Perdamaian Yang Sejati dan Indah Tidak Diakhiri oleh Perang Akibat Mengumbar Hawa Nafsu dan Keserakahan

Perdamaian Yang Sejati dan Indah Tidak Diakhiri oleh Perang Akibat Mengumbar Hawa Nafsu dan Keserakahan

Oleh : Jacob Ereste

Penulis dalam media sosial berbasis internet cukup beragam corak dan menat serta motivasi lainnya. Ada yang cuma mau nampang doang, ada yang cuma suka membaca, ada yang serius ingin ikut membangun kesadaran pembaca agar semakin cerdas, tak cuma bergosip atau sekedar menjadi penggembira saja, bahkan ada yang penuh kesadaran untuk membangun masyarakat pembaca membentuk komunitas informal sebagai upaya mengembangkan daya nalar yang lebih baik — luas dan jauh melampaui ilmu dan pengetahuan yang belum pernah dipikirkan oleh orang kebanyakan, sehingga dapat melahirkan gagasan baru untuk ditekuni dengan sepenuhnya hati sebagai gagasan baru yang menarik dilakukan untuk tata masa depan yang lebih baik, lebih tertib dan lebih beradab.

Seperti gagasan dan gerakan kebangkitan kesadaran spiritual sebagai pilihan terbaik yang digagas dan dipelopori oleh GMRI — Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia — untuk menghadapi perilaku culas dari ketiadaan etika, pengabaian terhadap moralitas dan ambruknya akhlak mulia manusia hingga merasa enteng dan gampang melakukan tindak kejahatan — kendati dirinya justru penerima amanah untuk mencegah dan melakukan pemberantasan seperti korupsi, penyalahgunaan wewenang, khianat, culas, maling, merampas hak orang lain — karena kekuasaan ada dalam genggamannya — maka gerakan kesadaran spiritual menjadi sangat penting untuk disosialisasikan, agar lebih membumi dan lebih mensemesta sifatnya menjadi landasan perikaku bagi setiap manusia — utamanya bagi warga bangsa Indonesia yang kini tengah berada dibibir keambrukan yang sangat mengerikan.

Karena itu melalui berbagai upaya seperti yang dapat ditilik dari hasrat untuk mewarnai ragam bentuk dari sajian media sosial berbasis internet — seperti buah simalakama dari perkembangan ilmu pengetahuan melalui teknologi super modern berikut intelligence artificial, toh harus diterima karena memang tidak bisa ditolak sebagai bagian dari peradaban yang akan terus melesat ke masa depan.

Memang ada saja sosok manusia yang menyikapi bahkan menanggapi kehadiran media sosial berbasis internet dengan enteng — tidak serius — meski dari wilayah yang lain kecemasan begitu dikobarkan karena pengaruh negatif dari media sosial berbasis internet sudah terbukti membuat perilaku manusia — terutama anak-anak — berkembang secara tidak wajar. Sementara warga masyarakat dari bilik yang lain mampu mendulang banyak keuntungan, baik dengan cara yang baik-baik — halal dan sah — juga tidak sedikit yang bisa memperoleh keuntungan dengan cara yang culas, curang, menipu dan memperdaya mereka yang menjadi mangsa empuknya.

Artinya, media sosial berbasis internet bisa menjadi senjata untuk melindungi diri sekaligus menjadi alat untuk melakukan tindak kejahatan.

Oleh karena, menilik dan menelisik perilaku pengguna media sosial yang beragam macam motif dan hasratnya, cukup penting dan perlu dicermati lebih serius, agar upaya untuk ikut menekan tindak kejahatan, kebodohan dan perilaku buruk lainnya dapat dilakukan, setidaknya muatan informasi dan publikasi yang hoax sifatnya dapat ikut ditekan dengan mendesak dengan berbagai ragam bentuk dan tampilan tulisan, setidaknya dalam upaya membangun kesadaran serta rasa tanggung jawab moral dan etika sebagai anak bangsa yang ingin menyaksikan negeri tercinta dapat kembali membaik dan memiliki kepribadian luhur sebagai tauladan bagi kehidupan manusia di masa depan yang lebih beradab.

Atas dasar inilah, sikap kritis terhadap segenap kebijakan publik harus dikritisi dan disikapi dengan cermat mengenai dampak negatifnya yang tidak boleh terjadi, baik dalam skala lokal, nasional dan internasional — seperti Perang Tekuk — yang telah membuktikan dampak buruknya bagi bangsa dari belahan dunia yang lain, meskipun tidak bersentuhan langsung dengan konflik yang terjadi di Kawasan Teluk tersebut. Dan himbauan, desakan bahkan tekanan pun dapat dilakukan kepada pihak yang penuh nafsu bertikai akibat dari egosentrisitas liar yang tidak mampu dikendalikan hanya untuk merasa lebih hebat — lebih berkuasa — dari yang lain. Karena itu, peran media sosial dapat lebih dimaksimalkan untuk dan demi kemaslahatan umat manusia di bumi. Dan melakui program diplomasi spiritual global seperti yang tengah dipersiapkan GMRI — Geran Moral Rekonsiliasi Indonesia yang digagas Sri Eko Sriyanto Galgendu dan kawan-kawan — sangat diharap dapat segera diwujudkan untuk meredakan kegaduhan melalui etika, moral yang dikemas dengan sempurna dalam akhlak mulia manusia sebagai fitrah bagi manusia yang tak boleh disia-siakan

Sebab kata begawan yang bijak, kebahagiaan dari perdamaian yang indah, tidak diakhiri oleh perang dalam bentuk apapun yang cuma penuh syahwat untuk mengumbar hawa nafsu keserakahan dan ketamakan dengan cara menggagahi mereka yang lemah dan kalah.


Banten, 26 Oktober 2026
—–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!