Seni Karawitan Di Al-Zaytun: Harmoni Dalam Nada,Damai Dalam Jiwa ( Seri Mengenal Tradisi-Tradisi Di Al-Zaytun )


Seni Karawitan Di Al Zaytun: Harmoni Dalam Nada, Damai Dalam Jiwa
(Seri Mengenal Tradisi- Tradisi Di Al Zaytun)


Oleh Ali Aminulloh
Kontributor Jaya-News.Com

Di Arena Kampus Al Zaytun yang asri, setiap sore hari akan disuguhkan musik indah penggugah jiwa. Karawitan. Seni ini mendapatkan perhatian penuh dan selalu menjadi sajian wajib dalam setiap event di Mahad Al-Zaytun. Sebagai seni asli Indonesia, karawitan terlestarikan dengan baik.

1. Nada yang Menyuarakan Sejarah dan Jiwa Bangsa

Indonesia adalah negeri yang kaya akan budaya dan tradisi, dan di antara permata-permata warisan leluhurnya, karawitan berdiri sebagai salah satu yang paling menawan. Seni musik tradisional Jawa ini bukan semata soal melodi, tetapi juga narasi panjang tentang sejarah, filsafat hidup, dan identitas bangsa.

Karawitan telah berkembang sejak abad ke-8 Masehi, berpijak dari lingkungan keraton dan diperkaya oleh nilai-nilai Hindu, Buddha, dan Islam. Puncak kejayaannya terjadi pada masa Majapahit, saat karawitan menjadi lambang kejayaan dan keselarasan budaya Nusantara. Dari masa ke masa, seni ini mengajarkan kita makna harmoni—antara manusia dan alam, antara suara dan diam, antara rasa dan pikir.

Namun, menjaga warisan ini di tengah derasnya arus modernitas adalah sebuah tantangan besar. Diperlukan lembaga-lembaga yang tidak hanya mencintai budaya, tetapi juga berkomitmen merawatnya. Di sinilah Mahad Al Zaytun mengambil peran strategis dan signifikan: menjadikan karawitan bukan sekadar pelajaran seni, melainkan bagian dari pembentukan karakter dan penguatan jati diri santri dan masyarakatnya.

2. Mahad Al Zaytun: Melatih Nada, Menyemai Jiwa

Di Mahad Al Zaytun, karawitan bukan hanya dijaga, tapi dikembangkan dengan struktur yang rapi dan kesungguhan luar biasa. Menurut keterangan juru latih karawitan Hartono, S.Pd., program latihan karawitan dijalankan dengan melibatkan berbagai lapisan: dari pelajar MI, MTs, dan MA, hingga mahasiswa, warga belajar PKBM, guru, dan karyawan.

Setiap kelompok memiliki jadwal khusus yang disesuaikan, menunjukkan bahwa seni ini bukan sampingan, melainkan bagian integral dari sistem pendidikan Al Zaytun. Mulai dari Selasa pagi untuk siswa MI, sore hari pukul 14.30 -15.30 untuk santri MTs dan mahasiswa, malam hari pukul 18.30-19.30 bagi santri Aliyah, bahkan Sabtu sore untuk warga PKBM. Tidak ketinggalan, guru dan karyawan pun ikut berlatih setiap hari mulai pukul 16.17.00.

Yang lebih menarik, seni karawitan di Al Zaytun tidak hanya berhenti di ruang latihan. Ia hidup dan berdenyut dalam berbagai perayaan budaya, hajatan pernikahan, dan momen-momen besar institusi. Karawitan telah menjadi suara jiwa Al Zaytun, yang menyampaikan pesan keindahan, kedamaian, dan penghargaan terhadap kearifan lokal.

3. Ketika Syaykh Berkarya: Irama yang Mencerahkan Ruhani

Perhatian Syaykh Al Zaytun terhadap seni karawitan tidak hanya menyentuh tataran administratif atau simbolik. Beliau benar-benar hadir dalam proses kreatif dan pengembangan substansi. Pada tahun 2010, Syaykh menciptakan tiga lagu karawitan: Nowo Muspro, Ta’awudzain, dan Kaweruh Utomo. Lagu-lagu ini bukan hanya musikal, tetapi sarat makna spiritual dan pendidikan.

Misalnya, Nowo Muspro menggambarkan sembilan sebab kerusakan umat dan solusinya berdasarkan QS. At-Taubah: 24. Ta’awudzain menyampaikan makna mendalam dari QS. Al-Falaq dan An-Nas, sementara Kaweruh Utomo menguraikan intisari kitab Aqidatul Awam.

Pada tahun 2011, Syaykh kembali menciptakan karya monumental melalui lagu yang mengangkat QS. Al-Baqarah: 163 dan QS. Al-Fath: 29 dengan langgam Gambuh. Di masa pandemi, dua karya lagi lahir: Dzikir Topo Broto, sebuah kontemplasi tauhid tingkat tinggi, serta versi baru dari lagu Tombo Ati yang dibawakan dengan aransemen berbeda, menunjukkan kemampuan adaptif seni terhadap zaman.

Tak cukup hanya mencipta, Syaykh juga mengawal langsung proses latihan. Dari kediaman beliau di Masyikah hingga kini berpindah ke lantai dua Masjid Rahmatan Lil Alamin, semangat beliau tetap membara. Ini bukan sekadar proyek seni, melainkan bagian dari visi besar: membentuk manusia paripurna melalui budaya, iman, dan ilmu.

Epilog: Ketika Gamelan Berbicara tentang Peradaban

Gema karawitan di Mahad Al Zaytun bukan hanya alunan musik, tetapi getaran nurani yang mengajak kita merenung. Di balik tiap denting saron, tiap gending yang mengalun, terselip nilai-nilai luhur: kesabaran, ketekunan, keselarasan, dan penghormatan pada warisan leluhur.

Karawitan bukan sekadar tradisi, tapi pernyataan cinta pada kebudayaan, pada kehidupan, dan pada masa depan. Di Mahad Al Zaytun, seni ini menjadi jembatan menuju masyarakat yang lebih manusiawi—yang sehat dalam jiwa, cerdas dalam nalar, dan damai dalam sikap.

Dan ketika senja mulai turun di horizon Al Zaytun, suara gamelan yang mengalun lembut tak hanya membelah sunyi. Ia menyatu dengan bisikan langit, menjadi doa dan harapan bahwa bangsa ini akan terus merawat harmoni—di dalam nada, dan di dalam kehidupan.**

Indramayu, 25 Juni 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!