Menjaga Emas Hijau dari Akar: Peran Tim Pengawas Al Zaytun di Balik Penanaman Durian Premium
Oleh : Ali Aminulloh
Apa yang sebenarnya sedang dijaga ketika sebuah tim pengawas berdiri di tengah lahan, memperhatikan gundukan tanah di kaki bibit durian? Apakah sekadar memastikan pohon tumbuh lurus dan hijau, atau mengawal sebuah kesadaran yang lebih dalam tentang masa depan? Di Ma’had Al Zaytun, penanaman durian premium bukan hanya aktivitas agronomi, melainkan bagian dari sebuah visi besar: merawat emas hijau dari akar, melalui jalan ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Dalam upaya meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan para pelaku didik, Ma’had Al Zaytun menempuh strategi yang tidak instan, namun berjangka panjang. Puluhan ribu pohon durian ditanam sebagai bentuk kesadaran bahwa kemandirian ekonomi harus tumbuh dari tanah sendiri. Pilihan jatuh pada durian varietas duri hitam (Black Thorn), komoditas premium bernilai tinggi yang menuntut ketelitian, kesabaran, dan ilmu. Dari sinilah ekonomi hijau dimaknai bukan sebagai slogan, tetapi sebagai ikhtiar nyata untuk mengubah tanah menjadi sumber kesejahteraan berkelanjutan.
Senin, 12 Januari 2026, Tim Pengawas Pembangunan Politeknik Al Zaytun turun langsung ke lapangan. Selain mengawasi pembangunan infrastruktur pendidikan Politeknik, tim ini juga memikul mandat strategis: mengawal penanaman dan pemeliharaan durian premium agar berjalan sesuai kaidah ilmiah dan prinsip keberlanjutan. Pengawasan ini mencerminkan kesadaran bahwa pembangunan fisik dan pembangunan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan alam yang bertanggung jawab.
Teknik penanaman dengan tanah yang digundukkan menjadi salah satu fokus pengawasan. Di balik gundukan tanah itu tersimpan kesadaran ekologis yang kuat. Durian duri hitam dikenal sangat sensitif terhadap genangan air dan kekurangan oksigen pada akar. Gundukan tanah memastikan drainase berjalan baik, menjaga zona perakaran tetap beroksigen, serta mencegah penyakit busuk akar yang kerap menjadi momok durian muda. Dengan cara ini, pohon tidak hanya ditanam, tetapi dipersiapkan untuk hidup panjang dan produktif.
Namun praktik agronomi ini tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan kesadaran filosofis bahwa alam bukan objek eksploitasi, melainkan mitra kehidupan. Menanam durian dengan benar sejak awal adalah bentuk penghormatan terhadap hukum-hukum alam. Dari cara menyiapkan tanah, memasang ajir penyangga agar batang tumbuh lurus, hingga menjaga titik sambungan okulasi tetap aman, semuanya mencerminkan pandangan bahwa hasil tidak boleh dipaksakan, tetapi ditumbuhkan secara selaras.
Kesadaran ekologis itu kemudian bertaut erat dengan kesadaran sosial. Durian duri hitam tidak ditanam untuk kepentingan segelintir orang, melainkan sebagai sumber pembelajaran, lapangan kerja, dan kesejahteraan bersama. Pelaku didik tidak hanya belajar teori ekonomi dan lingkungan di ruang kelas, tetapi menyaksikan langsung bagaimana nilai ekonomi tumbuh dari tanah yang dirawat dengan ilmu dan kesabaran. Emas hijau yang diharapkan kelak berbuah bukan hanya dalam bentuk panen, tetapi juga dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Penggunaan ajir pada tanaman muda, pengelolaan air yang presisi, pemangkasan terencana, hingga penguatan biologi tanah dengan bahan organik dan mikroba menguntungkan menjadi bagian dari pendekatan terpadu. Semua itu menegaskan bahwa durian premium tidak bisa lahir dari praktik serampangan. Ia membutuhkan pengawasan, pengetahuan, dan kesadaran kolektif, mulai dari akar hingga tajuk.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan Ma’had Al Zaytun melalui penanaman durian premium ini adalah praktik nyata dari trilogi kesadaran: filosofis, ekologis, dan sosial. Filosofis karena menempatkan alam sebagai amanah; ekologis karena menjaga keseimbangan dan keberlanjutan; serta sosial karena berorientasi pada kesejahteraan bersama. Dari gundukan tanah sederhana itu, Al Zaytun sedang menanam lebih dari sekadar pohon. Ia menanam masa depan, dengan keyakinan bahwa emas hijau hanya akan tumbuh di tanah yang dirawat dengan kesadaran.***
Indonesia, 12 Januari 2026
——–
![]()
