Matsna-Matsna: Langkah Kecil Menuju Peradaban Besar
(Mengenal Tradisi-Tradisi Di Mahad Al Zaytun)
Oleh Ali Aminulloh
Kontributor Jaya-News.com
Pagi hari di kompleks Pondok Pesantren Al-Zaytun bukan sekadar peralihan waktu dari malam ke siang. Ia adalah panggung kesungguhan dan keteraturan. Barisan santri tampak berjalan rapi dalam formasi berdua-dua—tradisi yang dikenal sebagai matsna matsna. Dipisahkan antara santri putra (rijal) dan putri (nisa), mereka menyusuri rute yang telah ditetapkan dengan kesadaran dan kepatuhan yang luar biasa. Di setiap simpang, para santri senior—kelas VI MI, kelas IX MTs, dan kelas XII MA—berdiri sigap sebagai penjaga barisan. Sungguh menarik, bahkan ketika garis zebra cross telah memudar, para santri tetap setia berbelok mengikuti jalur yang telah ditentukan. Sebuah simbol kecil tentang betapa kuatnya nilai ketaatan yang tertanam di hati mereka.
Tradisi ini seakan menjawab sabda Nabi Muhammad ﷺ:
> “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan pekerjaan, maka ia melakukannya dengan itqan (profesional, sungguh-sungguh, tertib).” (HR. al-Baihaqi)
Kedisiplinan bukanlah kekangan, melainkan bentuk kecintaan kepada keteraturan dan keindahan hidup. Dan di Al-Zaytun, semuanya dimulai dari langkah kaki yang berjalan berdua.
Matsna Matsna: Sekolah Kepemimpinan dalam Setiap Langkah
Apa yang terlihat sederhana itu ternyata menyimpan kekuatan luar biasa. Tradisi ini bukan hanya melatih keteraturan, tetapi membentuk karakter dan jiwa kepemimpinan santri. Aturan tak tertulis—tidak boleh berjalan sendiri atau bergerombol lebih dari tiga—membangun dinamika sosial yang penuh nilai.
“Santri sejak dini dibiasakan hidup berdisiplin,” ujar Hafidz Al Barzah, Pembina OPMAZ. “Melalui pengaturan jalan ini, santri juga dibangun jiwa kepemimpinannya.” Pernyataan ini mengukuhkan nilai pendidikan karakter yang hidup dalam setiap kebiasaan di Al-Zaytun. Disiplin bukanlah tujuan akhir, tapi jalan menuju kematangan akal dan kekuatan jiwa untuk memimpin dengan tanggung jawab.
Selama perjalanan menuju kelas, para santri berdiskusi ringan, bertukar kisah, berbagi semangat. Di sinilah teori Lev Vygotsky tentang pembelajaran sosial menjadi nyata: bahwa perkembangan kognitif terjadi dalam interaksi antarmanusia. “Matsna matsna” menjadi media alami pembelajaran soft skill seperti komunikasi, empati, toleransi, bahkan pengendalian diri.
Ketika ada santri melanggar formasi, petugas penjaga dengan sigap berseru, “Matsna! Matsna!” Sebuah seruan persaudaraan dan pengingat tentang komitmen bersama. Tradisi ini mendidik untuk hidup dalam harmoni sosial, bukan hanya berpikir sendiri. Ini seperti firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
> “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…”
Dengan kata lain, kebersamaan bukan sekadar kumpulan individu, melainkan ruang pendidikan spiritual dan sosial untuk mengenal, memahami, dan membentuk diri dalam komunitas.
Musik Pagi: Iringan Patriotik yang Menyemai Jiwa Bangsa
Di balik langkah teratur itu, mengalun musik patriotik yang menggugah semangat. Para santri pun bersenandung pelan—“ngahariring”—mengikuti irama yang menyatu dengan langkah kaki mereka. Ini bukan sekadar lagu, tapi narasi tentang tanah air, tentang cinta yang tumbuh dari disiplin dan keteraturan. Suasana menjadi hidup, penuh gairah, sekaligus tenang.
Howard Gardner menyebut kecerdasan musikal sebagai salah satu bentuk intelegensi manusia yang penting untuk membentuk kepribadian dan menanamkan nilai. Musik dalam tradisi matsna matsna bukan sekadar hiburan, melainkan alat transformasi yang menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara bersamaan.
Dengan lagu-lagu kebangsaan yang mengiringi setiap pagi, para santri tidak hanya belajar mencintai tanah air secara verbal, tapi meresapinya lewat lirik, ritme, dan gerak. Pendidikan di Al-Zaytun benar-benar menjadi medan pembentukan manusia seutuhnya—yang kuat secara intelektual, matang dalam emosi, dan kokoh dalam nilai kebangsaan.
Sebagaimana nasihat Imam Al-Ghazali,
> “Didiklah anak-anakmu untuk zaman mereka, bukan zamanmu. Karena mereka akan hidup di masa depan yang engkau tak tahu.”
Tradisi ini adalah warisan masa depan yang sedang dirawat hari ini.
Epilog: Melangkah Bersama, Menuju Amanah Peradaban
Tradisi matsna matsna adalah lebih dari sekadar jalan kaki menuju kelas. Ia adalah jalan menuju kedewasaan. Ia adalah tarbiyah sunyi yang mengajarkan banyak hal: tentang kedisiplinan, kepemimpinan, kebersamaan, dan cinta tanah air. Di balik setiap langkah, ada nilai yang tertanam. Di balik setiap nyanyian, ada semangat yang bangkit.
Langkah kaki para santri itu adalah simbol kebangkitan peradaban—tertib, damai, dan penuh semangat. Mereka adalah tunas-tunas harapan bangsa yang akan membawa nilai dari halaman Al-Zaytun ke panggung dunia. Dalam barisan rapi itu, kita melihat masa depan: pemimpin-pemimpin yang tidak hanya cerdas, tapi berakhlak, berjiwa sosial, dan mencintai negerinya dengan tulus.
Semoga dari langkah kecil ini, lahir langkah-langkah besar untuk umat dan bangsa. Karena sejatinya, membangun peradaban dimulai dari hal sederhana, yang dilakukan dengan cinta, disiplin, dan kesungguhan—seperti matsna matsna setiap pagi di Al-Zaytun.**
Indramayu, 2 Juli 2025
—
![]()
