Menembus Batas Harapan: Langkah Awal Tutor PKBM Al Zaytun Menaklukkan Dunia Digital
Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)
INDRAMAYU — Perubahan sering kali datang tanpa mengetuk pintu dengan ramah, memaksa kita keluar dari zona nyaman yang sudah bertahun-tahun didiami. Hal itulah yang dialami oleh para pendidik di PKBM Al Zaytun saat menyambut tahun ajaran baru 2026/2027. Di bawah arahan Direktur PKBM Al Zaytun, Ustadz Ali Aminullah, para tutor offline diminta bersiap bertransformasi menjadi tutor online.
Kabar yang didengungkan oleh Koordinator Tutor sekaligus Pembina, Ustadz Hartono, beberapa bulan sebelumnya itu disambut sukacita oleh sebagian besar tutor. Ruangan pelatihan mendadak riuh dengan semangat para pengajar yang membawa laptop dari rumah. Namun, di sudut lain, ada satu nama yang bergeming: Sri Wahyuni.
Bagi Sri Wahyuni, dunia IT seolah benua asing yang enggan ia jelajahi. Ketika edaran pendaftaran tutor online disebarkan, ia memilih bergeming dan mengosongkan namanya. “Tidak Pak, silakan saja diisi yang lain,” bisiknya mantap saat itu. Alasannya sederhana tapi terasa kuat baginya: ia ingin fokus menyelesikan kuliah S2 dan merasa gagap teknologi.
Namun, takdir punya cara unik untuk menyapa.
Seusai mengajar offline suatu hari, langkah kaki Sri membawanya ke kantor MP untuk berkoordinasi mengenai agenda paguyuban. Di ruangan itu, para tutor ternyata sedang menyimak pemaparan dari Ustadz Suwandi tentang tata cara mengoperasikan kelas online dan seni berkomunikasi di depan layar. Sri yang berniat menunggu di kursi kosong perlahan ikut menyimak.
Tiba-tiba, suara Ustadz Hartono memecah perhatiannya. “Mengajar di online kelas berapa?”
“Saya kan tidak daftar Ustd, tidak mengisi list,” jawab Sri membela diri, sembari menyodorkan alasan perkuliahan dan ketidakbisaannya di bidang IT.
Ustadz Hartono tertawa kecil menyikapi keputusasaan itu, “Yang nomor dua parah, tidak bisa IT, hehe… Memang kuliahnya tiap hari? Bisa kok, kelas B ya?”
Ketegasan yang hangat itu tak memberi celah bagi Sri untuk membantah. Dorongan lain datang dari Ustadz Suwandi yang membagikan kisah masanya sendiri ketika memulainya dari nol. Bahkan sang suami, Pak Sukino yang juga sesama tutor memberikan sentilan penuh kasih, “Kuliah S2 maju kok, jadi tutor online mau mundur? Nanti kan kuliah juga mesti bisa presentasi.”
Tembok keraguan Sri runtuh seketika. Dikepung oleh lingkaran orang-orang yang meyakini potensinya, Sri melangkah mantap. Ia mendatangkan teman tutornya, Pak Mulyadi, untuk memberikan les privat IT secara khusus di rumah.

Momen Pembuktian di Depan Layar
Hari yang mendebarkan itu akhirnya tiba: Rabu, 5 Agustus 2026, pukul 19.00 WIB.
Berlokasi di Gantar, Sri telah bersiap mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan materi Teks Deskripsi. Persiapannya tak main-main; jauh lebih intens dibanding kelas offline. Modul dibongkar, slide PowerPoint dirancang cermat, dan taktik mengajar disusun rapi. Demi menenangkan degup jantung yang berpacu dan mengantisipasi kendala teknis, Sri sengaja mendampingkan seorang anak Gen-Z yang lihai IT di sisinya.
Begitu kamera menyala dan zoom dimulai, keajaiban pun terjadi. Rasa gugup yang sempat menjepit dadanya mendadak menguap setelah kalimat pembuka terucap. Sri tampil prima, rileks, dan penuh percaya diri layaknya tutor online berpengalaman.
Kelas malam itu berubah menjadi panggung interaksi yang hidup. Antusiasme Warga Belajar membuncah; pertanyaan demi pertanyaan mengalir lancar. Kehangatan kelas pecah menjadi tawa saat Sri melemparkan analogi spontan tentang Teks Deskripsi.
“Suatu wadah kaleng berisi kue biskuit, jika tidak dideskripsikan, bisa jadi ternyata isinya rengginang!” kelakar Sri yang disambut gelak tawa riuh para Warga Belajar.”

Bayangan mengerikan tentang kelas online seketika sirna, berganti menjadi pengalaman belajar yang hangat dan menyenangkan.
Mengukir Kedekatan Tanpa Jarak
Dampak kehangatan malam itu tak berhenti ketika tombol ‘Leave Meeting’ ditekan. Obrolan lucu tentang “kaleng biskuit isi rengginang” terus berlanjut di grup WhatsApp kelas. Canda tawa di alam maya itu mencairkan kekakuan, merajut keakraban seolah mereka telah bertahun-tahun belajar bersama dalam satu ruangan.
Malam itu, di bawah temaram lampu kerja, Sri Wahyuni tersenyum menatap layarnya. Rasa syukur membuncah di dadanya. Bukan hanya karena berhasil menaklukkan ketakutannya pada teknologi, tetapi juga karena menyadari betapa beruntungnya ia dikelilingi oleh sahabat, suami, dan lembaga PKBM Al Zaytun yang tak pernah lelah mendorongnya untuk terus tumbuh.
Ternyata, dunia digital tak sekejam yang dibayangkan. Dan bagi seorang pendidik, belajar tidak pernah mengenal kata terlambat.**
Indramayu, 15 Agustus 2026
——
![]()
