Oleh: Ahmad Khoeri, M.Pd.
Pengelola Perpustakaan S16 | Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Perpusnas RI Lokus Indramayu
Anak adalah bagian penting dari masa depan bangsa. Di tangan generasi muda hari ini, masa depan sosial akan dibentuk. Karena itu, memastikan anak tumbuh dalam lingkungan aman, sehat, dan mendukung perkembangan adalah tanggung jawab bersama.
Namun tantangannya tidak sederhana. Perkawinan anak, kekerasan fisik maupun psikis, perundungan, paparan konten tidak sesuai usia, serta pergaulan negatif menjadi persoalan yang butuh perhatian serius.
Di tengah tantangan itu, ada warisan budaya yang bisa dihidupkan kembali sebagai upaya membangun lingkungan tumbuh kembang positif: permainan tradisional.
Perkawinan Butuh Kesiapan, Bukan Paksaan
Perkawinan bukan sekadar penyatuan dua orang, melainkan ikatan yang mengandung tanggung jawab moral, sosial, emosional, dan hukum. Makna ini menuntut kesiapan, bukan keinginan sesaat.
Seseorang perlu memiliki kematangan emosional, kemampuan komunikasi, dan pemahaman tanggung jawab keluarga. Karena itu, perkawinan anak perlu dicegah melalui pendidikan dan pendampingan.
Keputusan menikah tidak semestinya lahir karena tekanan pergaulan, ketakutan pada penilaian masyarakat, atau dorongan sesaat. Generasi muda perlu ruang untuk belajar, mengembangkan potensi, dan membangun cita-cita.
Pencegahan perkawinan anak bukan merendahkan makna perkawinan, justru penghormatan terhadap hak anak untuk tumbuh dan mempersiapkan masa depan secara layak.
Kekerasan Anak yang Tak Selalu Terlihat
Kekerasan tidak hanya fisik, tapi juga penghinaan, ancaman, perundungan, pelecehan, dan eksploitasi. Di era digital, anak menghadapi risiko manipulasi daring dan paparan konten seksual.
Perlindungan tidak cukup dengan larangan dan hukuman. Anak butuh komunikasi terbuka, perhatian konsisten, pendidikan batas pribadi, dan pemahaman cara mencari pertolongan saat tidak aman.
Ketika anak mengalami kekerasan, orang dewasa harus mendengarkan tanpa menghakimi dan memastikan keselamatan. Sekolah, keluarga, dan lembaga perlindungan anak harus bekerja sama menciptakan ruang aman.
Permainan Tradisional: Sekolah Kehidupan
Permainan tradisional adalah warisan budaya yang berkembang mengikuti kondisi geografis dan kebiasaan masyarakat. Di Indramayu kita mengenal gobak sodor, engklek, main karet, glatikan, congklak, bakiak, panjat pinang, dan pukul kendi.
Setiap permainan punya nilai: Gobak sodor mengajarkan kerja sama dan strategi. Engklek melatih keseimbangan dan kesabaran. Congklak mengembangkan berhitung dan pengambilan keputusan. Bakiak mengajarkan kekompakan kelompok.
Berbeda dengan interaksi lewat layar, permainan bersama memberi kesempatan anak berkomunikasi langsung, membaca ekspresi, bernegosiasi, dan membangun empati.
Sekolah, pemerintah desa, komunitas pemuda, dan keluarga bisa bekerja sama menyelenggarakan hari bermain tradisional atau festival budaya ramah anak.
Menjaga Anak, Merawat Budaya
Pada akhirnya, perlindungan anak dan pelestarian budaya punya titik temu: membangun kehidupan bersama yang lebih manusiawi.
Menghidupkan permainan tradisional adalah langkah sederhana menuju hubungan sosial yang lebih sehat. Namun harus berjalan beriringan dengan komitmen mencegah perkawinan anak, menghentikan kekerasan, dan menghormati hak anak.
Generasi hebat tidak dibangun melalui paksaan atau ketakutan, tetapi melalui pendidikan, perlindungan, keteladanan, dan kesempatan untuk berkembang.
Indramayu, 26 Oktober 2026
—–
![]()
