Gerakan Kebangkitan Kesadaran dan Pemahaman Spiritual Dari Indonesia Kelak Akan Menjadi Cahaya Penerang Dunia
Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas
Etika, moral dan akhlak manusia Indonesia masalah kunci untuk memperbaiki berbagai kerusakan berbangsa dan bernegara yang baik dan benar untuk Indonesia. Mulai dari etika ekonomi, etika politik, etika hukum, etika budaya dan etika beragama patut dibenahi agar tidak saling bersilangan antara yang satu dengan yang lainnya.
Etika dalam berkawan — bermasyarakat — perlu dijaga untuk menjaga kelangsungan berkawan yang dapat ditingkatkan dengan menjalin ikatan yang lebih tinggi, yaitu persaudaraan. Karenanya tak heran banyak keluarga yang mampu menambah relasi persaudaraan yang berada di luar satu darah. Bahkan bisa terbangun dari latar belakang suku dan budaya yang berbeda, tidak ada hubungan ari ikatan keturunan yang sama.
Sebaliknya, ada yang berasal dari satu darah keturunan — adik beradab atau saudara sepupu — namun terkesan bahkan terasa begitu jauh, karena dibatasi oleh sekat yang dibiarkan membuat jarak jadi begitu terasa jauh. Biasanya, kerenggangan dalam ikatan dengan s saudara sejarah atau satu nenek moyang ini lantaran adanya keterlibatan ikatan yang dianggap akan menjadi beban. Karena yang satu beranggapan akan diringrong oleh yang lain.
Begitu juga dengan jalinan perjalanan yang sudah sempat begitu akrab dan terkesan sangat sohib, terapi ketika kondisi ekonomi mengalami perubahan peningkatan — atau lebih sukses dari kondisi sebelumnya — kerenggangan ikatan dari perkawinan itu juga bisa terjadi, bukan hanya karena kesibukan yang sudah lebih padat dari kegiatan sebelumnya, tapi juga ada semacam ketakutan bisa menjadi beban yang menghabat perkembangan karier atau reputasi yang semakin meninggikan sifatnya.
Pada tahapan inilah konsistensi dan kesetiaan terhadap komitmen perkawanan yang pernah terjalin baik dapat diuji tingkat kesetiaan dan ketulusannya sebagai cermin dari kepribadian yang baik dan teguh.
Sebab tetap saja ada orang yang setia dengan komitmen dan segenap konsekuensi dari perkawinan yang sejati dan tulus serta penuh keikhlasan dalam suka maupun duka.
Itulah dasar etika menjadi sangat diperlukan bagi setiap orang untuk menjaga moralitas membangun akhlak mulia sebagai manusia yang waras dalam arti psiko-sosial yang utuh dan makan, tidak terpisah oleh waktu yang telah mengubah lkndusi dan situasi yang terus bergerak dan berubah.
Perubahan sikap itu pun biasanya tidak hanya disebabkan oleh peningkatan status dalam arti ekonomi, tai juga bisa terjadi dalam perkembangsan politik, misalnya menjadi pejabat tertentu atau karena menduduki jabatan tertentu dalam organisasi atau pemerintahan disebabkan sikap jumaw, sombong, atau rasa takut untuk diminta berbagai bentuk pertolongan yang dianggap akan sangat merugikan. Atau, paling tidak akan banyak memberi keuntungan. Maka itu pada bagian serupa inilah etika dan moral diperlukan untuk membuat akhlak agar dapat membimbing etika dan moral bisa konsisten bahwa akhlak itu merupakan sokoguri utama dari kepribadian manusia yang luhur dan.mulia.
Oleh jatena itu, untuk membangun landasan etika, moral dan akhlak mulia — sebagai manusia yang dianugerahi oleh Allah SWT sebagai khalifatullah — wakil Tuhan di bumi, jelaslah bahwa etik, moral dan akhlak perlu dijaga serta ditingkatkan kuakitasnya melalui laku spiritual yang senantiasa bersandar dan diuntungkan pada cahaya ilahi bagi semua makhluk — utamanya manusia — tidak terkecuali bagi malaikat, iblis dan setan.
Begitulah dimensi spiritual yang perlu dihidupkan cahaya yang terang untuk menuntun hidup manusia supaya tidak menyeleweng, atau menjadi pencoleng seperti korupsi, penyalahgunaan jabatan dan wewenang, khianat bahkan bertindak kejam dan jagat terhadap rakyat. San atas dasar ini pula GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) yang dimotori oleh Wali Spiritual Nusantara jadi semakin teguh dan tegar untuk mengabarkan gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual di Indonesia — yang kini mulai dipersiapkan maju ke tingkat global (antar bangsa di dunia) terus dilakukan tiada pernah lelah. Sebab pada saatnya kelak Indonesia sungguh akan menjadi mercusuar yang menerangi jagat raya ini.**
Banten, 5 Oktober 2025
—-
![]()
