Oleh : Jacob Ereste
Suku bangsa Lampung dalam kategorisasi para ahli kepurbakalaan masuk dalam gelombang ke-3, yaitu Deutro Melayu dan terbilang suku bangsa yang paling tua dalam pencabangannya. Setelah gelombang pertama — Negrito Australomelsnesia sekitar 60.000 tahun lalu.
Gelombang ke-2 Proto Melayu atau Melayu tua 10.000 tahun lalu. Deurto Melayu/ Melayu Muda sekitar 2.500 lalu meliputi Jawa. Sunda. Melayu, Minang, Bugis, Bali dan Lampung. Tapi bagi para ahli linguistik, Prof. Isidore Dyen dan Nothofer, bahasa Lampung adalah cabang paling pertama yang memusahkan diri dari rumpun Melayu Induk. Jadi, sebelum bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Minang pecah, Lampung sudah memisahkan diri terlebih dari rumpunnya yang lain.
Dalam catatan berikutnya, bahasa Lampung masih dalam satu rumpun dengan Komering dan Kayu Agung. Agaknya, dari sinilah Lampung tak hanya pasih dan pandai dalam berpantun serta memiliki sksara yang khas dalam bahasa Lampung. Karena itu, untuk menelisik tradisi dan budaya suku bangsa Lampung akan lebih membuka penjelajahan yang kebih luas dan akan meliputi segenap segi tradisi dan budayanya. Sebab dalam perspektif budaya, Lampung yang memiliki bahasa dan aksara cukup meyakinkan bahea suku bangsa Lampung memiliki petadaban yang tinggi, seperti yang ditandai oleh aksaranya yang khas, tidak dimiliki oleh semua suku bangsa yang ada di Nusantara.
Dari seluruh suku bangsa yang ada di Nusantara, ada 20 aksara daerah yang masih hidup dan diakui ole negara. Diantaranya adalah aksara Jawa (Hanacaraha), Aksara Bali, aksara Sunda (Kaganga Subda Baku), aksara Batak (Surat Batak), aksara Bugis Makasar (Lontara), aksara Lanpung (Ka Ga Nga/ Had Lampung), aksara Rejang (Kaganga), aksara Jawi/Pegon Melayu, Minang, Jawa, Banjar (hutlruf Araf yang dimodifikasikan untuk bahasa daerah.
Aksara yang sudah mulai langka, tapi sudah mulai direvatilisasi, yaitu aksara Sasak, (Jejawan) — Suku Sasak Lombok mirif aksara Bali dan Jawa. Aksara Bima (Mbojo) Suku Bima, Sumbawa, aksara Sumbawa ( Satera Jontal), aksara Lontara Bilang-bilang varian Lontara Makassar, aksara Incung/ Rencong Suku Kerinci, Jambi dan Sumatra Barat, aksara Ogan Komering, Daya Sumatra Selatan masih serumpun dengan aksara Lampung (Ka Ga Nga), aksara Makassar Kuno (Jangan-jangan)/ Ukiri Suku Makassar, leluhur Lontara, dan aksara Kawi sebagai induk dari semua aksara yang sudah disebut seperti di atas.
Lalu ada juga aksara Melesung (Minahasa) Sulawesi Utara, aksara Mangondow , aksara Lota Ende, Flores. Jadi dari 700 bahasa daerah yang ada di Nusantara hanya ada sekitar 20 suku bangsa Nusantara yang nemiliki aksara, selebihnya menggunakan huruf latin.
Sejak lama sudah pemerintah melalui Badan Bahasa mendorong semua aksara yang dimiliki oleh suku bangsa Nusantara — yang kini telah bersatu dalam bahasa dan bangsa Indonesia sejak merderka pada 17 Agustus 1945, ingin dimasukkan dalam Unicode dan hendak diajarkan kembali di sekolah. Masalanya kapan dimulai, bagaimana twmeknis pelaksanaannya, belum juga dilakukan. Kendala utamanya mungkin ketiadaan tenaga pengajar yang bisa melakukannya.
Apalagi kemudian bisa diselaraskan dengan pantun khas daerah — seperti yang ada di Lampung ketika pesta adat perkawinan atau hajatan besar lainnya — ada tradisi cangget, ngedio, miyeh damar dan sebagainya dalam upaya melestarikan budaya daerah yang nempunyai nilai sastra dan pengajaran tentang etika dan moral dalam tata masyarajat setempat. Bahkan dalam budaya meminang pengantin — yang tak hendak menerapkan tradisi kawin lari — akan tercermin kecerdasan masing-masing pihak dalam acara meminang itu yang akan sepenuhnya menggunakan tutur san kata dalam seni berpantun. Sehingga tidak ada pernyataan atau ungkaoan yang fukgar apalagi terkesan kasar. Jadi untuk menilik budaya suku bangsa Lampung, pasti ajan lebih komprehensif melalui bahasa, aksara dan beragam pantun yang disampaikan dalam berbagai acara dan upacara adat yang sungguh memukau dan menakjubkan tata dan nilai tutur katabya yang indah, bagkan acap tidak pernah bisa diduga sebelumnya.
Referensi dalam paparan ini lebih menitik beratkan pada Lampung Pepadun, tidak mampu mengacu pada Lampung Saibatin (Peminggir). Karena penulis lebih akrab dengan Abung Siwo Migo : Buay Nunyai, Buay Unyi, Buay Nuban, Buay Subing, Buay Beliuk, Buay Kunang, Buay Selagai, Buay Anak Tuha dan Buay Nyerupa.
Banten, 24 Oktober 2026
——-
![]()
