Dari Emansipasi ke Ekosipasi: Politik,Ekologi,dan Keluargaan Baru untuk Indonesia

Dari Emansipasi ke Ekosipasi: Politik, Ekologi, dan Keluargaan Baru untuk Indonesia


Oleh : Amin Aminulloh
Kontributor Jaya-News.com

Disarikan dari Pidato Pengukuhan Guru Besar UNJ Prof. Dr. Robet, MA


Pembukaan: Ucapan Terima Kasih dan Refleksi Awal

Dalam sidang terbuka Senat Universitas Negeri Jakarta,Kamis 12 Juni 2025,Prof. Robet menyampaikan rasa terima kasih kepada Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof. KomarudinM.Si, Senat Guru Besar, Prof. Ahmad Sya, S.Pd. MPd, pimpinan fakultas, para guru besar, dan tamu undangan yang hadir.

Meski awalnya berniat untuk berbicara tanpa teks, Prof. Robet menyadari bahwa orasi ilmiah dalam acara seperti ini perlu dikawal secara hati-hati. Maka ia memilih untuk membaca pidatonya dengan penuh kesadaran terhadap makna dan pesan yang ingin disampaikan.

Paradoks Modernitas dan Krisis Moral Teknologi

Prof. Robet mengangkat tema besar tentang kegelisahan manusia kontemporer yang hidup dalam bayang-bayang paradoks. Di satu sisi, manusia modern merayakan capaian-capaian teknologi dan komunikasi global yang menakjubkan. Namun di sisi lain, kemajuan ini memunculkan kekhawatiran dan ketidakpastian. Perang, konflik sosial, pandemi, bencana ekologis, dan berbagai penyakit baru menjadi bagian dari dunia yang terus berubah dan sulit dikendalikan.

Ia mengutip Anthony Giddens dan Gunter Anders dalam menggambarkan fenomena “kebutaan apokaliptik”—sebuah kondisi ketika masyarakat modern tidak mampu mengenali dan mengakui ancaman destruktif dari teknologi. Ketakmampuan ini muncul karena manusia terlalu percaya pada kemajuan dan tidak mampu membayangkan kehancuran peradaban.

Prof. Robet menegaskan bahwa teknologi sering kali mengaburkan tanggung jawab moral. Tombol bom yang ditekan oleh pilot di Hiroshima, drone yang menjatuhkan bom di Gaza, hingga akun-akun palsu yang menyebar fitnah di media sosial, semuanya menciptakan jarak antara tindakan dan akibat. Jarak ini, katanya, menghapus rasa tanggung jawab dan memperbesar risiko apokaliptik.

Ia merujuk pada gagasan Ulrich Beck tentang “risk society”—sebuah masyarakat di mana distribusi risiko menjadi isu utama, bukan lagi distribusi kekayaan. Modernitas menghasilkan risiko yang tak terkendali, sebagaimana terlihat dalam kasus lumpur Lapindo yang tak mampu dihentikan oleh teknologi.

Kritik terhadap Emansipasi dan Tawaran Latour

Dalam bagian ini, Prof. Robet mempertanyakan relevansi ide emansipasi dalam menjawab krisis ekologis dan teknologi kontemporer. Ia menyatakan bahwa emansipasi, baik dalam tradisi Marxis maupun liberal, bersifat antroposentris—berpusat pada manusia—dan karenanya gagal memahami relasi manusia dengan alam.

Sebagai alternatif, ia menawarkan pemikiran filsuf Prancis Bruno Latour. Latour menolak dikotomi manusia-alam dan mengajukan konsep bahwa segala entitas, baik manusia maupun non-manusia, adalah aktor dalam jaringan relasional. Menurut Latour, pengetahuan bukan hasil murni dari rasionalitas manusia, tetapi konstruksi kolektif yang melibatkan banyak aktor: ilmuwan, laboratorium, instrumen, bahkan hewan uji dan dokumen.

Pandemi COVID-19, kata Prof. Robet, menjadi bukti bahwa manusia dan alam tidak dapat dipisahkan. Krisis ini bukan hanya soal medis, tetapi juga sosial, etis, dan filosofis. Filsafat, tegasnya, tetap penting dalam menjawab pertanyaan mendasar tentang makna, tujuan, dan tanggung jawab.

Nasionalisme dan Representasi Alam

Selanjutnya, Prof. Robet mengaitkan filsafat Latour dengan nasionalisme Indonesia. Ia menunjukkan bagaimana lagu-lagu nasional mengangkat alam sebagai simbol identitas dan perjuangan. Namun, dalam praktik nasionalisme modern, alam sering direduksi menjadi objek estetika atau properti.

Contoh paling nyata adalah tambang Grasberg di Papua. Di sana, teknologi merobek tubuh gunung demi ekstraksi tambang, menciptakan paradoks antara kemajuan dan kehancuran. Nasionalisme, menurut Prof. Robet, harus bergerak dari romantisme tanah air menuju pengakuan atas alam sebagai subjek hukum dan politik.

Ia menawarkan konsep “de-growth” atau demokratisasi pertumbuhan—yaitu menghentikan ekspansi yang merusak, mengalihkan sumber daya untuk kebutuhan dasar rakyat, dan memperluas layanan publik serta keadilan sosial. Dalam konteks ini, politik harus membuka ruang bagi alam untuk direpresentasikan sebagai aktor yang terdampak dan berdampak.

Epilog: Harapan dari Reruntuhan

Mengakhiri orasinya, Prof. Robet tidak ingin audiens pulang dalam kesedihan. Ia membagikan kisah jamur Matsutake yang tumbuh di hutan rusak Oregon, sebagaimana ditulis oleh antropolog Anna Tsing dalam “The Mushroom at the End of the World.” Jamur ini hanya bisa tumbuh dalam ekosistem yang telah dirusak, dan justru di situlah muncul peluang hidup baru.

Kisah ini menjadi metafora akan harapan: bahwa dalam reruntuhan, manusia masih bisa menemukan cara untuk hidup. Bahwa dalam kehancuran ekologis dan krisis modernitas, kita masih dapat mencari celah untuk membangun kembali—dengan filsafat, sains, dan kebijaksanaan.

Demikianlah orasi ilmiah Prof. Robet: sebuah ajakan reflektif untuk menata ulang hubungan kita dengan alam, teknologi, dan sesama—bukan dengan semangat emansipasi yang lama, tetapi dengan visi baru: ekosipasi.**


Jakarta,12 Juni 2025

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!