Oleh : Ali Aminulloh
Kamis, 27 Agustus 2026, Al-Zaytun memperingati hari jadinya yang ke-27. Sejumlah tokoh, akademisi, guru besar, pemuka agama, dan tamu dari berbagai daerah turut menyemarakkan acara. Di tengah perayaan tersebut, Haji Yoyon Sujana menyampaikan pesan sederhana tetapi penting: lawanlah hoaks dengan silaturahmi, akhlak mulia, dan fakta nyata.
Mantan anggota DPRD Provinsi Banten periode 2014–2024 itu mengawali sambutannya dengan penghormatan kepada Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, keluarga besar Al-Zaytun, para pendidik, santri, mahasiswa, wali santri, serta seluruh tamu undangan.
Ia juga menyapa para pemangku kebijakan, tokoh lintas agama, purnawirawan TNI dan Polri, aparatur sipil negara, serta berbagai unsur masyarakat yang hadir. Keragaman para tamu tersebut, menurutnya, selaras dengan semangat Al-Zaytun dalam mengembangkan kehidupan yang penuh toleransi.
Bagi Yoyon, peringatan ulang tahun bukan hanya kesempatan untuk mengenang perjalanan masa lalu. Momentum itu juga menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Sebagai putra Menes, Pandeglang, Banten, ia menggambarkan kedekatan Banten dan Jawa Barat sebagai hubungan kakak dan adik yang tidak dapat dipisahkan. Perubahan wilayah dan perkembangan zaman, katanya, tidak seharusnya memutus persahabatan dan persaudaraan.
“Mudah-mudahan kita tetap bersama menjadi sahabat, kerabat, dan saudara yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Pesan tersebut terasa relevan dalam kehidupan Indonesia yang dibangun di atas keberagaman. Perbedaan daerah, suku, agama, dan kepercayaan tidak semestinya menjadi jarak. Sebaliknya, keberagaman perlu dirawat sebagai kekuatan untuk membangun masa depan bersama.
Yoyon kemudian mengucapkan selamat atas perjalanan Al-Zaytun yang telah memasuki usia 27 tahun. Ia mengibaratkan usia tersebut dengan ungkapan Sunda “petai kapalang”: disebut muda tidak, disebut tua pun belum.
Namun, justru pada usia itulah sebuah lembaga memiliki bekal pengalaman sekaligus energi untuk melahirkan prestasi yang lebih besar. Dua puluh tujuh tahun bukanlah akhir perjalanan, melainkan pijakan untuk melangkah semakin jauh.
Menurut Yoyon, perjalanan menuju masa depan harus dimulai dengan investasi yang paling mendasar, yakni akhlakul karimah. Akhlak yang baik akan membentuk manusia yang mampu menjaga persaudaraan, menghargai perbedaan, dan tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum tentu benar.
Ia menyoroti derasnya penyebaran hoaks pada era digital. Sebuah kesalahan kecil dapat dibesar-besarkan, sementara berbagai kebaikan justru diabaikan.
“Kesalahan sedikit dibuat sejuta, kebenaran sejuta dihilangkan,” katanya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak mengenal Al-Zaytun hanya melalui kabar yang beredar di ruang digital. Silaturahmi dan pengalaman langsung, menurutnya, menjadi jalan terbaik untuk melihat kenyataan secara lebih jernih.
Pertemuan di Al-Zaytun hari itu menjadi salah satu jawabannya. Para tamu dapat datang, melihat, berdialog, dan menyaksikan sendiri kehidupan pendidikan yang berlangsung di dalamnya.
“Silaturahmi ini adalah penangkal jitu bagi hoaks,” tegasnya.
Di tengah derasnya informasi, masyarakat memang membutuhkan keberanian untuk memeriksa fakta. Kebenaran tidak cukup hanya diyakini, tetapi juga perlu dihadirkan melalui karya, perilaku, dan manfaat yang dapat dirasakan secara nyata.
Karena itulah, Yoyon mengajak keluarga besar Al-Zaytun terus menciptakan fakta positif. Caranya bukan semata-mata melalui kata-kata, melainkan dengan memperkuat pendidikan, menampilkan keteladanan, menjaga toleransi, dan melahirkan generasi yang berakhlak mulia.
Ia berharap para tamu yang hadir dapat membawa pulang pengalaman tersebut kepada keluarga, sahabat, dan masyarakat di daerah masing-masing. Bukan untuk menyebarkan pujian tanpa dasar, melainkan untuk menyampaikan apa yang benar-benar mereka lihat dan rasakan.
Dari sanalah investasi sosial dimulai. Satu perjumpaan melahirkan pemahaman. Pemahaman menumbuhkan kepercayaan. Kepercayaan kemudian membuka jalan bagi kerja bersama.
Yoyon juga mengaitkan perjalanan Al-Zaytun dengan cita-cita menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka. Menurutnya, cita-cita besar itu dapat diwujudkan apabila bangsa Indonesia berani memperbesar investasi di bidang pendidikan.
Investasi pendidikan bukan hanya persoalan membangun gedung atau menyediakan fasilitas. Lebih dari itu, investasi tersebut berarti membentuk manusia yang berilmu, berkarakter, terbuka terhadap perbedaan, serta bertanggung jawab terhadap masa depan bangsanya.
Peringatan 27 tahun Al-Zaytun akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan usia. Momentum itu menjadi ajakan untuk memperkuat persaudaraan, membangun akhlak, menepis hoaks, dan menghadirkan kebenaran melalui karya nyata.
Pesan Haji Yoyon Sujana pun menemukan maknanya: masa depan Indonesia tidak dibangun dengan prasangka, melainkan dengan pendidikan, silaturahmi, dan keberanian merawat fakta. Dari langkah-langkah itulah cahaya kebenaran tumbuh dan perjalanan menuju Indonesia yang lebih maju menemukan jalannya.**
Indramayu, 31 Agustus 2026
——–
![]()
