Effort Politik Forum Perjuangan Pemekaran Kab.Indramayu Barat Dalam Audiensi Ke DPR RI


*EFFORT POLITIK FORUM PERJUANGAN PEMEKARAN KAB INDRAMAYU BARAT DALAM AUDIENSI KE DPR RI*

Oleh : H. Adlan Daie
Analis Politik, Sekretaris Umum MUI Kab Indramayu.

Memang agak sunyi dari deru politik sensasional ketika para aktivis pejuang pemekaran kab “Indramayu barat” bersama Forum Koordinasi Daerah Percepatan Pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Jawa Barat melakukan audiensi ke DPR RI (Senin, 18/5/2026) kemarin.

Dukungan politik yang diberikan secara tertulis oleh fraksi PKB DPR RI dan senator DPD RI dari provinsi Jawa Barat (dikutip dari media “belarakyat”, 22/5/2026) adalah sebuah “effort” sangat berarti untuk menghidupkan kembali harapan bertumbuh tentang imajinasi dan cita cita terwujudnya kabupaten “Indramayu barat”.

Inilah “effort”, sebuah ikhtiar perjuangan panjang tidak kenal lelah meskipun timbul tenggelam oleh janji janji “ngedabrus” lintas rejim politik Indramayu untuk memberi sebuah arti bahwa perjuangan mereka tidak bisa dibaca hanya sekedar mainan “politik transaksional” setiap datang musim pemilu dan pilkada.

Ini lebih dalam tentang spirit perjuangan dan panggilan menjemput “keadilan” wilayah, tentang masa depan daerah otonom baru “kab Indramayu barat” yang bertahun tahun, mengutip diksi Bend Anderson, “dilipat dalam imajinasi kolektif mereka” untuk cita cita yang tidak pernah mati selalu diperjuangkan.

Tentang spirit perjuangan “keadilan” proporsional wilayah di atas penting artinya betapa tanpa semangat keadilan tersebut, misalnya, sebagai contoh, tentang RS Sentot yang berlokasi di kec Patrol, bagian dari Indramayu barat, begitu midah hendak dialih status dari “milik kabupaten” ke provinsi Jawa Barat hanya dengan argument keterbatasan anggaran, management salah kelola, dll.

Perspektif di atas hanya meletakkan RS Sentot sekedar “asset” tidak memberi keuntungan terhadap daerah adalah bentuk “negara/pemerintah daerah hendak berdagang” dengan rakyatnya, tidak diletakkan sebagai tanggung jawab pemerintah kab indramayu untuk melindungi kesehatan warganya – dalam konteks lokasi RS Sentot jelas untuk warga Indramayu barat.

Karena itu, opsi hendak menyerahkan status alih fungsi RS Sentot ke pemerintah provinsi Jawa barat dapat dimaknai bahwa warga “Indramayu barat” hanya dipandang sebagai warga “kelas dua”, tidak terlalu penting menjadi tanggung jawab daerah sehingga ketika kesulitan pendanaan begitu mudah hendak dilempar ke Jawa barat. Sakitnya tuh di sini !!!.
.
Dalam perspektif penulis tidak ada komponen masyarakat manapun yang dirugikan dalam konteks mensegerakan pemekaran kab Indramayu Barat, bahkan justru akan mempercepat akselerasi peningkatan IPM dan layanan publik kecuali pihak pihak yang merasa kehilangan kendali kuasanya terhadap berdirinya kab Indramayu barat.

Paling tidak, dalam konteks tiga variabel IPM tersebut masyarakat Indramayu barat lebih mendapatkan proporsi keadilan dalam akselerasi peningkatan standart rata rata pendidikan, kualitas kesehatan, kemampuan daya beli dan rentang kendali layanan publik lebih mudah dijangkau, hemat, terukur dan jelas lebih produktif.

Karena itu, langkah tepat perjuangan mereka dengan melakukan audiensi untuk mendapatkan dukungan politik dari DPR RI dan DPRD RI untuk “mendesakkan” pencabutan “moratorium” pemekaran sebagai jalan percepatan terbentuknya daerah otonomi baru kab Indramayu barat.

Dalam konteks Indramayu, penting “menuntut” keseriusan Bupati dan DPRD Indramayu dalam alokasi anggaran untuk persiapan pembentukan daerah otonomi baru kab Indramayu Barat. Akan sia sia belaka perjuangan politik pemekaran kab Indramayu Barat jika minim keberpihakan dari kabupaten “induk” Indramayu.

Masa depan
Indramayu Barat yang menurut kajian sejumlah teknokrat pembangunan akan lebih cepat maju dari kabupaten “induk” dalam 10 tahun mendatang akan “ambyar” jika keberpihakan kabupaten “induk” hanya berhenti di tugu “nol kilometer”, tidak bergerak ke “kilometer kilometer” berikutnya.

Di atas segalanya, ibarat spirit intelektual Sutan Takdir Alihsyahbana, “layar sudah berkembang”, tentu penulis memberikan effort semangat kepada aktivis pejuang pemekaran Indramayu barat. Ikhtiar maksimal tidak akan mengkhianati hasil secara optimal. Sejarah kelak akan menuntunya. **

Wassalam.


Indramayu, 22 Mei 2026
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!