Orasi Kebudayaan Penyair Jalanan Seusai Nonton Persidangan Yang Lucu Seperti Pementasan Ludruk dan Seni Ketoprak

Orasi Kebudayaan Penyair Jalanan Seusai Nonton Persidangan Yang Lucu Seperti Pementasan Ludruk dan Seni Ketoprak

Oleh : Jacob Ereste

Ibarat ingin menghabisi bubur panas — seperti pertarungan politik yang sedang mendidih di Indonesia — pemerintahan Presiden Prabowo dengan segenap aparat pembantunya mulai menggerus habis musuh-musuh dalam selimut yang dinyanyikan dengan lantunan musik keroncong gaya Bengawan Solo yang ingin kembali melegenda sampai jauh seperti lantunan syair ciptaan Gesang yang diaransir model terbaru yang sedang kembali menggema di seantero Nusantara.

Gaya menghabisi bubir panas yang dilakukan dari tepi pinggiran mangkok besar yang mewadahi pernik menik bubur panas ini mulai diciduk pada bagian inti yang pasti harus tuntas dihabiskan agar tidak menyisakan kotoran di mangkok besar dari pusat bubur panas yang sudah diperkirakan sejak semula akan menggelegak memberi reaksi balik untuk membuat melepuh bagian tubuh yang tidak memiliki daya tahan kuat, atau setidaknya dapat menangkal panas yang menggelegak agar tidak sampai menimbulkan korban yang tidak berdosa. Kendati tak sedikit diantaranya yang telah korban dan sasaran tang tidak berdosa, karena memang diperlukan srmacam tumbal untuk menutupi korban berikutnya yang lebih banyak.

Bumbu penyedap palau pun sempat ditebar untuk mengelabui selera murahan agar bubur panas itu tetap mengundang selera untuk dilahap tanpa harus dicerna sebagai menu utams untuk mengalihka. perhatian guna menggamit untung, entah dalam bilangan apa saja sambil menyembunyikan ambisi dan kerakusan yang lepas kendali untuk kekuasaan serta kekayaan yang terlanjur memabukkan.

Kini sembelit mulai melilit pencernaan yang rakus tak berujung untuk memperpanjang birahi binatang liar yang menjadi topik. pembicaraan banyak orang, hingga lupa jarahan di kebun terus berlangsung oleh mereka yang tidak kalah besar membungkus ambisi kerakusan yang sama dalam cita rasa yang berbeda, meski pada dasarnya tetap sama saja.

Dera dan derita sembelit yang melilit semakin membuncah, seakan memberi pertanda bahwa karma dan azab sedang bekerja melalui proses alam yang bisa dipahami oleh para ahli alkitab sebagai sunnatillah fil’ardi yang tak mungkin terbantah, meski secara hukum bisa terus berkelit karena memang sudah menjadi bagian mainan dari para makelar untuk mendulang keuntungan dari ders dan derita siapa saja yang fapat dijajakan sebagai barang dagangan. Toh, di negeri Kanoha apa saja bisa diperjualan belikan, yang penting bukan lagi halal dan haram yang harus diusut seperti hukum yang banyak mengendap di dalam laci brankas, tapi budayanya sudah begitu yang diinginkan bersama tengkulak untuk tetap mencari keuntungan dalam situasi yang justru sedang menindih rakyat.

Inilah orasi kebudayaan penyair jalanan seusai menyaksikan persidangan yang lucu dari sejumlah hakim yang justru lebih sibuk mencari selemat dan sedikit keuntungan untuk sekedar menambah bekal pensiun yang selalu dirasakan sangat menakutkan dan mencemaskan. Sementara pertanggung jawaban yang lebih besar terlanjur dianggap lebih kecil dari ancaman hukum yang dilanggamkan seperti menabuh gamelan yang tidak lagi ada nilai dakralitasnya.


Jakarta, 5 November 2026
—–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!