indonesia lantaran terjebak dalam budaya Indonesia yang memposisikan segenap anak bangsa menjadi buruh atau pekerja yang menghilangkan identitas budaya masyarakat agraris dan maritim atau bahari sehingga melupakan keunikannya yang khas dalam bercocok tanam, menjadikan sumber daya alam di laut sampai keahlian bertenun, menyulam dan menganyam dari sumber daya alam Indonesia yang melimpah mencipta karya seni kerajinan yang unik dan khas.

Atas dasar itulah, hasrat untuk mengidolakan kawula muda atau kaum gen-z yang tumbuh bersama lompatan teknologi digital yang melambung tinggi menembus, hendak tetap berkesadaran bahwa semua yang ada di jagat raya ini adalah milik dan dalam kekuasaan Tuhan. Sehingga nilai-nilai ilahiah dapat terus terjaga dan dikembangkan agar tidak lup diri bahwa sesempurna apapun manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan tetap saja memiliki kemampuan yang terbatas.

Dalam pemahaman dan pengertian yang berkesadaran serupa inilah, kecerdasan spiritual menjadi sangat relevan untuk dimiliki guna menjaga keseimbangan raga dengan jiwa atau sebaliknya, sehingga tidak semakin bersifat materialistis tetapi, namun tetap mampu diimbangi oleh spiritualitas yang cerdas dan berbobot atau berkualitas untuk menjaga keseimbangan jiwa.

Joyo Yudhantoro yang lebih dominan memantik suasana diskusi yang ditimpali oleh Gus Baidhowi dan Wowok Prastowo dan Agung semakin menarik dan gayeng, ketika mengurai masalah peran ideal Koperasi Merah Putih yang telah dibangun oleh pemerintah dalam kontek fungsi dan perannya untuk melindungi petani dari mangsa tengkulak maupun rentenir yang masih terkesan dominan menentukan hasil panen pertanian yang telah menguras seluruh keringat petani, termasuk para peternak yang acap kesulitan pakan untuk mengembangbiakkan hewan ternak maupun ikan peliharaan para petambak. Sementara Wali Spiritual, Sri Eko Sriyanto Galgendu yang bertindak selalu Sohibul hajat, justru menjadi pendengar setia, tanpa memberi komentar apa-apa.

Yang terpenting dari resume diskusi ialah. kesimpulan sementara betapa idealnya bagi forum diskusi, yaitu peran dan gungsi Koperasi Merah Putih yang sudah diluncurkan pemerintah untuk dapat disinergikan dengan UMKM (Usaha Menengah Kecil Masyarakat) dapat memangkas sindikat pasar yang selalu menentukan harga secara sepihak dan selalu bersikap sewenang-wenang menentukan harga dari hasil panen para petani dan petambak maupun nelayan yang selalu dibuat seperti tidak berkutik dan tidak berdaya dihadapan tengkulak atau pun rentenir sebagai penghisap keringat petani dan nelayan.

Acara diskusi yang berlangsung sejak sore hingga nyaris berakhir pada tengah malam untuk mengurai fungsi dan peranan Koperasi Merah Putih yang sangat ideal untuk melakukan kerjasama dengan UMKM yang ada di setiap desa atau kampung, agar kawula muda dari desa tidak perlu menyesaki kota-kota besar di Indonesia, supaya desa tidak sampai merana karena ditinggal oleh para pemuda desa untuk mencari pekerjaan di kota. **

Pecenongan, 9 Oktober 2025
—-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!