Bersyukur Sebagai Bagian Dari Laku Spiritual
Oleh : Jacob Ereste
Kecerdasan spiritual itu, kata Karto Glinding yang disebut kawan-kawan penganusalah dari tarekat, akan gampang dilakoni dibanding hanya melalui kajian yang mengutamakan nalar serta hasrat batin dengan cara membangun kesadaran. Sebab dari kesadaran spiritual pun lebih sulit memasuki wilayah spiritual, dibanding upaya melalui pengalaman-pengalaman empirik yang langsung dialami dalam kehidupan srhari-hari.
Cerita Karto Glinding ini yang tiba-tiba datang ke rumah seperti angin tanpa kabar berita terlebih dahulu, setelah sekian lama menghilang dari peredaran pergaulan kami aehari-hari, muncul dengan membawa beragam pamganan khas nusantara yang tak mungkin ada di negara barat. Karena itu dia tampak antusias menenteng biji talas liar yang sudah direbus, lantaran panganan khas kampung ini memang merupakan salah satu panganan ringan yang bisa menjadi makanan berat seperti singkong rebus yang sudah begitu akrab dengan pencernaan sosok manusia agraris yang akrab dengan suasana kebun atau pun kadang.
Tanpa basa-basi Karto Glinding langsung menanyakan kemungkinan bisa meminum kopi sebagai kawan pelangsir dari panganan yang dia peroleh entah dari pasar yang mana di sepanjang jalan kepintarannya.
Kopi hitam panas pun segera dipersiapkan. Dia pun mulai mela jutka cerita tentang pengalaman spuritual itu lebih gampang menghantar pengembaraan batin untuk memahami hakekat Tuhan.
Ceritanya dia mulai dari pengalaman pada tiga bulan silam ketika mengalami buang hajat yang sudah. Dari kondisi seperti itu saja , katanya bukan kemudian dihayati dan dinikmati kesulitan dari membuang hajat itu, manusia bisa memahami bahwa sesungguhnya setiap manusia – segagagh apapun dirinya – tidak sungguh-sungguh mutlak memiliki otoritas atau kekuasaan atas dirinya sendiri, sehingga dari perenungan akibat dari hasrat membuang hajat yang sulit itu, Tuhan pun bisa terasa hadir dan begitu dekat untuk kita minta pertolongan untuk mengatasi gangguan dalam pencernaan yang tidak beres itu.
Kesannya memang lucu dan tidak masuk akal, kata Karto Glinding menegaskan cerita tentang pengalaman spiritual melalui perantara untuk membuang hajat yang sulit itu.
Tapi di bawah nalar sadar, mengapa gangguan pencernaan untuk membuang hajat itu bisa langsung teringat pada Tuhan, menyerah dalam fitrahnta manusia tidak boleh percaya kepada dokter melebihi kepercayaan dirinya terhadap Tuhan.
Selain itu, bisa direnungkan bila manusia ini sesungguhnya adalah ciptaan Tuhan, bagaimana mungkin begitu kuasa nya Tuhan atas diri manusia yang sudah milyaran jumlahnya sekarang ini di dunia ?
Sambil menyeruput kopi hitam yang sudah tersisihkan, Karto Glinding tampak semakin bersemangat meneruskan cerita dari pengalaman spiritualnya itu. Karena dari pengalaman ingin kentut yang sulit saja untuk dikakukan, jika direnungkan dari pengalaman yang tidak enak itu dapat menghantar pengembaraan batin kita sampai kepada Tuhan yang memiliki kuasa atas jagat raya dan seisinya, termasuk kita sebagai manusia yang acap pongah dan melupakan bahwa Tuhan itu sesungguhnya selalu berada di dekat kita.
Dari pengalaman spiritual yang paling sederhana seperti itu, jelas setelah pengalaman baru menyusul kemudian penghayatan menuju kesadaran yang lebih mendalam memasuki inti dari hakekat spirialitas yang ada di dalam diri kita yang telah dibekali fitrah oleh Tuhan sejak awal kelahiran untuk selalu menjaga diri ?dengan nilai-nilai ilahiyah. Maka itu dalam penelusuran spiritual yang sesungguhnya – konsep otentik yang khas Timur adalah memasuki kedalaman hati atau batin serta jiwa dari setiap diri manusia itu sendiri.
Jadi berbeda dengan pengembaraan perjalan spiritual bangsa Barat yang melakukan pencarian dari luar dirinya, ke alam bebas, puncak gunung dan menatap laut yang maha luas, itu semua memang menggambarkan kekuasan Tuhan Yang Maha Pencipta termasuk diri manusia yang hanya sedikit memiliki kemampuan, sedikit mempunyai pengetahuan dibanding Tuhan Yang Maha Luas dan Maha Perkasa tidak hanya atas manusia , tapi meliputi segenap galaksi yang mengitari bumi.
Meski begitu, untuk memasuki wilayah spiritual yang maha luas pun, dapat dilakukan melalui pengamatan dan kesadaran, misalnya mengenai matahari dan rembulan serta sejumah planet yang ada, itu sedungguhnya siapa yang mengatur posisi dan rotadinya sehingga memberi cahaya terang bagi manusia di bumi.
Karto Glinding memang kalau sudah bercerita setelah sekian lama tak bersua, selalu membuat banyak kejutan, terutama tentang pengalaman spiritual pribadinya yang selalu terkesan sederhana dan remeh remeh. Seperti dari sejumlah panganan khas kampung yang dia tentang semacam buah tangan dari gumpalan rasa kangen nya untuk bercengkrama dengan kawan-kawan lamanya, dia pun sempat menerangkan tentang ubi talas luar yang lebih enak dari jenis ubi talas lainnya, pun mencerminkan bagian dari rasa syukur kita terhadap nikmat Tuhan yang memberi kekayaan aneka ragam panganan yang dapat dinikmati, dan mungkin hanya bangsa kita saja, katanya yang memiliki umbi talas yang nikmat itu. Dan bagian dari inti laku spiritual yang sejati itu adalah selalu tidak lupa untuk terus bersyukur. **
Banten, 6 April 2026
——–
![]()
