TARLING: Antara Gitar Lan Suling, dan Melatar Lan Eling

TARLING: Antara Gitar Lan Suling, dan Melatar Lan Eling

Penulis : Wari Wicatman
Dewan Redaksi Jayanews com

Wong njaba ngartikna Tarling kuen mung musik. Gitar lan Suling. Musik rakyat pesisir sing nggo iringan dangdut, nggo ngamen, nggo hajatan.

Tapi kita wong Indramayu-Cirebon kudu ngarti, Tarling kuen ana dua lapis maknane.

1. Tarling sebagai Seni: Gitar Lan Suling

Secara seni, memang benar Tarling adalah “Gitar lan Suling”. Sejarah mencatat tahun 1930-an di Kelurahan dulu ( Desa) Kepandean, Indramayu, Alm. Mang Sakim berani bereksperimen. Gitar akustik milik orang Belanda dipadukan dengan suling bambu pesisir. Dari situ lahir irama melankolis yang khas. Sedih tapi tidak cengeng. Meratap tapi tetap jantan. Itulah jiwa pesisir.

Tokoh penting lainnya yang mempopulerkan Tarling adalah Mama Sugra , Jayana, Abdul Ajid sehingga sehingga tarling terkenal di Indramayu dan kawasan Pantura.

Carli pencipta berbagai lagu Tarling Pantura. Salah satu judul lagunya yang terkenal yaitu “Jam Siji Bengi ” yang populer pada saat itu.

Gitar mewakili modernitas, keberanian, dunia luar. Suling mewakili tradisi, angin sawah, nafas dari dalam. Ketika keduanya bertemu, lahirlah musik yang jujur. Tidak perlu orkes besar. Cukup gitar dan suling, sudah bisa bikin orang nangis eling kampung halaman.

2. Tarling sebagai Falsafah: Melatar Lan Eling.

Tapi para sepuh kita memberi makna yang lebih dalam. Tarling bukan hanya “Gitar Lan Suling”, tapi ” Melatar Lan Eling”.

Melatar artinya membuka, menggelar, menceritakan latar kehidupan. Lagu-lagu Tarling itu tidak pernah bohong. Isinya tentang wong tani gagal panen, tentang nelayan tidak melaut karena gelombang, tentang perawan yang ditinggal merantau, tentang buruh yang upahnya belum dibayar. Tarling melatarakan kenyataan hidup wong cilik apa adanya.

Eling artinya ingat. Eling kepada siapa kita, eling kepada sangkan paraning dumadi, eling kepada Gusti Allah. Hampir semua lagu Tarling klasik ujungnya adalah nasihat. Eling-eling umat, aja pada maksiat. Musiknya menghibur, tapi liriknya menuntun untuk kembali.

Jadi kalau hanya berhenti di Gitar Lan Suling, Tarling hanya akan jadi hiburan. Tapi kalau sampai ke Melatar Lan Eling, Tarling menjadi tuntunan.

Sayangnya hari ini, banyak Tarling yang hanya tinggal Gitar Lan Suling-nya saja. Panggungnya megah, lampunya kelap-kelip, tapi sudah tidak ada lagi Melatar Lan Eling-nya. Lagu tentang selingkuh, tentang pamer harta, liriknya kosong.

Padahal tugas kita sebagai wong Indramayu adalah menjaga keduanya.

Biarkan Gitar dan Suling terus berbunyi sebagai identitas seni kita. Tapi jangan pernah hilangkan Melatar Lan Eling sebagai ruh dan falsafah budayanya.

Karena tanpa gitar dan suling, Tarling kehilangan raganya.
Tanpa melatar dan eling, Tarling kehilangan jiwanya.

Salam Tarling, salam dari pesisir Indramayu.

Indramayu 25 Oktober 2026.
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!