Dari Ruang Belajar ke Kedaulatan Pangan: Prof. Ali Zum Mashar dan Cita-Cita Generasi Pencipta
Oleh : Dr. Ali Aminulloh
Kedaulatan sebuah bangsa berakar pada kemampuannya mendidik manusia, mengembangkan teknologi, dan memenuhi kebutuhan pangannya. Ketiganya saling bertaut: ruang belajar melahirkan pengetahuan, penelitian mengubah pengetahuan menjadi inovasi, dan inovasi menemukan maknanya ketika mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Dari hubungan itulah Prof. Ali Zum Mashar mengajak generasi muda membayangkan Indonesia yang tidak hanya menggunakan hasil karya bangsa lain, tetapi memiliki kemampuan untuk menciptakan.
“Janganlah takut untuk bermimpi besar. Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus bisa menciptakan teknologi,” pesannya.
Ajakan tersebut menjadi inti orasi ilmiahnya pada peringatan ulang tahun ke-27 Ma’had Al-Zaytun, Kamis, 27 Agustus 2026. Sejumlah tokoh bangsa, akademisi, guru besar, pendidik, wali santri, dan santri hadir dalam perayaan yang mengangkat tema menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka dengan memperbesar investasi pendidikan berkualitas.
Direktur Pusat Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Bioteknologi MIGO, Serang, Banten, itu memandang peringatan ulang tahun sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi. Perjalanan panjang perlu disyukuri, tetapi keberhasilan masa lalu harus membuka pembicaraan mengenai tanggung jawab berikutnya.
“Sekaligus kita bertanya: apa yang akan kita berikan dan kontribusikan kepada bangsa ini di masa depan?” ujarnya.
Pertanyaan itu mengubah arah pandangan: dari apa yang telah dimiliki menuju apa yang masih harus dikerjakan. Bagi Prof. Ali, Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud hanya karena waktu terus berjalan. Cita-cita tersebut membutuhkan persiapan, terutama melalui pendidikan generasi muda.
Dalam orasinya, ia menempatkan tiga bidang sebagai fondasi kedaulatan: pendidikan, sains dan teknologi, serta pangan. Ketiganya merupakan rangkaian yang saling menguatkan.
Pendidikan mempersiapkan manusia yang mampu berpikir, belajar, dan mengambil tanggung jawab. Penguasaan sains dan teknologi memungkinkan manusia tersebut mengembangkan solusi. Sementara itu, kedaulatan pangan menjadi salah satu medan pengabdian tempat pengetahuan berhadapan langsung dengan kebutuhan hidup bangsa.
Dengan kerangka tersebut, pendidikan pesantren dan pendidikan berasrama memiliki cakupan tugas yang luas. Pendalaman agama harus berjalan bersama penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pembentukan akhlak, kesehatan, produktivitas, dan kemandirian.
Prof. Ali melihat nilai-nilai itu sebagai bagian dari pendidikan yang dikembangkan Al-Zaytun. Ia menekankan pentingnya kecintaan kepada tanah air agar kemampuan yang diperoleh peserta didik memiliki arah pengabdian yang jelas.
Generasi terdidik, dalam pandangannya, perlu bergerak dari kebiasaan mengonsumsi menuju kemampuan menghasilkan. Mereka diharapkan mampu memproduksi sesuatu yang berguna, menemukan cara kerja yang lebih baik, dan mengambil bagian dalam penyelesaian persoalan bangsa.
“Jangan hanya akan menjadi konsumen,” katanya, sebelum mengajak para santri menjadi generasi yang mampu menghasilkan sesuatu untuk bangsa dan negara.
Pesan tersebut memperoleh bentuk konkret ketika Prof. Ali menceritakan perjalanan penelitiannya di bidang pertanian. Ia menyampaikan bahwa lima hari sebelum acara, dirinya menerima anugerah Pahlawan Pangan dari salah satu televisi nasional dan BUMN.
Namun, ia tidak menempatkan penghargaan itu sebagai akhir perjalanan. Pengakuan tersebut, menurutnya, merupakan hasil dari proses panjang mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mencari solusi bagi pertanian.
Salah satu bidang yang dikembangkannya adalah pemanfaatan mikroba unggul untuk memperbaiki kesuburan tanah. Ia mengaitkan pendekatan tersebut dengan gagasan revolusi pertanian: menggunakan pengetahuan dan teknologi untuk mengatasi kendala produksi pangan.
Dalam penuturannya, tanah bukan sekadar tempat menanam. Kesuburannya menjadi persoalan yang perlu dipahami dan ditangani melalui penelitian. Dengan demikian, tantangan pertanian dapat menjadi sumber pertanyaan ilmiah sekaligus peluang inovasi.
Prof. Ali juga menyampaikan capaian pengembangan empat varietas kedelai. Menurutnya, varietas-varietas tersebut menunjukkan potensi produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan kedelai subtropis yang menjadi pembandingnya.
Ia kemudian menyebut pengembangan 12 varietas padi Trisakti yang, menurut keterangannya, dapat dipanen dalam waktu sekitar dua hingga dua setengah bulan.
Capaian-capaian itu disampaikannya sebagai contoh bahwa penguasaan ilmu dapat membuka kemungkinan baru. Kendala yang selama ini dianggap membatasi tidak semestinya menutup ruang penelitian. Justru dari kendala itulah pertanyaan, percobaan, dan penemuan dapat bermula.
Dalam kerangka orasinya, inovasi pertanian mempunyai tujuan yang melampaui keberhasilan seorang peneliti. Ia berharap teknologi tersebut turut memperkuat kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan pangan sendiri, bahkan berkontribusi bagi kebutuhan dunia.
Di hadapan para santri, pengalaman itu menjadi pesan tentang ketekunan intelektual. Menjadi pencipta membutuhkan kesediaan mendalami persoalan dalam waktu panjang. Penguasaan ilmu tidak berhenti pada mengetahui jawaban, tetapi mencakup keberanian mengajukan pertanyaan dan bekerja untuk menemukan penyelesaiannya.
Dari pembicaraan mengenai pangan, Prof. Ali kembali kepada pendidikan. Jika pertanian membutuhkan peneliti yang tekun, bangsa juga membutuhkan lembaga yang mampu menumbuhkan calon-calon peneliti, pemimpin, dan penggerak masyarakat.
Ia menyampaikan penghargaan kepada Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang atas gagasannya mengembangkan pendidikan berasrama. Dalam pandangan Prof. Ali, Syaykh merupakan sosok yang memperjuangkan pendidikan dengan menempatkan toleransi dan kecintaan kepada tanah air sebagai nilai penting.
Pendidikan berasrama dinilainya memiliki peluang untuk mempertemukan pembentukan karakter, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta latihan kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari.
Ilmu memberikan kemampuan untuk bertindak, sedangkan akhlak membantu menentukan tujuan tindakan tersebut. Kepemimpinan menghubungkan keduanya dengan tanggung jawab terhadap orang lain. Kesatuan inilah yang diharapkannya menjadi fondasi generasi Indonesia Emas.
Harapan tersebut kemudian diarahkan kepada gagasan pengembangan 500 pesantren atau lembaga pendidikan berasrama. Prof. Ali menyambut rencana itu sebagai upaya memperluas manfaat pendidikan, dengan menjadikan perjalanan 27 tahun Al-Zaytun sebagai bekal pengalaman.
Angka 500 dalam orasinya merupakan cita-cita pengembangan, bukan pernyataan bahwa seluruh lembaganya telah berdiri. Tantangannya adalah membawa pengalaman pendidikan yang telah dibangun menuju kesempatan belajar yang lebih luas bagi anak-anak bangsa.
Pada akhirnya, Prof. Ali menghubungkan pendidikan, ilmu pengetahuan, iman, takwa, dan akhlak dalam satu arah pengabdian. Pendidikan mempersiapkan generasi. Penguasaan teknologi memperkuat kemampuan mereka. Iman dan akhlak memberikan landasan moral agar kemajuan digunakan untuk membangun kehidupan yang baik.
Peringatan 27 tahun Al-Zaytun pun menjadi ajakan untuk menumbuhkan generasi pencipta: generasi yang sehat, produktif, mandiri, mencintai bangsanya, serta berani menggunakan ilmu untuk menjawab persoalan nyata.
Dari ruang belajar menuju laboratorium, dari penelitian menuju lahan pertanian, perjalanan itu membutuhkan ketekunan yang sama. Indonesia 2045 memerlukan anak-anak muda yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan pengabdian.
Pesan Prof. Ali Zum Mashar tetap sederhana: beranilah bermimpi besar, lalu bekali mimpi itu dengan ilmu, keterampilan, dan akhlak. Sebab, kedaulatan bangsa mulai dibangun ketika generasi mudanya mampu berkata: kami tidak hanya dapat menggunakan, kami juga sanggup menciptakan.**
Indramayu, 4 September 2026
—-
![]()
