Oleh : Jacob Ereste
Pendidikan yang mengarah pada kecerdasan olah pikir, memang akan menghasilkan manusia yang pintar atau bahkan jenius. Sedangkan pendidikan yang diorientasikan pada keahlian, dapat membangun keterampilan. Sedangkan pendidikan yang menekankan pada kesadaran, perenungan akan membuka pintu hati dan mempertinggi getaran batin. Masalah yang terakhir inilah yang terabaikan untuk peserta didik — pada tingkat apapun — sehingga karakter manusia yang harus dibangun melalui budi pekerti, etika, moral dan akhlak mulia manusia — jadi kosong. Karena yang dikejar adalah keahlian dan keterampilan, dan dalam seleksi untuk diterima pada suatu bidang pekerjaan pun, karakter, sikap dan sifat cenderung dianggap tidak perlu dan tidak penting, sebab yang diutamakan adalah kemampuan serta keahlian semata. Apalagi untuk bidang pendidikan kejuruan yang bersifat khusus di luar bidang budaya, psikologi serta keagamaan yang terkait erat dengan karakter serta kepribadian yang terpaut dengan rohani, batin dan masalah kejiwaan.
Akibatnya, masalah etika, tata krama, budaya hingga kemampuan menjalin kontak — merespon hubungan dengan pihak lain — sangat lemah, atau bahkan buruk dan rendah. Akibat lanjutannya menjadi masalah dalam membangun daya nalar yang kreatif, inovatif dan inventif dalam tata pergaulan untuk memperoleh wawasan dan perluasan daya pandang dalam perspektif sosial dan budaya untuk menandai karakter dan kepribadian yang khas dimiliki sebagai makhluk sosial yang hidup normal dalam masyarakat.
Peserta terdidik
yang suntuk mempelajari ilmu tertentu saja memang akan lebih efektif mendalami dan menguasai ilmu pilihan tersebut — terutama ilmu non humaniora — ilmu dan pengetahuan untuk memahami manusia oleh manusia demi kemanusiaan. Sehingga manusia dapat dipahami dan disadari sebagai subyek bulan obyek. Jadi berbeda dengan sains yang memperdalami cara kerja, tapi humaniora mempertakan guna dan manfaatnya bagi dirinya dsn manusia lainnya. Itulah sebabnya agama meyakinkan bahwa manusia yang baik itu dapat memberi banyak manfaat bagi manusia lainnya. bukan sekedar untuk dirinya sendiri. sendiri.
Ilmu ekonomi hanya berhitung tentang untung dan rugi. Ilmu politik cuma mencapai posisi puncak dan kedudukan tertentu. Ilmu teknik hanya membangun atau memperbaiki barang, mesin atau bangunan yang rusak. Tetapi semua bidang ilmu kejuruan itu tidak mempertanyakan guna dan manfaatnya bagi manusia dan kemanusiaan. Sehingga nilai-nilai kemanusiaan hanya menjadi sampiran belaka tidak terlalu penting untuk diketahui nilai filsafat, seni, sastra, budaya dan keindahannya yang tidak cuma sekedar membanggakan, tapi juga membahagiakan batin — jiwa — manusia yang nyaman, damai dan tenteram.
Karena itu dalam arus deras informasi dan komunikasi serta teknologi yang semakin cepat melesat mencari bentuk kepuasan manusia untuk lebih unggul akibat persaingan serta tekanan untuk memperoleh hal-hal yang dirasa belum cukup dimiliki — atau bahkan untuk dikuasai — gairah memasuki arena pertarungan bebas — semakin liar ingin dilakukan. Toh, pada realitasnya banyak orang percaya bahwa hidup ini yang cuma sekali ini sesungguhnya adalah pertaruhan yang harus berani dan bernyali menanggung semua resiko, enak atau sama sekali tidak enak, susah dan menderita karena tidak memiliki apa-apa, terutama finansial bukan nilai-nilai spiritual.
Padahal, untuk memiliki nilai-nilai spiritual — yang mempersyaratkan, etika yang mengakar pada tradisi dan budaya serta hukum adat dan hukum negara — akan sangat menentukan moralitas yang terbingkai dalam akhlak mulia manusia. Sehingga sikap jujur, taat aturan serta sifat ikhlas menerima segala yang ada dan sudah dapat diperoleh akan selalu disyukuri sebagai nikmat dari Tuhan melalui ikhtiar yang kita lakukan dengan senang gembira, tanpa mengartikannya sebagai tekanan hidup yang harus dijalani dengan sepenuh hati, sebagai bagian dari bentuk ibadah.
Dari realitas semacam itu, tidak heran produk yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan kita cukup banyak melahirkan manusia yang cerdas dalam arti intelektual, tapi kering dan kerontang memiliki muatan spiritual. Akibatnya, etika jeblok, moral bobrok hingga akhlak kemuliaan manusia sebagai ciptaan Tuhan, melahirkan banyak koruptor, maling, penipu, pembual pengkhianat, menjilat manusia munafik seperti yang semakin banyak mengepung diri kita.
Banten, 26 September 2026
—–
![]()
