Oleh : Adlan Daie,
Sekretaris Umum MUI kab Indramayu. Mantan Ketua Forum Sastra Indramayu (FSI – 1993).
Ketika Supali Kasim, sahabat saya yang penyair, budayawan yang tekun di jalan “sunyi” kebudayaan meminta saya untuk memberi pengantar atas buku kumpulan puisi puisinya berjudul “Memanen Ilalang Puisi”, sebuah buku berisi 100 puisi.
Saya teringat “Catatan Pinggir” Goenawan Muhammad di Majalah “Tempo”, ia menulis tentang
Joseph Brodsky, Penyair Rusia, Peraih Nobel Sastra tahun 1987 – dan saya telah lama mengutipnya dalam pengantar buku kumpulan puisi “Kiser Pesisiran” (1993).
Puisi bagi Brodsky adalah “beyond of”, sebuah kekuatan yang melampaui angka, etnografi dan statistik – bahkan kumpulan angka angka hasil survey. Angka tidak selalu mampu menjelaskan bagaimana rasanya kehilangan, bagaimana letih menindih batin, bagaimana luka sosial dipotret dalam sejuta rasa.
Di sinilah puisi hadir mengambil alih ruang. Ia masuk ke ruangan terdalam yang tidak bisa dijelaskan oleh deret tabel tabel statistik. Puisi adalah pengalaman pribadi penyair yang memperoleh kemungkinan menjadi ingatan bersama.
Itulah “beyond of”, setidaknya dalam bacaan emosional saya – sesuatu yang “ngeh” dibalik kekuatan puisi. Joseph S. Nye menyebutnya “Soft Power”- kekuatan yang lirih, tidak meledak ledak.
Karena itu, dalam perspektif “ideologi puisi”, saya menyebut buku kumpulan puisi ini bukan sekedar Antologi puisi, bukan tentang arsip sastra. Ia adalah arsip kepingan kepingan perasaan, dokumentasi tentang sebuah pengalaman personal.
Saya sedikit masuk mengutip bagian bait bait puisi Supali Kasim yang dimuat dalam buku ini. Puisi berjudul :
*”Jalan Menuju Puisi”*
puisi kemudian menemukan jalannya sendiri
kata kata bahkan seringkali tak terkendali
dan aku kembali bertani
suara suara menunut diksi lebih berdaya
tapi penaku sudah cangkul
lebih terayun membolak balik tanah
meninggalkan hari hari
perburuan majas, Rima atau irama
tuts tuts komputer bentangkan layar
tampilkan pranatamangsa
sejak benih benih padi itu ditancapkan
lupa sudah, apakah rasa, apakah nada
seperti tipografi yang tumbuh kemudian
baris baris hijau tanaman
-000-
Apa yang dapat kita tangkap dari kekuatan “beyond of’, sebuah “soft power” dari kutipan bait bait puisi Supali Kasim di atas ?
Dalam imaji estetik saya, bait bait puisi di atas sangat “datar”, tidak “canggih” dalam pilihan pilihan diksi, tidak “sophisticated” dalam kalimat kalimat indah, cenderung liris, naratif dan sangat sederhana tapi ada semburat emosi nostalgik, kritis, satiris.
Kekuatan bait bait puisi di atas tidak terletak pada kecanggihan “rekayasa” untuk menjadi kumpulan kalimat kalimat indah. Persoalan sosial politik yang rumit tidak ditarik ke atas menjadi “puisi pamfliet” di mimbar podium dalam diksi diksi “megalomania politis”.
Ia justru kuat, memiliki “soft power” karena diungkapkan secara lirih dan sederhana, tidak ditarik ke atas menjadi pidato di mimbar politik melainkan “diendapkan” ke dalam pengalaman di halaman rumah, di sawah, di sudut sudut desa, dapur, tanah dan kegelisahan manusia biasa.
Bentuknya metafora naratif dengan pola ungkap sangat sederhana tapi dengan ritme dan liris yang terjaga. Ia memiliki “soft power” karena kalimat kalimat indah terlalu sering dipaksakan bertubi tubi berhamburan di media sosial mulai kehilangan “soft power”, kehilangan beban makna terdalamnya.
Itulah bacaan simplistis tapi literatif sependek daya jangkau saya atas kekuatan “beyond of”, dibalik “soft power” dalam kutipan bait bait puisi di atas – sudah tentu bacaan literatif saya atas bait bait puisi di atas tidak berangkat dari kerangka teori teori “texbooks” tentang telaah “akademik” puisi.
Itulah tafsir saya “ala kadarnya” tentang sebuah puisi bahwa puisi dalam makna instrinksinya adalah semacam diplomasi budaya yang bekerja sunyi, perlahan tapi meninggalkan jejak peradaban yang panjang tanpa “endorsment” – tanpa promosi artificial.
Tentu satu kutipan puisi di atas tidak mewakili bentuk, gaya dan keragaman “genre” puisi puisi yang dihimpun dalam buku berjudul “Memanen Ilalang Puisi”, berisi kumpulan 100 puisi.
Pilihan judul “Ilalang Puisi” dalam imaji saya sebuah metafora tentang rumput rumput “liar” berdaun tajam, seolah hendak mengirim pesan bahwa buku kumpulan puisi ini memang “liar” dalam arti beragam, tidak bisa diikat dalam satu kotak bentuk, gaya, ritme dan tema.
-000-
Buku kumpulan puisi berjudul “Memanen Ilalang Puisi” ini bukan sekedar beragam dalam bentuk, gaya dan pola ungkap tapi juga membentang jauh dalam keragaman tematik tentang kegelisahan “tarik ulur” antara keberanian mempertemukan tradisi dengan perubahan.
Ia mencintai romantisme masa lalu tetapi tidak meminta deru masa depan berhenti datang, misalnya, dalam puisi berjudul “Kebiasaan Masa Kecil”, “Dari Ayah, Kepada Anak Anaknya”, “Dari Desa, Asing Sendiri” dan “Saweran Di atas Panggung” – untuk menyebut sebagian.
Yang menarik dari puisi berjudul “Saweran Di atas Panggung” adalah ia meletakan diksi “Saweran”, sebuah ritus tradisi budaya di altar alam pedesaan ke dalam alam pikiran “modernisme” ala Rene Descartes, Filsuf Prancis, yang dijuluki “Bapak Filsafat Modern” (1597 -1650).
Jika Rene Descartes meneguhkan Postulat filsafat terkenal “Aku berfikir maka aku ada” – Supali Kasim melakukan semacam “repetisi” dalam puisi berjudul “Saweran”, ia menulis, “Aku menyawer maka aku ada”. Ini bukan sekedar permainan kata tapi sebuah gugatan atas “modernisme populism”.
Konstruksi puisi “Saweran” di atas memberi spirit bahwa “tradisi” bisa bertemu dan berdialog dengan “modernisme”, bahwa puisi bisa dibedah dalam analisis untuk kebutuhan “akademik” seperti tentang bentuk struktur kata, kalimat dan “kredo kredo” puisi lainnya tapi puisi bukan rangkaian kata yang bisa dipaksa menjadi kalimat kalimat “berbaris” kaku layaknya tentara.
Ia harus dibiarkan mengalir tanpa “definisi” ketat untuk tidak kehilangan makna “beyond 0f” dan “soft power” dibalik sejarah makna dalam proses penulisannya, ia juga bebas dibaca dalam ruang tafsir yang “unlimited”, ia bisa mengubah hati manusia ketika “nyambung” dengan suasana hati pembacanya.
Perubahan suasana hati adalah titik kick off perubahan cara pandang. Cara pandang membuka ruang dinamika relasi sosial untuk selanjutnya melahirkan perubahan sejarah. Itulah cara puisi bekerja untuk jalan peradaban – meski kurang dihargai dalam struktur sosial berkaki politik “tentara” – “sipil” tapi tidak “civilian”.
-000-
Bagi saya yang telah mengenal Supali Kasim, penyair penggubah puisi puisi ini, hampir empat puluh tahun silam, sejak bersama sama aktif dalam Forum Sastra Indramayu (FSI – 1993) – kini bertransformasi dalam bentuk Dewan Kesenian Indramayu (DKI), ia tekun dan memang “keras kepala” di jalan kebudayaan,
Kehadiran buku kumpulan puisinya adalah tanda bahwa jalan kebudayaan masih terus bertahan hidup. Jika politik hanya mengijinkan pujian dan tepuk tangan, puisi adalah jalan kebudayaan yang mengijinkan kritik memperoleh sesuatu yang lebih berharga : kesempatan memperbaiki diri.
Simaklah baris baris kritik lirih di bawah ini dari kutipan puisi Supali Kasim berjudul :
*”Jaring Jaring Makanan”*
diam diam anakku di sekolah tergabung
sebagai rantai makanan
dan ompreng itu menjadi penanda
betapa ia siklus yang menghubung rantai makanan
pada wajah wajah remaja dan tak tahu apa apa
ia adalah proses memakan dan dimakan
Kritik Supali Kasim atas program bombastis “Makan Bergizi Gratis” dengan diksi “manipulatif” dalam label “gratis” adalah kritik keras dan menusuk, seolah olah rakyat adalah “hamba sahaya” bagi para tuan tuan elite politik, hanya berharga untuk menunggu dikasihani
Sayangnya, puisi puisi lirih sebagaimana dulu menjadi kekuatan lirik puisi puisi Sapardi Djokodamono di era media sosial saat ini hampir pasti “dibantai” oleh narasi narasi “artificial” – untuk tidak menyebut tumpukan “sampah kata kata” yang berserakan dalam beragam aplikasi media sosial.
Inilah era kita saat ini ketika teknologi dengan beragam aplikasi media sosial membuat kita semakin terhubung tetapi identitas dan jati diri kita makin rapuh.
Maka puisi – sastra harus dihadirkan sebagai pengingat – meskipun hanya “minoritas” dalam spektrum kehidupan politik kita yang makin cenderung militeristik – sekali lagi – walau wajah “lahiriyahnya” tampak “sipil”.
Jika sastra dan puisi menyerah “mati” sebagai suluh jalan kebudayaan bangsa dan politik sepenuhnya “panglima” maka ekosistem sosial kita tak bisa dicegah lagi hanyalah “kebohongan yang dipaksakan untuk dicintai rakyatnya” – mengutip George Orwell.
Di atas segalanya, tentu saya sepenuhnya menyadari bahwa pengantar singkat ini bukan sebuah analisis dengan kekayaan khazanah referensial tentang teori teori sastra dan puisi untuk bisa disebut “kritikus sastra”.
Saya hanyalah penikmat sastra, mengutip Gus Dur, sebagai jalan “eskapisme”, jalan menghindar dari kepahitan hidup dengan cara “bermutu”. Maka terimalah dengan segala “kekurangannya”. **
Indramayu, 17 September 2026
Wassalam.
—–
![]()
