Menggugah Jiwa di Rahmatan Lil’alamin: Refleksi Iduladha dan Semangat Kebangsaan Tutor PKBM Al Zaytun
Oleh : Sri Wahyuni, S.Pd. ( Tutor PKBM Al Zaytun)
Gema takbir berkumandang memecah kesunyian pagi di kawasan Ma’had Al Zaytun, Indramayu, Jawa Barat. Rabu (27/5/2026), jarum jam baru menunjukkan pukul 07.30 WIB, namun shaf-shaf di dalam Masjid Rahmatan Lil’alamin yang megah itu telah rapat dan rapi. Di antara ribuan jemaah yang duduk khusyuk menanti salat Iduladha, tampak barisan *Tutor PKBM Al Zaytun* yang membaur bersama santri, mahasiswa, karyawan, dan warga sekitar.
Bagi para *Tutor PKBM Al Zaytun*, momentum Iduladha kali ini bukan sekadar ritual tahunan menyembelih hewan kurban, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang peradaban, keteguhan, dan rasa cinta tanah air.
Sejak fajar menyingsing, arus jemaah seolah tak terputus mengalir menuju masjid. Ada yang mengendarai sepeda motor, mobil, hingga bus antarkota. Mereka datang dari berbagai penjuru wilayah sekitar Indramayu, bahkan tak sedikit yang rela menempuh perjalanan jauh dari luar kota seperti Cikarang, Jakarta, dan Bandung.
Dari Dobrakan Peradaban Nabi Ibrahim hingga Geopolitik Global
Tepat pukul 08.00 WIB, salat Iduladha dimulai dengan khusyuk. Bertindak sebagai imam dan khatib adalah Ustadz Eji Anugrah Romadhan, SS., M.A.P. Di atas mimbar, khotbah yang disampaikannya menghentak kesadaran jemaah melalui narasi yang kaya akan sudut pandang teologis, sosiologis, hingga antropologis.
Ustadz Eji membedah makna kurban melampaui teks-teks keagamaan normatif. Ia menegaskan bahwa perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk mengorbankan putranya (Ismail atau Ishak) adalah sebuah titik balik sejarah, sebuah peralihan peradaban manusia.

“Secara historis, tradisi mengorbankan anak manusia untuk kekuatan supranatural adalah praktik ritual kuno yang lazim di berbagai belahan dunia, termasuk Nusantara. Namun, Nabi Ibrahim mendobrak tradisi tidak manusiawi tersebut. Beliau mengubahnya, membuktikan bahwa Tuhan yang ia yakini adalah Maha Pengasih dan Penyayang, yang menghargai nyawa manusia,” urai khatib.
Tak berhenti di situ, khotbah bergerak dinamis mengulas konstelasi geopolitik global modern. Khatib mencontohkan keteguhan Iran sebagai kekuatan regional baru yang mampu bertahan dan tetap *istiqamah* membangun negaranya lewat teknologi perang asimetris, meski didera embargo ekonomi bertubi-tubi. Cairnya kekuatan politik unipolar dunia menuju kutub-kutub baru menjadi bukti bahwa kemandirian dan patriotisme adalah modal utama sebuah bangsa untuk bertahan.
Menengok Internal Bangsa: Panggilan untuk Pendidikan
Pesan geopolitik tersebut lantas ditarik masuk ke dalam konteks domestik Indonesia. Ustadz Eji mengingatkan jemaah bahwa Indonesia adalah negara yang lahir dari rahim modernitas lewat kecerdasan para pemuda terdidik pada 1928, diproklamasikan tahun 1945, dan berdaulat penuh pada 1949.
Namun, mengapa Indonesia hari ini seolah melambat dalam mencapai kemakmuran yang dicita-citakan? Khatib menegaskan bahwa faktor terbesarnya bukanlah tekanan dari luar, melainkan melemahnya kesadaran dan keinsyafan internal bangsa yang terus tergerus.
Oleh karena itu, panggilan kurban hari ini tidak lagi meminta kita untuk mengangkat senjata atau mengorbankan nyawa.

“Kita hari ini diminta untuk menegakkan hukum yang adil, menjauhi korupsi, gigih belajar, serta membangun jiwa dan raga yang sehat. Kita diminta memajukan negara lewat ilmu pengetahuan, teknologi, dan yang paling utama: memajukan pendidikan,” tegasnya.
Potret Kebersamaan di Akhir Hari yang Agung
Usai khutbah ditutup dengan doa, jemaah pun membubarkan diri dengan tertib menuju lokasi ramah tamah yang telah disiapkan oleh panitia untuk menikmati hidangan bersama.
Namun, momen hangat terjadi di sudut selasar masjid. Para *Tutor PKBM Al Zaytun* tampak tidak langsung pulang. Mengenakan pakaian terbaik mereka, para pendidik non-formal ini berkumpul, saling melempar senyum dan maaf, lalu bersinggah sejenak untuk berswafoto bersama.
Bagi para *Tutor PKBM Al Zaytun*, foto bersama siang itu bukan sekadar dokumentasi digital. Itu adalah simbol soliditas mereka yang siap mengemban amanah khutbah Iduladha tadi: berkorban waktu dan energi demi mendidik anak bangsa, merawat keinsyafan internal, dan menjaga Indonesia melalui jalur pendidikan.**
Indramayu, 29 Mei 2026
——-
![]()
