*Janji Kesetiaan Untuk Kemerdekaan Yang Terlupakan*
Oleh : Jacob Ereste
Inkar janji itu yang membuat kecewa dan rasa terluka. Karena pengingkara n janji itu biang dari khianat untuk saling berbalas. Inilah yang lebih menyakitkan itu, karena kita pun diajak untuk tidak setia — bahkan untuk berkhianat juga — maka itu ingkar janji adalah benih penyakit yang sangat membahayakan bagi siapa saja yang terkena dan didera oleh pengingkaran janji yang sesungguhnya bisa menumbuhkan kesuburan tersemai membuahkan cinta dan kasih sayang dalam kesetiaan.
Karena itu, kesetiaan adalah adalah dasar cinta dan kejujuran yang menjadi pengikat penghargaan dan penghormatan. Oleh sebab itu, ingkar janji adalah sikap yang merendahkan harga diri — dimana kita mungkin cuma sekedar dianggap sebagai pelengkap penderitaan — seperti bantal untuk meredakan lelah dan kejenuhan mereka yang egoistik dan ambisius untuk mengumbar selera dirinya sendiri, tiada abai pada rasa pirasa orang lain.
Atas dasar itulah, kesetiaan acap kali harus berulang kali dipertimbangkan, agar tidak membuat kekecewaan yang bisa menimbulkan kerusakan suasana hati kita sendiri. Sebab sikap dan sifat pengkhianatan sangat gampang tumbuh seperti rumput liar di taman bermain di depan beranda rumah yang sudah kita bangun penuh keindahan serta asri, meski dalam tampilan yang paling sederhana, tanpa kemewahan untuk dibanggakan.
Ingkar janji itu jelas mencerminkan sikap tidak konsisten, karena itu jangan lagi pernah mengharap kesetiaan yang akan berujung pada pembangkangan, meski dilakukan komentar apa-apa karena yang bersangkutan sudah pandai menahan geram yang kelak akan lebih nyata aksi dan reaksinya dalam wujud yang lebih nyata untuk dirasakan.
Kalkulasi untung dan rugi senakin jauh dari keikhlasan dan kejujuran. Sebab prasyarat dalam perjanjian yang tertulis pun gampang dilanggar lantaran etika, moral dan akhlak mulia sekedar penghias semata agar tetap dapat disebut manusia. Karena itu, sika-sila dari Pancasila sekedar hapalan belaka. Bahkan sekedar untuk proyek pembagian kekuasaan meski dalam hanya dalam bilangan recehan. Tapi toh, akibatnya bisa sangat fatal bagi nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
Konsepsi dasar dari paparan ini semula hendak dibacakan dalam upacara kenegaraan untuk memperingati hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang terkesan beda dari satu daerah dengan daerah lain. Ibarat hujan yang tidak merata, iklim kemarau pun terus berlanjut menjelang usia seabad yang acap dikhayalkan oleh sebagian orang adalah Tahun Emas bagi bangsa Indonesia yang selalu heroik memekikkan kemerdekaan.
Konsep pidato kemerdekaan ini seakan hendak menautkan kisah cinta pemuda dan pemudi asal Aceh dan Papua ingin membangun rumah tangga yang harmoni dan sejahtera untuk menikmati jagat raya Indonesia yang maha kaya. Tetapi cinta mereka itu tak pernah bermuara, lantaran mas kawin masih di dulang dari sisa tambang yang terbuang.
Meski janji tidak sekedar janji, tapi ujud nyata mesti di resmikan di pelaminan supaya mereka pun tidak ikut menambah jumlah anak haram, meski jelas siapa ibu dan bapaknya yang kini sedang terlunta-lunta karena terpaksa mencari kerja di Jakarta. Sebab pemukiman mereka warisan dari para leluhur di kampung sudah tergusur oleh perkebunan entah miliki siapa, walau jelas alasannya untuk ketahanan pangan.
Begitukah satu diantara janji terbaru yang sangar diharap tidak lagi menambah kekecewaan yang terlanjur menjadi bagian dari janji yang gampang di lupakan, bahkan jadi biasa untuk dilanggar, seperti janji-janji saat kampanye yang dianggap sudah diterbangkan angin ke samudra bebas yang abadi kemerdekaannya bersama alam dan jagat raya.**
Benten, 17 Agustus 2026
——-
![]()
