MOSI TIDAK PERCAYA TERHADAP RAPIM DAN MUSDA KNPI VERSI RYANO PANJAITAN YANG INKONSTITUSIONAL


MOSI TIDAK PERCAYA TERHADAP RAPIM DAN MUSDA KNPI VERSI RYANO PANJAITAN YANG INKONSTITUSIONAL

_Ketika Konstitusi Dilanggar, Marwah Pemuda Dihancurkan_

Oleh: Cleatus.A

Apa yang terjadi di Papua Pegunungan bukan sekadar persoalan lokal, melainkan potret kecil dari krisis moral dan konstitusi yang melanda organisasi kepemudaan di Indonesia. Pola pelanggaran hukum organisasi yang terjadi di tingkat nasional antara Ryano Panjaitan dan Noer Farikhasyah melawan Haris Pratama yang sah secara konstitusional, kini menjalar ke daerah.

Kongres dan Musda KNPI versi Ryano–Noer telah memupuk budaya manipulatif dan oportunistik. Kini pola itu direplikasi di Papua Pegunungan. Proses Pleno, Rapim, dan Musda dijalankan dengan cara-cara yang menabrak AD/ART dan PO organisasi. Kuorum diabaikan, syarat pencalonan dipermainkan, bahkan kritik dibalas dengan kekerasan fisik.

Padahal, KNPI seharusnya menjadi laboratorium demokrasi, tempat generasi muda belajar berdebat dengan etika dan berorganisasi dengan integritas. Namun, yang tampak kini justru sebaliknya, panggung kepemudaan berubah menjadi arena politik kotor dan kepentingan sempit.

Karena itu, kami menyatakan mosi tidak percaya terhadap DPP KNPI versi Ryano Panjaitan. Ketidakpatuhan terhadap konstitusi organisasi, pengabaian prinsip transparansi, dan penggunaan kekerasan untuk menutupi kritik, jelas menunjukkan bahwa kepemimpinan mereka tidak layak dipercaya untuk menuntun pemuda Indonesia.

Ketika konstitusi dilanggar, marwah pemuda dihancurkan. Ketika kritik dibungkam, nalar publik dipasung. Dan ketika kekuasaan menjadi tujuan, maka idealisme dikubur hidup-hidup.

Lebih memprihatinkan lagi, di tengah upaya pemerintah menata pembangunan Papua Pegunungan, muncul indikasi dana hibah justru digunakan untuk menopang organisasi yang tak berproses sesuai aturan main. Cara seperti ini bukannya memperkuat karakter pemuda, tetapi justru mengikis idealisme dan menanamkan budaya oportunisme.

Kehancuran pemuda tidak bermula dari kemiskinan, tetapi dari kesombongan tanpa pengetahuan. Ketika seseorang merasa paling benar, namun miskin pemahaman konstitusi, di situlah awal kehancuran generasi. Pemuda yang membenarkan kecurangan hari ini, dia tidak sadar bahwa dia sedang menulis kebodohan untuk generasinya sendiri.

KNPI Papua Pegunungan harus kembali ke jati dirinya sebagai rumah besar pemuda yang berdiri di atas konstitusi, bukan hasil manipulasi. Kegiatan yang tidak berpedoman pada AD/ART tidak layak disebut Rapim atau Musda. Itu hanya ritual politik murahan yang mencoreng kepercayaan publik dan merusak marwah KNPI.

Pemuda Papua Pegunungan harus berani berkata “tidak” terhadap segala bentuk pelanggaran, manipulasi, dan arogansi organisasi. Karena yang sedang dibangun bukan sekadar struktur, melainkan peradaban akal sehat dan moral kepemimpinan.

KNPI seharusnya menjadi ruang dialog, bukan arena kekerasan. Pemuda yang menggunakan kekerasan untuk menutup mulut kritik yang argumentatif sesungguhnya sedang memperlihatkan kebodohan intelektualnya sendiri. Sebab, di mana akal sehat berhenti bekerja, di situlah otot mulai berbicara.

Pemuda yang berjiwa besar akan menanggapi kritik dengan argumentasi, bukan dengan pukulan. Sebab kekuatan sejati pemuda tidak diukur dari otot dan suara keras, melainkan dari kemampuan berpikir, berdiskusi, dan menghormati perbedaan pendapat.

Kekerasan fisik hanyalah tanda bahwa seseorang kalah dalam berpikir. Dialog adalah senjata orang berilmu, sedangkan kekerasan adalah pelarian orang lemah.

Pemuda Papua Pegunungan, jika Anda menginginkan proses KNPI yang benar, mari bergabung bersama gerbong Haris Pratama. Jika Anda memilih proses organisasi yang inkonstitusional, silakan bertahan dengan gerbong Panjaitan.***

Wa…wa..wa.. Nayaklak, Kinaonak, Nare, Yepmum, Wiwao, Waldak.


Papua Pegunungan, 12 November 2025
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!