Hijab : Penutup yang Membuka Kesadaran (Refleksi Hari Hijab Internasional)


Hijab: Penutup yang Membuka Kesadaran
(Refleksi Hari Hijab Internasional)

Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME.

Jika kesetaraan berarti menyeragamkan, lalu mengapa Tuhan menciptakan perbedaan?
Pertanyaan itu menggantung di udara, menohok nalar kita yang kerap keliru memahami keadilan. Di zaman ketika persamaan sering disalahartikan sebagai penghapusan batas, hijab justru hadir sebagai paradoks: ia menutup tubuh, tetapi membuka kesadaran; ia membatasi fisik, namun membebaskan martabat.

Manusia, secara fitrah, diciptakan berbeda antara laki-laki dan perempuan. Keduanya sama-sama ciptaan Tuhan, sama-sama memikul hak dan kewajiban yang sejajar di hadapan-Nya. Namun kesetaraan bukan berarti kesamaan mutlak. Dalam dimensi biologis, psikologis, dan sosial, masing-masing memiliki peran yang menonjol dan khas. Di titik inilah keadilan menemukan maknanya: menempatkan sesuatu sesuai kodrat dan fungsinya, bukan menyeragamkannya secara paksa.

Kesadaran semacam ini sejalan dengan trilogi kesadaran yang kerap digagas Syaykh Al Zaytun: kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial. Kesadaran filosofis mengajak manusia berpikir jernih tentang hakikat diri dan peran. Kesadaran ekologis mengajarkan harmoni bahwa keseimbangan lahir dari perbedaan yang saling menopang. Sementara kesadaran sosial menuntut keadilan dalam relasi antarmanusia, tanpa meniadakan identitas.

Di Al Zaytun, gagasan itu diterjemahkan secara konkret. Laki-laki dan perempuan ditempatkan setara, bahkan dalam ibadah mahdhah. Shaf disusun sejajar, tanpa hijab sekat penutup. Sebuah pesan simbolik yang kuat: nilai spiritual tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Namun, pada saat yang sama, syariat tetap menegaskan perlindungan aurat perempuan dalam konteks personal. Tujuannya jelas untuk menjaga kehormatan, bukan membatasi kemanusiaan.

Di sinilah hijab menemukan relevansinya di zaman yang mengusung jargon persamaan. Justru ketika batas-batas kian kabur, ruang hijab menjadi penting sebagai penegas eksistensi perempuan bahwa ia hadir dengan distingsi peran dan fisik yang patut dihormati. Hijab bukan tanda keterbelakangan, melainkan pernyataan kesadaran: tentang tubuh, martabat, dan pilihan iman.

Setiap 1 Februari, dunia memperingati Hari Hijab Sedunia. Peringatan ini digagas oleh Nazma Khan, perempuan asal Bangladesh yang menetap di New York. Pengalaman pahit diskriminasi karena hijab di bangku sekolah dan universitas mendorongnya melahirkan gerakan global pada 2013. Ia mengajak perempuan non-Muslim mencoba mengenakan hijab selama sehari bukan untuk mengislamkan, melainkan untuk menumbuhkan empati.

Kini, Hari Hijab Sedunia diperingati di lebih dari 150 negara. Bentuknya beragam: diskusi dan seminar tentang hijab dan hak perempuan Muslim, kampanye media sosial, kegiatan edukasi di sekolah dan kampus, hingga Try Hijab Day. Tema tahun 2026, #UnityInHijab, menegaskan pesan persatuan bahwa perbedaan identitas tidak harus berujung pada diskriminasi.

Pada akhirnya, hijab bukan sekadar kain penutup kepala. Ia adalah simbol kesadaran filosofis tentang keadilan, kesadaran ekologis tentang keseimbangan, dan kesadaran sosial tentang penghormatan. Di tengah dunia yang gaduh memperdebatkan persamaan, hijab mengingatkan kita: adil bukan berarti sama, dan merdeka bukan berarti tanpa batas.**

Indonesia, 1 Februari 2026
—–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!