Oleh : Jacob Ereste
Kecerdasan spiritual itu adalah kemampuan melihat dan memahami pertanda dari langit dalam bentuk ayat dan surat yang tertulis hingga yang tidak tertulis untuk dibaca dan dipahami sebagai bukti dari keberadaan dan kekuasaan Tuhan yang sedemikian dekat dengan diri setiap manusia. Meski begitu, Tuhan hanya satu, tiada ada duanya kendati dalam berbagai keyakinan dan kepercayaan dari setiap manusia dapat diasosiasikan dalam pemahaman keyakinannya yang personal.
Apalagi hanya sekedar bencana alam yang sudah acap berulang, sehingga manusia yang cerdas tidak hanya dalam wujud intelektual, tapi juga spiritual mampu mengantisipasi kejadian bencana sebelum terjadi, kendati berada di luar kemampuan manusia untuk mencegahnya. Tapi yang pasti untuk memahami gejala bencana yang akan terjadi kemudian dapat dibaca, diketahui untuk diantisipasi agar dapat memperkecil dampaknya dari bencana alam tersebut. Itulah yang dimaksud dari ayat-ayat bumi yang diisyaratkan dari langit, seperti gejala penyakit yang akan muncul dari dalam tubuh setiap manusia — yang merupakan ayat-ayat diri yang juga berada di luar otoritas kekuasaan manusia itu sendiri terhadap tubuh dan dirinya sendiri.
Dari kesadaran dan pemahaman serupa inilah keyakinan terhadap keberadaan dan kekuasaan Tuhan sungguh tidak terbatas dan tidak terbantah. Apalagi ketika penyakit itu mulai mendera — seperti proses usia yang menua termakan jaman — hingga kemudian tidak lagi berdaya kecuali pasrah menanti kematian yang tidak mungkin lagi dapat ditunda, ketika ajal menjemput bersama malaikat pencabut nyawa.
Begitu juga sebaliknya — ketika kuasa Tuhan menghendaki — tiada seorang pun mampu mencerna malapetaka yang maha dahsyat itu agat tidak membuat celaka atau
mematikan yang bersangkutan, karena mukjizat Tuhan sungguh tidak terjangkau oleh akal manusia yang sungguh sangat terbatas kemampuannya untuk memahami fenomena alam — sunnatullah — hukum dan tata aturan yang sudah tertulis dalam ayat-ayat langit yang sulit dibaca oleh kemampuan manusia yang sangat terbatas. Karenanya, kuasa atas segala yang ada di bumi dan dilangit adalah milik Tuhan semata.
Isyarat yang sudah sangat nyata tertulis dalam kitab agama wahyu : Iqra’ bismi rabbika ladzi khalaq, khalaqal insaana min’alaq. Iqra’ wa rabbukal akean. Aladzii allamal bil qalam. ‘Alamal insaana mas lam ya’lam. Jadi sudah sangat jelas dan nyata terbaca, namun mungkin cuma sedikit yang mampu mencerna atau dicerna. Atau bahkan isyarat nyata itu sama sekali tidak mampu untuk dipahami bahwa Tuhan telah memberi banyak petunjuk dan penuntun bagi manusia untuk cerdas memahami isyarat yang tidak hanya masuk sebatas pencernaan intelektual, tapi juga bisa ditangkap sebagai aba-aba dalam pengertian pencernaan daya tangkap spiritual.
Begitulah ayat-ayat langit yang tertulis seluruh alam dan seisinya — termasuk diri manusia — sehingga ada diantara kaum sufi yang menyebutnya sebagai ayat-ayat diri untuk lebih mudah memahaminya, seperti Tuhan sendiri yang bersemayam di dalam keheningan hati manusia yang jernih dan bersih. **
Banten, 14 September 2026
——-
![]()
