Oleh : Jacob Ereste
Dalam kajian dan penelusuran Atlantika Institut Nusantara terdapat satu benang merah, spiritualitas yang bertebaran di Nusantara tidak terpusat pada pemahaman — dogma — yang kaku, tetapi melentur dalam kesadaran holistik yang memahami bahwa kehidupan adalah satu kesatuan saling terhubung — rasionalitas kosmis — yang khas spiritual masyarakat Nusantara.
Atas dasar itu, kosmologi keselarasan dalam pandangan hidup khas Nusantara seperti Tri Tangtu Tungga Buana, Memayu Hayuning Bawana , Tri Hita Karana, Sulapa Eppa hingga Tatau — strukturnya memiliki tiga dimensi dalam menjaga keseimbangan. Yaitu manusia dengan Sang Pencipta, sesama mnusia dan bersama alam jagat raya. Jadi, jelas ada dimensi transendental, sosial dan ekologis yang saling melengkapi antara yang satu dengan lainnya. Sebab begitulah pengertian dan pemahaman harmoni hidup dan kehidupan diyakini dan harus dicapai.
Ekosofi Nusantara terhadap alam sebagai entitas yang sakral tidak ada pemisahan antara yang profan dengan yang sakral dalam spiritualitas. Hingga pohon. gunung dan gua hingga lautan dan hutan bukan obyek yang bebas untuk diekploitasi, karena semua itu adalah manifestasi dari Kemuliaan dan Keagungan Tuhan serta memiliki hak untuk dihormati. Karena itu dalam agama menjaga dan merawat alam dan lingkungan diyakini sebagai bagian dari ibadah. Bahkan untuk memanfaatkan hasil alam — petani dan nelayan — selalu melakukan upacara berdo’a bahkan tak jarang memberi persembahan sebagai rasa syukur sebelum berhasil, apalagi setelah panen raya yang melimpah diperoleh. Jadi, sesaji itu — untuk laut, hutan atau bahkan bumi ketika hendak memulai bercocok tanam, dilakukan semacam secekah, seperti ketika membangun rumah atau tempat ibadah.
Sikap fleksibel dan sintetis dalam dialog budaya seperti Hindi dan Buddha, Islam serta Kriste atau ide serta pemiliran modern bisa masuk dan diterima dalam filsafat maupun spiritualitas Nusantara yang semakin kaya warna dan coraknya.Karena menyerap serta mampu mengolah semua yang masuk memperkuat kepribadian yan yg khas Nusantara tanpa kehilangan jati diri yang otentik.
Filsafat suku bangsa Nusantara menjadi kearifan berpikir, sedangkan spiritualitas Nusantara yang khas fokus untuk memahami tatanan dan hukum alam yang ada di dalam struktur masyarakat, sehingga hakikat dari keberadaan — ontologi dan epistemologi lokal terarawat melalui hibungan batin dengan Sang Mahs Pencipta.
Sebagai analogi dari filsafat Nusantara seperti seni arsitektur dari bangunan diupayajan dari semus bangunan menghadap ke gunung atau ke laut agar memiliki kekuatan tertentu yang juga diyakini akan mendatangkan keberuntungan. Sementara fungsi dari spiritualitas adalah pengguni dari segala sesuatu yang hidup di dalam bangunan tersebut. Menebarkan rasa cinta, damai dan ketenteraman hingga menyalakan pelita jiwa untuk alam dan makhluk yang ada di sekitarnya.
Ibarat suatu pedoman, filsafat menjadi peta, sedangkan spiritualitas adalah daya gerak untuk berjalan sekaligus pengusung do’a atau mantra yang memberi kekuatan yang tidak kasat mata. Behitulsh, filsafat dan spiritualitas bangsa Timur sebagai keunggulan serta kekuatan yang patut dijaga, dikembangkan untuk memperkuat kepribadian yang mampu menghadapi tantangan global dan benturan pradaban yang tak mungkin terelakkan
Banten, 31 Oktober 2026
—–
![]()
