Meneliti Kearifan Lokal dalam Penamaan Tempat Wisata di Wonogiri, Meli Lulus Tepat Waktu
Penelitian tentang kearifan lokal dalam penamaan tempat wisata di Wonogiri telah dilakukan oleh Meli Intan Septiani,pada bulan Januari hingga Juli 2025, dengan menggunakan pendekatan toponimi. Toponimi adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan penamaan tempat, serta dapat membantu mengungkap makna yang berkaitan dengan sejarah, budaya, dan geografi suatu lokasi.
Menurut Nur Fateah sebagai dosen pembimbing, penelitian yang dilakukan Meli cukup menarik untuk bisa dijadikan bahan ajar Bahasa Jawa tema kearifan lokal dan cerita rakyat di daerah Wonogiri.
Penelitian ini termuat dalam jurnal stilistika dan berhasil mengungkap makna nama-nama tempat wisata di Wonogiri dan dikelompokkan menjadi tiga aspek utama.
1. Aspek pertama yaitu aspek perwujudan: Terkait dengan interaksi manusia dan lingkungan alam, meliputi:
– *Wujud air*: Seperti Pantai Banyutowo yang berarti “pantai air tawar”.
– *Wujud Rupa Bumi*: Meliputi bentuk fisik atau permukaan bumi, contohnya Gua Tembus yang berarti “gua terowongan”.
– *Flora*: Nama tempat yang berasal dari tumbuhan, seperti Pinus Sewu (seribu pohon pinus) dan Sendang Sinangka (kolam dengan pohon nangka di dekatnya).
– *Fauna*: Penamaan yang berasal dari nama hewan, contohnya Bukit Cumbri yang konon banyak terdapat burung beri di sana.
2. Aspek kedua yaitu *Unsur Benda Alam*: Menggunakan unsur alam seperti batu atau tiang, misalnya Gunung Kelir yang bentuknya seperti layar wayang (kelir) dan Soko Langit (tiang langit) karena lokasinya di atas bukit.
– *Lokasi*: Nama tempat yang diambil dari nama desa atau daerah sekitarnya, seperti Waduk Pidekso yang terletak di Desa Pidekso.
3. Aspek Kemasyarakatan: Berkaitan dengan interaksi manusia sebagai makhluk sosial, meliputi:
– *Kegiatan*: Seperti Puncak Gantole, dinamai dari olahraga dirgantara gantole yang dilakukan di lokasi tersebut.
– *Nama Tokoh*: Menggunakan nama penemu atau tokoh yang dihormati, contohnya Alas Donoloyo yang diambil dari nama tokoh Majapahit, Ki Ageng Donoloyo.
– *Harapan*: Nama yang mengandung doa atau harapan, seperti Candi Muncar yang memiliki makna “bersinar,” dengan harapan tempat itu akan semakin ramai pengunjung.
– *Aspek Kebudayaan*: Mencerminkan budaya lisan atau cerita rakyat setempat, contohnya:
– *Girimanik*: Air terjun yang namanya diambil dari tokoh pewayangan.
– *Kahyangan*: Tempat yang diyakini sebagai lokasi spiritual dan sering digunakan untuk meditasi.
– *Monumen Bedol Desa*: Dibangun untuk mengenang pengorbanan masyarakat yang desanya terdampak pembangunan Waduk Gajah Mungkur.
*Pola Pikir Masyarakat*
Penelitian ini juga menemukan bahwa kearifan lokal dalam penamaan tempat wisata di Wonogiri mencerminkan lima pola pikir masyarakat.
– *Pelestarian Alam*: Pola pikir yang paling dominan, yang menunjukkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan alam.
– *Pelestarian Sejarah*: Masyarakat Wonogiri berusaha melestarikan sejarah dan budaya lokal melalui penamaan tempat wisata.
– *Sarana Spiritual*: Beberapa tempat wisata di Wonogiri memiliki makna spiritual dan digunakan sebagai tempat meditasi.
– *Penghormatan kepada Tokoh Masyarakat*: Penamaan tempat wisata yang menggunakan nama tokoh masyarakat atau leluhur.
– *Letak Daerah*: Penamaan tempat wisata yang diambil dari nama desa atau daerah sekitarnya.
Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa penamaan tempat wisata di Wonogiri tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga sebagai penyimpan sejarah dan kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Lebih detail mengenai penelitian ini dapat diakses pada jurnal stilistika dengan link sebagai berikut. https://journal.um-surabaya.ac.id/Stilistika/article/view/26423
Nur Fateah
Dosen BSJ FBS UNNES
—-
![]()
