Masihkah Kita Punya Bahasa Ibu? (Refleksi Hari Bahasa Ibu Internasional, 21 Februari)


Masihkah Kita Punya Bahasa Ibu?
(Refleksi Hari Bahasa Ibu Internasional, 21 Februari)

Oleh: Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME.

Masihkah kita punya bahasa ibu? Atau sebenarnya, yang perlahan hilang bukan sekadar bahasa, melainkan arah pulang?

Di era ketika anak-anak lebih fasih menyebut subscribe daripada “hatur nuhun”, lebih lincah berkata guys daripada “sobat”, kita dihadapkan pada paradoks zaman: dunia makin terkoneksi, tetapi akar makin tercerabut. Kita hidup dalam kelimpahan kata, tetapi kekurangan makna.

Tahun 2026, UNESCO menetapkan tema Hari Bahasa Ibu Internasional: “Youth Voices on Multilingual Education”: Suara Pemuda dalam Pendidikan Multibahasa. Tema ini bukan sekadar slogan global. Ia adalah panggilan sunyi yang sebenarnya sangat keras: masa depan bahasa ada di tangan generasi muda.

Pemuda bukan hanya pewaris bahasa. Mereka penentu nasibnya. Mereka yang memutuskan apakah bahasa ibu akan tetap bernafas di ruang keluarga, atau sekadar tinggal arsip di perpustakaan.

Bahasa yang Tak Lagi Diajarkan

Di banyak rumah hari ini, bahasa ibu tidak lagi diwariskan secara sadar. Ayah dari Jawa, ibu dari Bugis. Ayah dari Minang, ibu dari Sunda. Bahasa nasional menjadi kompromi. Bahasa global menjadi prioritas. Bahasa ibu perlahan dikesampingkan.

Anak-anak tumbuh tanpa benar-benar memiliki bahasa pertama yang menubuh dalam jiwa mereka. Bahasa daerah mungkin diajarkan di sekolah, tetapi bahasa bukan teori. Ia adalah praktik. Ia hidup dalam candaan, dalam teguran lembut, dalam kemarahan yang jujur, dalam doa yang lirih.

Bahasa ibu seharusnya tumbuh di rumah. Tetapi ketika orang tua sendiri tak lagi fasih pada bahasa asalnya, siapa yang akan mengajarkannya?

Maka kita menyaksikan generasi yang tercerabut. Memang tidak sepenuhnya kehilangan identitas, tetapi juga tidak sepenuhnya memilikinya.

Dunia yang Kehilangan Ribuan Suara

Dunia memiliki lebih dari 7.000 bahasa. Namun setiap dua minggu, satu bahasa punah. Diperkirakan hampir 3.000 bahasa akan hilang sebelum akhir abad ini.

Indonesia sendiri menyimpan sekitar 718 bahasa daerah, terbanyak kedua di dunia setelah Papua Nugini. Papua saja memiliki lebih dari 400 bahasa. Namun banyak di antaranya kini hanya dituturkan oleh generasi tua.

Ketika seorang penutur terakhir wafat, sebuah dunia ikut terkubur bersamanya.

Dan sering kali, kita tak merasa kehilangan. Karena menganggap bahasa bukan kekayaan budaya.

Pemuda dan Ruang Digital

Tema 2026 menekankan suara pemuda dalam pendidikan multibahasa. Artinya jelas: bahasa tidak bisa hanya bertahan di ruang nostalgia. Ia harus hadir di ruang digital.

Jika anak muda hidup di media sosial, maka bahasa ibu harus hidup di sana. Jika generasi muda membuat konten, maka bahasa daerah harus menjadi bagian dari narasi mereka. Bahasa tak boleh hanya bertahan di panggung adat, tetapi juga di TikTok, YouTube, podcast, dan ruang kelas modern.

Saat ini, sekitar 40 persen pelajar dunia belum mendapatkan pendidikan formal dalam bahasa yang mereka pahami dengan baik. Artinya, jutaan anak belajar dalam bahasa yang bukan bahasa ibunya. Ini sebuah ironi dalam dunia pendidikan global.

Pendidikan multibahasa bukan ancaman bagi persatuan. Ia justru jembatan bagi keadilan.

Trilogi Kesadaran: Bahasa sebagai Pondasi

Dalam trilogi kesadaran yang digagas Syaykh Al Zaytun, yaitu kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial, bahasa ibu menempati posisi yang mendasar.

Kesadaran filosofis: Bahasa membentuk cara kita berpikir. Dalam bahasa ibu, kita pertama kali memahami dunia.

Kesadaran ekologis: Banyak bahasa lokal menyimpan pengetahuan tentang alam yang tak tergantikan. Nama-nama angin, musim, tanaman, dan laut sering kali tidak memiliki padanan dalam bahasa global.

Kesadaran sosial: Bahasa membangun solidaritas. Ia menciptakan rasa “kita”. Tanpa bahasa ibu, ikatan sosial menjadi longgar.

Ketika bahasa hilang, kesadaran ikut terkikis.

Pertanyaan yang Harus Kita Jawab

Apakah kita ingin anak-anak kita hanya menjadi warga dunia tanpa akar?

Atau kita ingin mereka menjadi manusia global yang tetap mengenal tanah kelahirannya?

Bahasa ibu bukan penghalang kemajuan. Ia adalah fondasi. Bukan nostalgia masa lalu, tetapi penopang masa depan.

Tema 2026 mengingatkan kita: suara pemuda menentukan takdir bahasa. Namun sebelum mereka bersuara, rumah harus lebih dulu berbicara.

Karena jika bahasa ibu berhenti di rumah kita, mungkin kelak anak-anak kita akan bertanya:

“Bahasa apa sebenarnya bahasa kita?”

Dan mungkin, kita tak lagi memiliki jawaban.**


Indonesia, 21 Februari 2026
——_

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!