*Liberalisme Individual, Sosialisme Humanis Kekeluargaan*
Oleh : Jacob Ereste
Banten, 11 Juli 2026
Liberalisme itu dalam pengertian politik adalah mengedepankan kebebasan individu. Dalam bidang ekonomi mengedepankan pasar bebas. (Adam Smith). Begitulah kapitalisme yang membenarkan persaingan dan kompetisi yang bebas. Sehingga negara hanya menjaga keamanan, hukum dan membangun infrastruktur. Tidak mengurus sekolah, bisnis dan masalah agama. Peram negara dibatasi dan peran perorangan diperluas dan dibuka selebar mungkin. Hingga hidup bebas serta hal milik menjadi prioritas bagi setiap individu perorangan. (John Locke).
Dalam pandangan liberalisme, peran pemerintah tidak boleh dominan. Dalam sistem liberalisme, inovasi dapat berlangsung relatif cepat, karena setiap orang memiliki kebebasan yang tidak terbatas untuk melakukan inovasi, percobaan serta berbagai usaha yang diinginkan. Karena itu hal asasi jadi sangat dihormati, kebebasan bicara dan berpendapat dan pers sangat longgar dan dihormati. Yang pasti, birokrasi negara tidak rumit dan ribet. Namun kesenjangan ekonomi pada umumnya sangat lebar, antara yang kaya dengan yang miskin.
Dalam sistem liberalisme tidak ada gotong royong. Kepedulian sosial sangat lemah. Semua bersifat individualistik. Akibat dari sistem liberalisme yang dipraktekkan, semua pelayanan umum — kesehatan, pendidikan jadi komersial dan kebutuhan pokok rakyat — sembako hingga gas elpiji dan BBM, listrik dan air — tidak me dapat perhatian prioritas dari pemerintah, sehingga amanah konstitusi untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kebodohan selalu dikalkulasi dengan nilai umtung dan rugi seperti perniagaan yang harus mendapat keuntungan. Maka itu, sistem liberal yang dilakukan di Indonesia membuat keadilan semakin jauh merenggang dari masyarakat. Dan sikap kepedulian yang menjadi bagian dari azas gotong royong hilang dari budaya asli suki bangsa Indonesia — sejak jaman Nusantara berjaya Sriwijaya dan Majapahit — yang taat pada sikap dan sifat kekeluargaan.
Akibat dari sistem liberalisme yang dipraktekkan di Indonesia, telah melahirkan elite baru — orang kaya baru — yang semakin bersifat individualistik dan egoistik dipenuhi rasa persaingan untuk lebih gagah, lebih hebat, lebih kaya dan lebih kuasa dari Tuhan Yang Maha Segala-galanya. Karena itu kesenjangan sosial yang bermula dari kesenjangan politik, kesenjangan ekonomi dan kesenjangan dalam perlakuan hukum pun semakin menjadi-jadi, tak hanya disebabkan persaingan, tapi juga disebabkan oleh budaya transaksional yang lebih parah dari pasar bebas hingga pasar gelap nilai komersial yang dibarter dengan kewenangan dan kekuasaan.
Intinya, Indonesia sebagai rumah Pancasila sudah dikontrakkan seperto kos-kosan. Berbeda dengan sosialisme punya rumah bersama yang dipahami milik keluarga, imun dari bahasa komersial, kerena setiap keluarga mempunyai hak yang sama untuk menikmati kenyamanan, keamanan dan kebahagiaan bersama seluruh keluarga.
Begitulah nilai sosialis yang memiliki jaring pengaman dalam budaya ketimuran, gotong royong seperti yang dimaksudkan dari Pancasila, Trisila dan gotong royong. Dan Pancasila itu dapat dipahami digali dari budaya leluhur Nusantara yang mengakar do bumi Ibu Pertiwi. Tapi masalahnya sekarang, P4 (Pedoman, Penghayatan Pengamalan, Pancasila) sudah diganti oleh BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) yang tak jelas juntrungannya untuk siapa. Setidaknya, sejak BPIP tampil di negeri ini, perilaku para elite justru semakin bejat, abai pada etika, moral dan akhlak manusia sebagai makhluk yang paling sempurna — khalifatullah — untuk tidak melakukan kerusakan di bumi dan dipercaya oleh Tuhan sebagai pengusung rahmatan lil alamin.
Sosialisme jelas lebih religius — seperti yang diajarkan dan dituntun oleh semua agama untuk berbuat baik kepada sesama makhluk — utamanya manusia, alam dan percaya kepada Tuhan sebagai pencipta alam semesta dan seisinya, sehingga wajib dan harus dijaga bersama dengan penuh kesadaran sebagai perintah Tuhan untuk manusia yang memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual, tidak seperti makhluk lainnya.*
——
![]()
