“Elegi Cengeng Seorang Anak Susuan: Menyusu Di Bayang-Bayang Denny JA” – Kritik Untuk Tulisan Jacob Ereste Yang Terlalu Melankolis


“Elegi Cengeng Seorang Anak Susuan: Menyusu Di Bayang-Bayang Denny JA”
— Kritik Untuk Tulisan Jacob Ereste Yang Terlalu Melankolis

Oleh: Rizal Tanjung


O, Jacob Ereste…
Engkau menulis seolah dunia puisi esai akan runtuh hanya karena satu orang berpindah kursi. Denny JA memang telah menyeberang ke ruang dewan direksi, dari lorong sunyi perpuisian menuju ruang gelap saham dan migas. Namun kenapa engkau gamang seperti anak ditinggal menyusu oleh ibunya, menangis lirih dalam gendang pena yang terlalu lembek untuk sebuah genre yang kau anggap revolusioner?

Puisi esai—jika ia benar telah lahir dan menjadi dewasa—seharusnya sudah mampu berjalan sendiri, tidak terpeleset hanya karena bapak asuhnya kini duduk di kursi komisaris. Tapi engkau, Jacob, justru bergetar seperti lilin yang mencair oleh matahari pagi. Tulisanmu adalah elegi yang terlalu banyak air mata, terlalu banyak kenangan manis, seolah tak ada masa depan jika tidak ada Denny di sana.

Apakah engkau sedang menulis kritik sastra, atau sedang menulis surat cinta yang ditolak takdir?
Apakah seluruh khazanah puisi esai akan musnah karena Denny JA pindah ranjang dari sastrawan ke komisaris?

Sungguh, terlalu banyak kecemasan yang engkau jual, seolah-olah Denny JA adalah nabi terakhir dari umat puisi esai. Padahal kita tahu:

Gajah mati meninggalkan belang, penyair mati meninggalkan bait yang membakar sejarah.


Denny JA sudah menulis banyak, dan buku-bukunya akan menjadi saksi: apakah dia akan dikenang sebagai pembaharu, penyulut api, atau sekadar pebisnis yang sempat nyasar ke belantara kata. Tapi publiklah yang menilai, bukan engkau yang membingkai kecemasan seperti kuburan terbuka sebelum jenazahnya datang.

Mengapa engkau begitu cemas, Jacob?
Apakah ada udang di balik batu?
Atau engkau takut, tanpa Denny, tak ada lagi panggung, tak ada lagi anggaran untuk mimbar-mimbar puisi esai yang selama ini hidup dari pertolongan tangan besar itu?

Dalam gaya yang mirip seorang kakek memeluk album usang, engkau menyebutkan Amir Hamzah, Buya Hamka, Raja Ali Haji, bahkan Sutardji. Tapi dari semua itu, yang terdengar bukan ilham sastra, melainkan suara batin seorang pesusu setia yang kehilangan sumbernya.

Dan betapa ironis:
Engkau bicara manipulasi, tapi engkau sendiri memanipulasi kekhawatiran menjadi kultus, kekaguman menjadi kesedihan, kecemasan menjadi kultus sirik, seolah Denny adalah satu-satunya penyelamat. Engkau bicara tak pernah mengklaim, tapi seluruh tulisanmu adalah pagar tinggi yang melindungi satu nama—Denny JA—dari kritik dan sejarah yang berjalan sebagaimana mestinya: tanpa perlu permisi pada siapapun.

Jacob, Jacob…
Jika benar engkau seorang pengamat, seorang penulis yang matang, engkau harus tahu:

Sastra tak butuh penjaga gerbang, tapi pemantik makna. Puisi esai tak butuh pelindung, tapi pembaca yang jujur.


Denny JA telah memilih jalan lain—dan biarlah jalan itu dia tempuh. Kalau karya-karyanya kuat, ia akan dikenang. Kalau tidak, akan terkubur oleh waktu. Dunia sastra tidak akan mati karena satu penyair berhenti menulis—apalagi kalau dunia itu sejak awal dibangun dari jejaring kuasa, bukan dari denyut kerakyatan.

Dan satu hal lagi, Jacob…
Kecemasanmu yang mendayu itu justru tampak seperti seseorang yang takut kehilangan patron, takut kehilangan peran.

Cukuplah menulis dengan bahasa jernih. Tak perlu memelintir sejarah menjadi dongeng haru. Dunia ini sudah cukup banyak sandiwara, jangan sampai pena tua ikut bermain di panggung melankolia yang tak lucu.

Karena pada akhirnya:

Sejarah akan menulis sendiri siapa yang benar-benar penyair, dan siapa yang hanya pengelola panggungnya.
Denny JA bukan Tuhan puisi esai. Dan puisi esai bukan anak yatim piatu yang harus diratapi.

Terimalah perubahan dengan kepala tegak, bukan dengan air mata yang menetes di antara huruf-huruf yang terlalu sentimentil untuk disebut sebagai kritik sastra.

Catatan saya: Kritik sastra yang baik bukanlah ratapan, tapi cermin yang jernih. Dan Jacob, tulisanmu bukan cermin, tapi tirai basah yang ditarik oleh angin kecemasan sendiri.


——————–


Puisi Esai:
*“Anak Susuan dari Puisi Esai”*

Oleh: Rizal Tanjung


1

Di sebuah pagi yang tak terlalu terang
Jacob duduk menulis,
tangannya gemetar seperti pena tua
yang sudah lama tak menuliskan kebenaran,
hanya mengulang ratapan
tentang seseorang yang tak lagi menulis puisi
karena sibuk mengurus sumur minyak dan saham.

Oh Denny JA, katanya,
aku gundah mendalam,
karena kau kini menjauh dari altar puisi esai
menuju ruang-ruang berkemeja dan berjas
di mana kalimat puitis dikalahkan oleh angka
dan metafora diganti dengan margin laba.

Namun siapakah yang menumpahkan air mata ini
dengan terlalu berlebihan,
seperti anak susuan yang baru ditinggal
ibunya membeli gula ke warung sebelah?
Jacob—
kau bukan lagi wartawan
bukan pula penyair,
tapi penyiar kecemasan yang terlalu teatrikal
untuk dipercaya sebagai kritik sastra.


2

Lihatlah betapa lembeknya kalimatmu,
membelai Denny seolah ia nabi
yang baru saja disalib oleh jabatan,
seolah puisi esai
akan dikuburkan hidup-hidup
di belakang gedung Pertamina Hulu Energi.

Jacob,
apakah sastra semiskin itu
hingga tergantung pada satu nama saja?
Apakah genre yang kau agung-agungkan
lahir prematur dan cacat,
hingga tak bisa berjalan tanpa Denny
di belakangnya sebagai tongkat penyangga?

Kami tak butuh kultus.
Kami butuh keberanian
untuk mengatakan:
gajah mati meninggalkan belang,
penyair mati meninggalkan bait.
Jika bait Denny hidup,
ia akan tetap bernyanyi
meski tubuhnya duduk di kursi komisaris.


3

Tapi engkau, Jacob,
menulis seolah langit sastra akan runtuh
karena Denny tidak lagi menulis
status Facebook berjudul “Puisi Esai Hari Ini.”
Kau menulis seperti cucu yang kehilangan dongeng,
seperti jurnalis yang kehilangan sumber berita
dan menulis pujian demi bertahan
di sisa panggung yang semakin menyempit.

Apakah engkau takut
tak ada lagi buku antologi dibagi gratis?
Tak ada lagi seminar dengan spanduk berwajah Denny
di aula kampus yang pengap dan sepi mahasiswa?
Apakah engkau takut
kecintaanmu pada genre itu
tak cukup kuat berdiri sendiri tanpa tuannya?


4

Sastra tidak butuh penyusu.
Ia butuh pembakar.
Ia butuh pembaca yang mampu menulis ulang zaman
bukan penunggu mimbar
yang menangisi kehilangan lampu sorot.

Kau membentangkan nama-nama besar
dari Amir Hamzah ke Sutardji,
seolah ingin mengatakan bahwa engkau juga bagian dari sejarah.
Tapi maaf, Jacob,
sejarah tidak mencatat
orang yang hanya berduka—
sejarah hanya mencatat
siapa yang menulis kebenaran meski pahit,
dan siapa yang menulis pujian demi sepiring undangan.


5

Denny JA adalah sosok kontroversial,
ia punya karya,
ia punya strategi,
dan ia tahu cara mengelola panggung.
Tapi biarkan publik yang menilai
apakah ia sastrawan atau sekadar manajer narasi.
Bukan kau,
yang kini menulis seperti anak kecil
yang kehilangan kue ulang tahun.

Jacob,
jika puisi esai adalah rumah,
maka jangan jadikan dirimu karpet
yang hanya tahu rebah
dan berharap diinjak-injak oleh sejarah.

Puisi esai tidak perlu dibela dengan air mata.
Jika ia kuat,
ia akan hidup.
Jika tidak,
biarkan ia layu,
dan beri ruang bagi bunga lain tumbuh
di taman sastra yang luas ini.


6

Sebab pada akhirnya,
tulisanmu bukan kritik.
Ia elegi,
ia ratapan,
ia nostalgia yang gagal move on.
Dan sastra tidak dibangun dari nostalgia,
tapi dari darah,
tinta,
dan keberanian menyebut nama
tanpa takut kehilangan panggung.

Denny JA tak perlu dibela.
Ia sudah cukup dewasa
untuk menghadapi sejarahnya sendiri.
Dan puisi esai tak akan punah,
kecuali memang tidak pernah hidup sepenuhnya.


7

Maka aku menulis ini
sebagai alarm—
bukan untuk membangunkanmu dari tidur,
tapi untuk memberitahumu
bahwa dunia telah berganti.
Dan sastra
bukan tempat
untuk orang-orang yang terlalu cengeng
menggenggam bayangan tokoh
yang bahkan belum wafat,
tapi sudah kau tangisi seperti pahlawan gugur.

Jacob, bangunlah.
Bersihkan air matamu.
Tulis kritik, bukan kidung kehilangan.
Tulis sejarah, bukan surat cinta.
Dan biarkan puisi esai
berbicara sendiri di masa depan.
Entah ia jadi legenda,
atau hanya jadi catatan kaki.


8

Sebab pada akhirnya,
kita akan mati juga.
Dan sejarah tidak mencatat
siapa yang menangis paling keras—
tapi siapa yang menulis paling jujur
di tengah badai.


9

Dan lihatlah, Jacob,
betapa panjang ratapanmu,
mengular seperti doa-doa yang tak kunjung naik ke langit,
karena terlalu sibuk memuja satu nama
dan lupa bahwa sastra adalah hutan,
bukan pot bunga dalam ruang tamu komisaris.

Engkau berbicara tentang Wahyu Sulaiman Rendra,
tentang drama, tentang eksperimen,
tentang tahun-tahun 70-an yang telah karam
dalam nostalgia yang kau peluk seperti jubah tua.
Tapi dari semua itu—
apa yang ingin kau buktikan?
Bahwa engkau pernah ada?
Bahwa engkau juga layak dikenang
sekalipun hanya sebagai saksi
dari kepergian Denny ke ranah korporasi?

Oh, Jacob…
apa perlunya membandingkan puisi esai
dengan gurindam 12 dan Amir Hamzah?
Apakah karena engkau tak bisa menciptakan sejarah,
kau lalu meminjam nama-nama tua itu
untuk menambal kekosongan di hatimu
yang ditinggalkan oleh Denny?


10

Mari aku ajari engkau satu hal:
Sastra tidak membutuhkan rasa iba.
Ia tidak tumbuh dari air mata,
tapi dari luka dan keteguhan yang dipahat kata demi kata.
Jika puisi esai adalah kapal,
maka biarkan ia berlayar
meski nahkodanya kini duduk di ruang AC
dan menghitung saham,
bukan menghitung jumlah bait dalam sajak.

Engkau terlalu gamang, Jacob,
seolah tak tahu arah mata angin
karena kompasmu adalah nama seseorang,
bukan prinsip sastra itu sendiri.

Apakah dunia puisi tak lagi berarti
tanpa kiprah Denny JA sebagai sponsor dan patron?
Apakah genre ini lahir dari uang
dan akan mati karena saham?
Kalau begitu,
ia bukan puisi,
tapi proyek.


11

Aku pernah membaca puisimu, Jacob,
tapi sayangnya—
yang kini kau tulis bukanlah puisi,
bukan juga esai.
Ia hanya satu jenis baru:
ratapan bernada kultus,
yang lebih cocok dibacakan di mimbar doa tujuh hari
ketika seorang tokoh pergi dari panggung
meski belum mati.

Di sana, di baris-barismu,
aku membaca kesedihan yang pura-pura luhur,
yang sesungguhnya adalah ketakutan kehilangan napas
yang selama ini kau hirup dari paru-paru orang lain.


12

Jacob, izinkan aku menutup bagian ini
dengan satu perumpamaan:

Jika Denny adalah pohon,
dan puisi esai adalah buahnya,
maka engkau bukan tukang kebun,
bukan pemetik,
bukan pula pencatat silsilah.
Engkau hanyalah burung
yang selama ini bersiul di dahannya,
dan kini, ketika pohon itu berpindah,
kau jatuh,
menggigil,
dan menuduh seluruh hutan telah musnah.

Padahal hutan tetap ada—
dan banyak pohon tumbuh dari akar lain.


13

Lalu, apa yang akan kau wariskan, Jacob?
Ratapan panjang dalam bentuk paragraf
yang menghibur dirimu sendiri?
Atau ketakutan bahwa tak ada lagi tempat
untuk menempelkan pujian
yang selama ini kau tuliskan
dengan tinta yang disponsori?

Tanyalah dirimu dalam cermin:
apa yang sebenarnya kau bela?
Puisi esai?
Atau rasa takutmu sendiri
karena Denny tak lagi ada di depan barisan?


14

Kami tidak ingin melihat puisi esai dikerdilkan
menjadi proyek personal.
Kami ingin ia tumbuh seperti pohon,
dengan daun-daunnya sendiri,
akar-akarnya sendiri,
dan cahaya dari matahari publik
bukan dari lampu sorot satu tokoh.

Jika kau mencintai genre ini,
biarkan ia diuji oleh waktu.
Bukan oleh jabatan orang yang mendirikannya,
tapi oleh nyala kata-kata yang tak pernah padam
meski sumber dananya telah beralih ke kilang minyak.


15

Dan akhirnya, Jacob,
aku mengerti:
tulisanmu bukan sekadar cengeng,
ia adalah pertanda zaman—
zaman di mana kritik diganti kultus,
di mana penulis tak lagi percaya pada karya,
tapi pada patron yang membiayai mimbar.

Tapi tidak semua dari kami
menyusu dari nama besar.
Sebagian dari kami masih haus akan kebenaran
dan percaya bahwa puisi
lebih abadi daripada posisi komisaris.


16

Biarlah Denny JA menjalani takdirnya,
karena setiap orang punya jalannya sendiri.
Biarlah publik membaca karyanya
dan menentukan:
apakah ia pahlawan atau pebisnis sastra.

Dan kau, Jacob,
berhentilah menangis seperti anak susuan.
Karena di dunia sastra—
yang tumbuh bukan air mata,
tapi api.

Dan kami—
yang percaya pada puisi,
tak akan pernah takut kehilangan satu nama,
karena kami tahu:
karya yang baik tak butuh penjaga.
Ia akan hidup sendiri.


17

Maka lanjutkanlah, Jacob,
jika kau ingin terus menulis elegi
bagi seorang yang belum wafat—
teruskanlah sampai tinta sesal itu habis,
sampai seluruh halaman dipenuhi
oleh pujian yang mendekati pemujaan,
dan kritik yang kau bungkus
dengan selembar kabut sentimental.

Tapi izinkan aku bertanya,
di tengah lirih doamu itu,
apa yang sebenarnya kau takutkan?
Bahwa tanpa Denny,
puisi esai hanya menjadi esai tanpa puisi?
Atau bahwa tak akan ada lagi
acara peluncuran buku
yang membawa namamu sebagai pembaca pengantar?


18

Kau menulis panjang lebar
tentang sastrawan besar,
tentang bangsawan kata
yang kau sandingkan diam-diam
dengan nama Denny JA—
seolah-olah sejarah puisi
berjalan dari Raja Ali Haji
lalu Denny JA,
dengan dirimu di tengah-tengahnya
sebagai juru tafsir yang ditinggal kitab.

Jacob,
jangan kecilkan sejarah sastra Indonesia
hanya menjadi tiga titik itu.
Jangan jadikan dunia puisi
sebagai panggung pribadi
yang kini kau sapu dengan tangis.


19

Puisi esai, jika ia besar,
maka ia akan berdiri dengan atau tanpa bapak angkatnya.
Sebab puisi,
tak pernah tumbuh dari kursi komisaris,
tapi dari kesunyian,
dari amarah sosial,
dari gelisah yang ditulis tanpa kontrak atau proyek.

Kau menyebut kritik itu sirik,
tapi justru tulisamu yang tampak panik
karena kritik itu datang tak bisa dibendung,
dan ketakutanmu
terhadap masa depan puisi esai
sebenarnya adalah ketakutan
karena kau tak lagi berada
di ruang yang sama dengan pengaruh.


20

Bukan puisi esai yang kau bela—
melainkan posisimu di sekelilingnya.
Kau takut kehilangan orbit,
bukan kehilangan nilai.
Karena nilai tak pernah tergantung pada orang,
tapi pada daya hidup sebuah ide.

Jika puisi esai adalah ide besar,
mengapa kau ratapi ia hanya karena Denny
menduduki jabatan baru?
Apa takut tidak ada lagi mesin yang mencetak bukumu?
Atau kau sedih karena tak ada lagi ruang
untuk mengelus ego dengan kata ‘pengasuh genre’?


21

Jacob,
sastra tak bisa kau kemas seperti undangan makan malam.
Ia liar.
Ia bebas.
Ia tumbuh di luar jadwal dan anggaran.
Dan kritik bukan ancaman,
kecuali bagi mereka yang terbiasa hidup dari anggukan.

Lihatlah penyair-penyair besar—
mereka dibantah, dikritik,
bahkan dibakar di tengah zaman,
tapi tak satu pun dari mereka
mencari pelindung dalam jabatan kekuasaan.


22

Apakah engkau lupa, Jacob,
bahwa puisi itu pekerjaan sunyi?
Bahwa kesunyian tak butuh struktur komisaris
atau panitia peluncuran antologi?
Bahwa kekuatan puisi
bukan pada pamflet dan media massa,
tapi pada kalimat yang mengguncang jiwa
tanpa perlu diberi tepuk tangan?

Engkau bicara tentang moral,
tentang kecemasan dan spiritual,
tapi tulisanmu memuja lebih dari menyadarkan.
Engkau bicara tentang pengorbanan Denny,
padahal di dalamnya
ada aroma kompensasi
yang terlalu kentara untuk disebut murni.


23

Jacob,
jika esok Denny JA benar-benar berhenti menulis,
maka biarkanlah puisi esai berjalan sendiri,
atau rebah sebagai kerangka wacana yang gagal.
Bukan karena pengasuhnya berpaling,
tapi karena ia lahir dari kontruksi ide yang cacat.

Tapi jika ia benar dan tulus sebagai bentuk puisi baru,
ia akan beranak-pinak dari pemuda-pemudi
yang menulis dari keresahan,
bukan dari mimbar perayaan.


24

Akhirnya, Jacob,
aku menulis ini bukan untuk menyerang,
tapi untuk mengingatkan:
bahwa engkau terlalu banyak bersandar pada satu nama
dan lupa bahwa dunia puisi lebih luas dari meja rapat
dan lebih dalam dari air mata para pengabdi.

Engkau menulis dengan hati yang pilu,
tapi sastra tak butuh belas kasihan—
ia butuh keberanian.
Dan jika keberanian itu tak kau punya,
maka jangan salahkan siapa pun
ketika puisi esai tumbuh tanpa dirimu,
dan sejarah berjalan
tanpa mencatat ratapan panjangmu.

Karena sastra yang besar,
tak akan berhenti
hanya karena satu orang pergi.
Dan penyair sejati,
tak pernah tinggal di bayang-bayang kekuasaan,
tapi di cahaya kebenaran.**


Sumatera Barat,13 Juli 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!