Tiga dari Empat Tim Basket Al Zaytun melaju Grand Final Perbasi Cup Indramayu


Tiga dari Empat Tim Basket Al Zaytun melaju Grand Final Perbasi Cup Indramayu

Oleh: Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME.

Peluit pertama ditiup, bola dilambungkan ke udara. Di detik itu, pertandingan resmi dimulai. Namun sesungguhnya, jauh sebelum skor dicatat dan kemenangan diperebutkan, ada proses panjang yang sedang diuji: pendidikan. Di lapangan, keringat dan strategi beradu. Di baliknya, nilai, karakter, dan kesadaran manusia ikut dipertaruhkan.

Itulah lanskap makna yang menyelimuti Turnamen Bola Basket Perbasi Cup Indramayu 2026 Season #1, ajang bergengsi yang digelar 29 Januari hingga 7 Februari 2026 di GOR Dharma Ayu Sport Center, Kabupaten Indramayu. Turnamen ini merupakan agenda rutin dua kali dalam setahun yang diselenggarakan oleh Perbasi Kabupaten Indramayu, dan menjadi etalase utama pembinaan basket pelajar di daerah ini.

Di tengah atmosfer kompetisi yang keras dan menuntut, Al Zaytun datang dengan satu sikap yang excellent: bertanding tanpa kehilangan misi mendidik. Empat tim diutus sekaligus: MTs Banat (Putri), MTs Banin (Putra), MA Banat (Putri), dan MA Banin (Putra), seluruhnya dihuni pelajar kelas 7 hingga kelas 12 MTs dan MA Al Zaytun. Mereka bukan hanya membawa nama sekolah, tetapi juga membawa filosofi pendidikan yang diyakini dan dijalani.

Hari ini, 7 Februari 2026, lapangan menjawab kesungguhan itu. Dari empat tim yang diutus, tiga tim Al Zaytun memborong tiket grand final: MTs Banin (Putra), MTs Banat (Putri), dan MA Banin (Putra). Sebuah capaian yang tidak biasa, sekaligus prestasi yang membanggakan di tengah ketatnya persaingan basket pelajar Indramayu. Sementara MA Banat (Putri) harus mengakhiri langkah di babak penyisihan grup. Sebuah hasil yang mungkin pahit, tetapi tetap bermakna dalam logika pendidikan.

Karena di Al Zaytun, kalah tidak pernah diperlakukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai pelajaran yang menumbuhkan daya tahan batin. Di sinilah pendidikan bekerja dengan caranya yang paling jujur: membentuk manusia yang siap menerima hasil, mengevaluasi diri, dan bangkit tanpa dendam.

Prestasi tiga tim yang melaju ke partai puncak ini bukan hadir secara kebetulan. Ia lahir dari pembinaan yang tertata dan konsisten, dari tangan-tangan yang bekerja dalam senyap namun menentukan.
Tim MTs Banat (Putri) dibina oleh Sigit Sugianto sebagai pelatih, dengan dukungan Eri Setiawan sebagai asisten pelatih dan Dina Yasyfa Nurizqoh sebagai manajer.
Tim MTs Banin (Putra) ditangani Fathu Thoriq Firdaus selaku pelatih, didampingi Giri Khusnul Kharits sebagai asisten pelatih, serta Naoval Jiwa Praja sebagai manajer.
Sementara itu, MA Banat (Putri) dilatih oleh Eri Setiawan dengan Dea Mutia Jamelian sebagai manajer, dan MA Banin (Putra) dibesut oleh Giri Khusnul Kharits di bawah manajerial Faizal Aditya.
Mereka bukan sekadar peracik strategi, tetapi pendidik karakter di pinggir lapangan.

Di bangku cadangan, para ofisial berdiri sebagai pendidik kedua: mengajarkan bahwa emosi harus dikelola, ego harus ditundukkan, dan kemenangan harus dijaga martabatnya.

Lebih jauh dari itu, keikutsertaan Al Zaytun dalam Perbasi Cup mencerminkan visi besarnya sebagai pusat pendidikan, pengembangan budaya toleransi dan perdamaian. Di lapangan basket, nilai itu menemukan wujudnya: lawan dihormati, wasit ditaati, aturan dijaga. Tidak ada ruang bagi kebencian, tidak ada tempat bagi arogansi. Yang ada hanyalah kompetisi yang beradab.

Di sinilah tujuan pendidikan Al Zaytun menemukan artikulasinya yang paling nyata: membangun generasi basthathan fil ‘ilmi wal jismi (unggul dalam ilmu dan kokoh dalam fisik). Tubuh yang terlatih tanpa akal yang tercerahkan akan melahirkan kekerasan. Akal yang tajam tanpa tubuh yang disiplin akan melahirkan kerapuhan. Al Zaytun memilih jalan tengah: manusia seimbang.

Basket menjadi medium. Bukan tujuan akhir. Setiap dribel adalah latihan fokus. Setiap passing adalah pelajaran kerja sama. Setiap kekalahan adalah kelas keikhlasan. Dan setiap kemenangan adalah ujian kerendahan hati.

Maka ketika tiga tim Al Zaytun berdiri di panggung grand final, yang sesungguhnya dirayakan bukan semata peluang juara. Yang dirayakan adalah kemenangan pendidikan atas cara pandang sempit tentang prestasi. Bahwa sekolah tidak cukup hanya mencetak siswa pintar, tetapi harus melahirkan manusia yang kuat, dewasa, dan berjiwa damai.

Di tengah gegap gempita Perbasi Cup Indramayu 2026, Al Zaytun mengirim satu pesan sunyi namun tegas:
kompetisi boleh keras, tetapi pendidikan harus tetap manusiawi.
Juara boleh diraih, tetapi manusia utuh adalah tujuan sejati.**


Indramayu, 7 Februari 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!