KARTO GLINDING BERKISAH MASA PENSIUNNYA SEBAGAI PENYAIR

*Karto Glinding Berkisah Masa Pensiunnya Sebagai Penyair*

Oleh : Jacob Ereste

Meski sebagai penyair, Karto Glinding sudah menyatakan pensiun, toh syair-syair khasnya yang sufistik tetap mengalir dan mengucur diantara sela-sela obrolannya yang kini menang lebih bernuansa seperti stand up komedi yang tidak kalah jenaka dan mempesona dalam setiap seloroh dan pergunjingannya yang semakin terasa asyik dan santai.

Kemiskinan dan penderitaan yang mendera kita sejak kemerdekaan diproklamirkan, tak lagi perlu dianggap serius, karena hidup ini memang begitu adanya, jika tak mampu direkayasa seperti hujan buatan yang selalu gagal dilakukan saat musim kemarau seperti upaya menolak hujan saat banjir mulai mengancam pemukiman kita.

Jadi semuanya harus mampu kita anggap gelombang pasang yang turun-naik agar laut tampak indah untuk dipandang, seraya mengajak untuk membayangkan jika lautan itu selalu tenang dan tenteram seperti pengantin baru yang sedang menikmati bulan madunya. Toh, semua akan berakhir juga, seperti masa bulan madu yang telah berlalu, sehingga kini gilirannya mengendalikan gelombang dan riak-riak pertengkaran yang pasti datang mengambil giliran.

Seperti kematian, kata Karto Glinding akan sampai juga pada saatnya ajal datang untuk kemudian disambut kehidupan mereka yang lain, seperti antrean bersin yang usai setelah semua stoknya dinyatakan habis, seakan menggambarkan peristiwa kiamat itu pasti ada pada masanya yang tak perlu dirisaukan. Sebab itu semua — termasuk diri kita — adalah utusan Tuhan. Jadi hidup kita ini seperti melakonkan sebuah adegan yang harus dilakukan, tanpa perlu sibuk memikirkan skenario hidup yang cukup dilakoni, sebab masalah hasilnya kemudian memang akan sangat tergantung pada improvisasi kita sebagai bintang yang harus memerankan peran sebagi bagian dari drama kolosal yang tidak mungkin kita lakukan sendiri.

Begitulah panggung drama ciptaan Tuhan yang menguasai jagat panggung, dan diri kita hanya satu diantara pemeran dalam drama kolosal ini sampai akhirnya cerita dinyatakan selesai, terkubur oleh sejarah yang mungkin tidak cukup baik dan tidak indah untuk dikenang. Maka itu kesadaran kesadaran seorang penyair yang suntuk dan asyik meniti jalan spiritual berkhayal bahwa dirinya selama hidup hanya ingin mengukir batu nisan untuk dirinya sendiri kelak, ketika dibaringkan okeh sahabat dan
kerabat dan keluarga di pemakaman.

Pada saat itulah sebetulnya secara difinitif status penyair benar-benar pensiun, ujar Karto Glinding dengan mimik muka serius. seakan-akan sedang meralat pernyataannya 17 tahun silam, ketika usianya sudah 55 tahun, seperti hendak mengatakan bahwa sejak saat itu dia tidak lagi mendapat insentif atau honoraria dari syair yang pernah begitu banyak yang dia buat semasa produktivitasnya berada pada puncak yang mungkin belum pernah dilampaui oleh penyair manapun. Betapa tidak, pada masa puncak produktivitasnya selama 35 tahun sebagai penyair, rata-rata bisa tiga buah syair yang bisa dia rilis untuk dilahap berbagai media di Jakarta dan di daerah, saat itu, kendati nilai honoraria untuk puisi di Indonesia jg auh dibanding dengan penghargaan yang dapat diperoleh dari media negera tetangga. **


Banten, 26 September 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!