Korupsi Lewat ” Jalan Tol ” Pilihan Tersingkat Untuk Cepat Kaya Raya di Indonesia


*Korupsi Lewat “Jalan Tol” Pilihan Tersingkat Untuk Cepat Kaya Raya di Indonesia*

Oleh : Jacob Ereste

Banten, 12 Juli 2026

Fenomena orang Indonesia ingin cepat kaya raya melalui jalan pintas, tidak lagi percaya dengan melalui pesugihan, seperti mitos yang sudah lapuk dalam sejarah legenda yang sulit dicerna oleh akal sehat. Tapi sekarang ada “jalan toll” korupsi seperti yang semakin marak dan parah dilakukan justru oleh aparat penegak hukum yang seharusnya melakukan pencegahan dan pemberantasan bukan hanya untuk negara agar tidak mengalami kerugian sehingga semakin tidak berdaya untuk mensejahterakan hidup rakyat. Karena yang tidak kalah penting dari pencegahan dan pemberantasan tindak kejahatan korupsi diantaranya yang terpenting adalah pandemi korupsi tidak terus menular, seperti fenomena yang semakin kentara menggejala untuk dilakukan oleh pemain lain yang belum memiliki kesempatan untuk melakukannya.

Hasrat untuk cepat kaya raya di Indonesia ditempuh melalui “jalan tol korupsi” menilep duit rakyat yang dikumpulkan pemerintah untuk dikembalikan sebagian kepada rakyat dalam bentuk program pembangunan, bantuan, subsidi serta upaya lain guna meningkatkan kesejahteraan rakyat. Karena itu proyek pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah dominan menjadi sasaran korupsi melalui berbagai cara, mulai dari awal perencanaan proyek yang sudah sering terjadi lewat renten, ijon, meminta down payment dimuka, hingga proses pelaksanaan program yang dilaksanakan itu untuk dilelang kepada pelaksana proyek hingga proses pembangunan proyek tersebut sampai diterima dan diresmikan secara sah oleh pemerintah.

Praktek “jalan tol” untuk cepat kaya di Indonesia terkesan telah menjadi kesepakatan resmi sehingga muncul istilah “sudah sama-sama tahu” dan “cincai” dalam bisnis dan dunia usaha. Untuk lebih mulus dan gampang perlu “uang pelicin” agar semua bisa berjalan lancar. Bahkan di habitat politik ada istilah “tak ada acara makan siang gratis” seperti MBG yang juga tak kalah heboh dijadikan bancaan oleh pengelolanya yang kini menjadi perhatian warga masyarakat karena banyak melibatkan orang kuat dan hebat dan berpangkat.

Lalu birahi untuk korupsi di Indonesia yang dianggap negeri paling religius di dunia pun merumuskan slogan pembenaran “jangankan untuk yang haram saja sudah begitu susah, mengapa masih berharap untuk memperoleh yang halal”. Raden Mas Ronggowarsito, sejak beberapa abad silam, toh sudah mengingatkan “yang tidak edan tidak akan keduman”. Jadi jaman edan sekarang sedang berada dipuncak klimak titik tertinggi untuk terus bertengger atau akan kembali ke titik nol. Atau meledak seperti gunung berapi yang menghanguskan harta dan kekayaan serta kehidupan kita yang mungkin juga tidak bermakna apa-apa untuk dikenang, kecuali sebagai koruptor paling tamak dan rakus di bumi ini.**

——-+

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!