Jasa Baik Yang Tergulung Dalam Sikap Dan Sifat Narsistik
Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas
Menurut para psikolog, narsisistik itu bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Mulai dari pengalaman masa kecil yang buruk. Kursngnya kasih sayang atau karena pujian yang acap berlebihan dapat juga menjadi penyebab “penyakit” narsistik yang akut bahkan bisa sangat memalukan.
Kecuali itu, lingkungan pun yang terlalu kompetitif atau pujian yang berlebihan setidaknya bisa memperkuat sikap dansifat narsistik. Begitu juga dengan kurangnya empati — dalam arti ketidakmampuan memahami sensitivitas perasaan orang lain dapat membuat orang tersebut lebih fokus pada dirinya sendiri.
Yang gawat adalah, sikap dan sifat narsistik berasal dari genetik. Seperti dari berbagai hasil penelitian menyebut bahwa narsisme bis memiliki komponen genetik.
Namun dalam kasus lain, akibat dari pola asuh yang terlalu permisif atau terlalu protektif juga dapat membentuk sifat dan sikap narsistik. Meski begitu, pada umumnya narsisme dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti muncul dari dasar kepribadian bawaan yang cenderung mengarah dan membuka peluang untuk percaya diri berlebih yang dibawa dari lingkungan keluarga atau teman-teman sepergaulan yang begitu lama dan intensif membangun sifat dan sikap yang mengarah pada narsistik.
Jadi, ras percaya diri yang berlebihan itu dapat menjadi sumber tumbuhnya sifat dan sikap narsistik. Karena selalu ingin mendapat pujian dan pengakuan yang tidak terlalu penting untuk mengembangkan karir atau profesi pekerjaan yang cuma perlu ditandai oleh prestasi atau hasil kerja yang nyata.
Akibatnya, bagi orang yang terlalu percaya diri yang berlebihan itu, biasanya kurang memiliki kesadaran diri, atau sulit melakukan introspeksi diri agar dapat tampil lebih bersahaja dan tidak terlanjur terkesan sombong.
Sikap dan sifat percaya diri berlebih ini biasanya sangat memiliki ketergantungan pada validasi yang dari orang lain untuk mempertahankan rasa percaya dirinya dari mereka yang mungkin justru bisa memperparah sifat dan sikap narsistik yang sudah melebihi takaran umum yang dianggap patut dan pantas untuk dipertahankan semacam citra diri yang sumir.
Sikap dan sifat percaya diri yang berlebihan, tentu akan lebih berbahaya karena memiliki resiko yang lebih besar dampaknya bagi kejiwaan yang bersangkutan. Minimal, sikap dan sifat narsistik bagi seseorang dominan ditandai oleh kesulitan untuk menerima kritik atau bahkan sekedar masukan maupun usulan, kendati yang sesungguhnya usulan dan masukan itu akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Itulah sebabnya banyak sekali usulan dan pendapat yang ditolak atau bahkan disanggah ketika disampaikan, namun akhirnya digunakan juga secara diam-diam tanpa pernah hendak mengakui bahwa ide dan gagasan itu adalah usulan atau pendapat yang pernah disampaikan oleh orang lain.
Itulah akibat buruk dari ras percaya diri berlebih, sehingga engga. Mengakui dan menghargai pendapat atau usulan orang lain, meskipun pada akhirnya digunakan juga, tanpa pernah mau mangakui bahwa usulan dan gagasan itu berasal dari orang lain. Dan akibatnya yang lebih buruk, biasanya orang yang memiliki sifat dan sikap narsistik, tidak pernah mau memberi pengakuan dan pujian bagi orang lain. Apalagi hendak memberi ucapan terima kasih atas usulan atau pendapat yang telah dia gunakan itu untuk mewujudkan ambisi pribadinya yang telah gemerlap pencitraan tanpa pernah terbetik untuk membalas jasa yang baik dan sangat besar manfaatnya itu.*
Pecenongan, 12 Agustus 2025
—
![]()
