Diskusi di Sela-Sela Rak Buku
INDRAMAYU-JAYANEWS.COM – Acara “Jumpa Penyair” yang digelar Komunitas Nyastra berlangsung di dalam Toko Buku Gramedia, Mall Indramayu Lantai 3, Sabtu (24/10/2026) sore. Menghadirkan penyair Supali Kasim dengan buku kumpulan puisi terbarunya “Memanen Ilalang Puisi”.
Minanto dari Komunitas Nyastra menyebutkan perlunya komunitas dekat dengan buku. Sehingga acara pun digelar di dalam toko buku.
“Ke depan bisa tema sastra yang lain, bisa novel, cerpen, ataupun esai. Atau juga pameran lukisan,” ujarnya.
Acara tersebut dihadiri beberapa penyair, cerpenis, novelis, maupun seniman teater, musik, dan seni rupa, serta guru-guru. Supali Kasim menyebutkan puisi-puisi yang terkumpul dalam buku antologinya berjumlah 94 puisi. Puisi-puisi tersebut sebelumnya pernah dimuat pada tahun 2026 ini di media massa cetak seperti Kompas, Pikiran Rakyat, beberapa majalah, maupun media massa daring.
KONSISTENSI KARYA
Alfien Fajrul selaku moderator menyatakan konsistensi Supali Kasim terlihat pada karya-karyanya selama ini. Bukan hanya berbentuk puisi, tetapi juga cerpen, novel, maupun esai. Juga buku-buku berbentuk kajian seni, bahasa, sejarah, dan budaya.
“Kali ini kumpulan puisinya diketengahkan menjadi buku, setelah dimuat di media massa,” ujarnya.
Acara berlanjut dengan tanya jawab antara penyair Supali Kasim dengan peserta yang hadir di sela-sela rak buku.
“Saya tertarik pada puisi-puisi bertema religi, seperti Masjid Kayu Bondan, Petilasan Geusan Ulun, Makam Aria Dilah, dan sebagainya. Bagi saya, Supali Kasim terpikir sampai ke sana, ke tempat-tempat di Indramayu dengan masa lalunya yang dihubungkan dengan aspek keagamaan. Apakah yang melatari?” tanya penyair Abdul Aziz.
Penyair M. Devana Fakhrizal menyambut baik jumpa penyair ini, karena bagi anak muda hal itu bisa menambah wawasan.
“Pertanyaan saya, bagaimana mencari ide, dan diksi untuk puisi yang berkualitas?” ujarnya.
Cerpenis Uus Hasanah menanyakan tentang waktu yang tepat untuk berproses. Seorang santri yang juga gemar menulis dari Pasekan, Surya, meminta tips tentang puisi yang ketika selesai diciptakan, kemudian dibaca dan dipahami orang lain.
Aktor teater Candra N. Pengaran menanyakan apakah dalam proses pembuatan puisi juga memikirkan tentang pilihan kata dan tipografi yang enak untuk dibaca.
“Mengenai waktu atau proses menulis, saya menyaksikan sendiri proses yang dilakukan Supali Kasim, yakni ketika satu kamar dalam penginapan. Sekitar jam 2 malam ia sudah ada di depan laptop untuk menulis, sampai Subuh. Ini bisa jadi merupakan tanda bahwa penyair atau penulis itu juga bekerja keras dan memanfaatkan waktu,” ungkap penyair Faris Al Faisal.
Cerpenis Saptaguna menyebutkan sekarang ini sulit membedakan seniman atau penulis yang serius dan produktif dengan sebaliknya jika dilihat dari tampilan fisik.
MENYEMARAKKAN INDRAMAYU
Tampak hadir antara lain novelis Agung Djoyo, pelukis Affin Riyanto, pelukis Yopi Hendiana, aktivis cagar budaya Nang Sadewo, pengasuh pontren Yudi K., dan lainnya.
Supali Kasim memaparkan pada buku tersebut terdapat beberapa tema, bukan hanya religi. Tentang ide puisi bisa diperoleh dari referensi buku, pengalaman, ataupun ke tempatnya. Ada riset di situ untuk menggabungkan pemikiran dan perasaan.
“Waktu yang tepat untuk proses memang relatif. Saya suka jam dua malam karena sepi. Tapi ada kalanya juga siang atau sore. Sebab menulis puisi juga tidak sekali jadi. Tapi proses penyuntingannya bisa berkali-kali,” ujar Supali Kasim.
“Mengenai puisi yang enak dibaca, bagi saya iya. Karena prosesnya juga ada pembacaan. Termasuk juga dalam pemilihan diksi dan bentuk tipografi. Dalam hal tipografi ada maknanya, tidak sekadar saja,” tuturnya.
Manager Toko Buku Gramedia, Iqbal, menyambut baik acara jumpa penulis.
“Semoga bisa berlanjut dengan agenda yang lain, sehingga kami bisa ikut menyemarakkan Indramayu dalam kegiatan sastra maupun seni lainnya,” ungkapnya.
Narasumber : Supali Kasim
Editor : Nuryaji
—-
Catatan Redaksi:
Buku “Memanen Ilalang Puisi” ini selanjutnya akan dibedah dalam BULAN BAHASA UDM KAPLONGAN NOVEMBER 2026 dengan keynote speaker Dr. Tobroni (Rektor UDM) dan narasumber Acep Zam Zam (Tasikmalaya), Adlan Daie (Ketua Forum Sastra Indramayu 1993 / pemberi kata pengantar), serta Dosen Bahasa UDM.
++++
![]()
