Dari Roem-Roijen ke Timur Tengah: Sejarah yang Mengajari Dunia Berdamai


Dari Roem-Roijen ke Timur Tengah: Sejarah yang Mengajari Dunia Berdamai

Oleh Ali Aminulloh

Bangsa yang ingin hidup panjang harus berani memilih akal di atas amarah

Sejarah sering menempatkan perang sebagai panggung keberanian. Dentuman meriam, gerak pasukan, dan heroisme di medan tempur kerap dipuja sebagai simbol keteguhan sebuah bangsa. Padahal, tidak sedikit bangsa justru jatuh bukan karena kalah dalam satu pertempuran, melainkan karena terlalu lama memelihara permusuhan. Di titik inilah sejarah Indonesia pada 7 Mei 1949 memberi pelajaran yang tidak lekang oleh zaman: bahwa keberanian terbesar kadang bukan melanjutkan perang, melainkan berani membuka jalan damai.

Perjanjian Roem-Roijen lahir bukan saat Republik Indonesia berada di puncak kekuatan, tetapi justru ketika republik muda ini berada di ujung tanduk. Agresi Militer Belanda II telah menghantam Yogyakarta, para pemimpin republik ditawan, dan Belanda berusaha menanamkan persepsi kepada dunia bahwa Indonesia telah selesai. Namun dalam situasi terdesak itulah para pemimpin bangsa tidak kehilangan kejernihan berpikir. Mereka memilih diplomasi sebagai ikhtiar menyelamatkan masa depan. Perundingan yang dimulai pertengahan April dan mencapai persetujuan pada 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes Jakarta itu kemudian menjadi pintu masuk menuju Konferensi Meja Bundar dan pengakuan kedaulatan Indonesia beberapa bulan sesudahnya.

Di sinilah letak keagungan peristiwa tersebut. Republik tidak sedang menunjukkan kelemahan ketika duduk di meja perundingan, tetapi sedang menunjukkan kematangan. Para perunding memahami satu hal sederhana namun sangat mendasar: bangsa yang ingin hidup panjang tidak boleh mengambil keputusan hanya berdasarkan amarah sesaat. Ada masa ketika senjata diperlukan, tetapi ada pula masa ketika akal sehat harus mengambil alih.

Diplomasi sebagai Bentuk Kemenangan yang Lebih Sunyi

Mohamad Roem dan para pemimpin republik tentu paham bahwa rakyat sedang marah. Agresi Belanda meninggalkan luka yang dalam. Perlawanan gerilya di berbagai daerah masih menyala. Secara emosional, melanjutkan perang adalah pilihan yang paling mudah diterima oleh semangat zaman.

Tetapi sejarah tidak hanya membutuhkan keberanian emosional. Sejarah membutuhkan ketajaman membaca akibat.

Jika perang terus dipanjangkan, korban akan bertambah. Desa-desa akan semakin hancur. Distribusi pangan lumpuh. Pemerintahan tidak berjalan. Anak-anak kehilangan sekolah. Republik yang baru lahir bisa saja menang dalam simbol perlawanan, tetapi kalah dalam kemampuan bertahan hidup.

Karena itu, Roem-Roijen adalah bentuk kemenangan yang lebih sunyi: kemenangan akal atas gejolak, kemenangan strategi atas dendam, kemenangan masa depan atas kepuasan sesaat.

Perjanjian ini pada pokoknya membuka ruang penghentian perang gerilya, penghentian operasi militer Belanda, pengembalian pemerintahan Republik ke Yogyakarta, pembebasan para pemimpin bangsa, serta jalan menuju Konferensi Meja Bundar. Ia bukan akhir perjuangan, tetapi titik balik yang membuat perjuangan memperoleh arah politik yang lebih pasti.

Membaca Roem-Roijen melalui Trilogi Kesadaran

Jika ditelaah lebih mendalam, Perjanjian Roem-Roijen sesungguhnya bukan hanya peristiwa diplomatik. Ia adalah peristiwa kesadaran. Dalam konteks itulah gagasan Trilogi Kesadaran: kesadaran filosofis, kesadaran ekologis, dan kesadaran sosial—menjadi sangat relevan untuk membaca ulang momen bersejarah ini.

Kesadaran filosofis: ketika pemimpin tidak mabuk oleh dendam

Kesadaran filosofis menuntut kemampuan melihat tujuan yang lebih besar daripada ledakan emosi. Para pemimpin republik tidak menempatkan perang sebagai satu-satunya ukuran patriotisme. Mereka sadar bahwa kemerdekaan bukan sekadar soal membalas luka, tetapi soal memastikan negara tetap hidup dan memiliki masa depan.

Mereka memilih berpikir melampaui hari itu: bagaimana republik bisa mendapatkan legitimasi internasional, bagaimana pemerintahan dapat pulih, dan bagaimana perjuangan tidak terjebak pada konflik tanpa ujung. Inilah kedewasaan politik yang sering kali justru sulit ditemukan pada bangsa-bangsa modern hari ini.

Kesadaran ekologis: perang selalu merusak lebih dari yang terlihat

Perang tidak hanya menewaskan manusia. Ia merusak tanah tempat pangan tumbuh, menghancurkan rumah tempat keluarga bernaung, memutus sekolah tempat generasi dibentuk, dan menanam trauma yang hidup lama setelah suara senjata berhenti.

Para pemimpin republik memahami bahwa tanah air tidak boleh terlalu lama dijadikan arena kebinasaan. Kemerdekaan harus berarti keberlanjutan kehidupan. Dengan kata lain, diplomasi adalah cara menyelamatkan ruang hidup bangsa dari kerusakan yang lebih luas.

Kesadaran sosial: rakyat tidak boleh menjadi tumbal ego elite

Perang yang panjang selalu dibayar oleh rakyat kecil. Petani kehilangan sawah, pedagang kehilangan pasar, ibu kehilangan suami, anak kehilangan rasa aman. Negara tidak boleh menjadikan rakyat sebagai bahan bakar untuk memelihara simbol keberanian politik.

Roem-Roijen menjadi penting karena di balik bahasa diplomatiknya terdapat satu tujuan kemanusiaan: memulihkan denyut kehidupan masyarakat.

Ketika Dunia Modern Gagal Belajar

Ironisnya, pelajaran besar yang pernah dipraktikkan Indonesia pada 1949 justru belum sepenuhnya dipelajari dunia modern. Ketegangan yang terus berlangsung antara Iran, Israel, dan United States menunjukkan bahwa teknologi boleh semakin maju, tetapi kebijaksanaan belum tentu ikut tumbuh.

Retorika balas dendam, ancaman rudal, unjuk kekuatan militer, dan pertarungan dominasi geopolitik terus mengisi ruang publik global. Masing-masing merasa sedang menjaga kehormatan. Masing-masing merasa sedang menegakkan keamanan. Namun yang paling nyata justru korban sipil, rusaknya ruang hidup, ketidakpastian ekonomi dunia, dan semakin menebalnya kebencian lintas generasi.

Di hadapan situasi seperti ini, dunia modern sesungguhnya sedang menunjukkan kegagalan kesadaran:

– gagal secara filosofis karena lebih memilih reaksi daripada dialog;

– gagal secara ekologis karena membiarkan bumi menjadi ladang ledakan;

– gagal secara sosial karena rakyat sipil kembali menjadi harga yang dibayar.

Manusia abad ini bisa membuat rudal menembus langit, tetapi masih sering gagal menembus kebuntuan pikirannya sendiri.

Pelajaran yang Seharusnya Tidak Diabaikan Indonesia

Indonesia tidak boleh melupakan warisan sejarahnya. Bangsa ini pernah membuktikan bahwa jalan dialog mampu menghasilkan kemenangan yang lebih tahan lama daripada kemenangan emosional di medan tempur. Dari Roem-Roijen, setidaknya ada empat pelajaran penting bagi Indonesia masa kini.

Pertama, perbedaan tidak boleh dibiarkan berubah menjadi permusuhan permanen. Dalam politik, agama, maupun kehidupan sosial, kemampuan duduk bersama jauh lebih menentukan daripada kemampuan saling mengalahkan.

Kedua, pembangunan harus menjaga bumi dan tatanan masyarakat. Kemajuan ekonomi yang merusak ruang hidup hanya akan memindahkan konflik dari medan perang ke medan keseharian rakyat.

Ketiga, rakyat harus tetap menjadi pusat seluruh kebijakan. Gengsi elite, kompetisi kelompok, dan pertarungan kepentingan tidak boleh menggeser kebutuhan dasar masyarakat akan keamanan, kesejahteraan, dan pendidikan.

Keempat, Indonesia harus berani memperkuat jati dirinya sebagai bangsa penengah dunia. Kita memiliki modal sejarah diplomasi yang kuat. Kita pernah menang bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan kewarasan.

Kesadaran adalah Syarat Bertahannya Peradaban

Perjanjian Roem-Roijen pada akhirnya menyampaikan satu pesan yang sangat sederhana: bangsa ini pernah selamat karena masih memiliki pemimpin yang mau berpikir jernih di tengah suasana panas.

Mereka tidak menuhankan dendam.
Mereka tidak memuja perang tanpa akhir.
Mereka memilih jalan yang mungkin tidak populer pada zamannya, tetapi terbukti menyelamatkan masa depan.

Hari ini, ketika Timur Tengah kembali menyala dan dunia dipenuhi bahasa ancaman, Indonesia semestinya membuka kembali lembar 7 Mei 1949. Dari sana kita belajar, perang memang dapat memaksa orang tunduk, tetapi hanya kesadaran yang mampu membuat peradaban tetap utuh.

Sebab sejarah berkali-kali membuktikan: bangsa yang terlambat sadar biasanya lebih cepat hancur.**


Indonesia, 7 Mei 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!