Oleh : Jacob Ereste
Pemahaman tentang Sudra, Waisya, kesatria dan Brahmana dapat dipahami dalam perspektif derajat dari kualitas manusia untuk menyadari kesadaran diri bahwa katagoris dari orientasi nilai diri, bukan dalam pengertian kasta yang diturunkan sebagai fitrah, karena pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan yang suci. bersih dan mulia, tanpa diskriminasi dari Tuhan. Karena itu, hidup sebagai pilihan yang kemudian membentuk sifat dan sikap dengan konsekuensinya yang mewarnai wajah kehidupan setiap manusia dalam pilihan tersebut.
Sudra sebagai pemilik sifat dan sikap terburuk — peminta-minta, mental jongos dan penghamba, penjilat dan pengekor tiada memiliki pilihan hidup yang mandiri dan bebas — bisa nyan dan aman hidup dalam suasana mental dan kualitas budak sebagai penjilat untuk sekedar hidup tanpa kepribadian yang mulia sebagai manusia yang tidak memiliki kualitas dari fitrah yang sejati sebagai manusia.
Tak sedikit jumlahnya dari mereka yang asyik terperosok dalam kehidupan yang nyaman sebagai penghamba — sudra — meski secara ekonomi dan intelektualitas berada pada peringkat teratas sekalipun, tapi kualitas hidupnya tetap sudra permanen tiada pernah mengendus suasana Waisya, apalagi kesatria hingga Brahmana yang tidak berjarak dengan Tuhan. Prototipe Waisya pun yang menjadi penakar tata nilai pilihan sikap dan sifat kehidupan, terlalu banyak contoh untuk mereka yang selalu mengedepankan kepentingan diri sendiri — tiada perduli dengan kepentingan serta hak orang lain — sehingga mereka bisa saja sukses pada puncak hidup dan kehidupan yang wah, kaya raya tetapi tidak merasakan kebahagiaan yang hakiki untuk menikmati kebersamaan hidup dan berkehidupan dalam kebersamaan orang lain, bahkan tidak kecuali dengan sanak famili dan anggota keluarganya yang lain.
Pilihan sikap sebagai Waisya ini bisa saja menjadi pilihan, tetapi akan menjadi jalan penghambat mengendus wilayah Kesatria, apalagi hendak menggamit tahta Brahma yang berada di sisi Tuhan. Sebab Kesatria semacam klasemen dari sebuah pertandingan untuk memenangkan pilihan hidup yang nyaris paripurna, karena belum melampaui babak akhir hingga layak dan pantas dinobatkan sebagai Brahmana oleh alam semesta dan seisinya yang juga merunduk penuh hikmat kepada Tuhan. Sebab kemenangan yang sesungguhnya — sebagai Kesatria bukan sekedar menggamit dan memboyong piala dari kemenangan yang sesungguhnya itu, tetapi kebahagiaan yang bersemayam di dalam relung hati yang sunyi.
Begitulah kasta melebur dan senyap di kedalaman hati yang sepi, tak gaduh dari hiruk pikuk dunia sesaat yang tidak abadi. Karena Kesatria dan Brahmana di dalam kesunyian yang teduh dan dingin jauh dari erupsi bencana yang penuh api. Meski terkadang acap diselingi oleh angin puting beliung dan petir, hingga hujan mengarak air bah seakan sedang membasuh bumi. Dan bumi pun acap luruh dan runtuh, seakan sedang menyapa keangkuhan manusia yang lupa pada kasih hati sang Ibu. Begitulah, 4 jurus pilihan jalan hidup. Dan kisaran pertautan taman bermain terbaik dan terindah adalah antara Kesatria dan Brahma yang pantas menggembirakan dan menyenangkan hati, bumi dan Tuhan.
Benten, 8 September 2026
——–
![]()
