*Perang Bharatayuda Versi Negeri Konoha Yang Kembali Terulang*
Oleh : Jacob Ereste
Banten, 10 Juli 2026
Seingat saya, di rumah kami beras saja tak pernah lebih dari 50 kilogram. Lalu membayangkan adanya 74 kilogram emas yang menumpuk bersama uang dollar yang sedang melambung seperti sedang melecehkan uang rupiah, dapat dibayangkan seperti pasangan suami istri di seberang rumah yang selalu bertikai ketika harus menghitung nilai upah minimum yang tidak pernah klop untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga harus gali lubang dan menutup lubang persis narasi lagu rakyat yang pernah menduduki puncak popularitas untuk menggambarkan kondisi obyektif Oemar Bakrie yang sebelumnya sempat bermimpi berbulan madu ke bulan.
Dalam kisah drama “Cicak vs Buaya” dulu yang tersisa dalam ingatan tak jelas penyelesaiannya. Lalu muncul narasi baru semacam kisah pesaingnya “Gajah vs Banteng” seakan menjadi bukti dari perseteruan yang sesungguhnya sedang terjadi di negeri Konoha yang sulit dipahami dalam perspektif ramalan Jayabaya ratusan tahun silam. Sebab wawasan Nusantara — setelah menjadi negara kesatuan Indonesia — justru tidak cuma melupakan sejarah masa silam belaka, tapi juga kearifan lokal dari pola hidup sederhana dipaksa diubah menjadi hidup yang memberhalakan harta benda serta kejayaan yang melimpah tanpa perlu menyisakan sedikitpun bagi orang lain.
Semangat dari perlombaan untuk kaya raya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ini seperti percikan dari semangat kemerdekaan yang salah ditafsirkan seperti ayat-ayat dari kitab suci yang dipakai hanya untuk membangun kebenaran dari perilaku dan tindakan yang salah. Kecuali itu, ayat-ayat suci itu ternyata juga diyakini dapat menjadi topeng pelindung untuk menutupi perilaku jahat, kemunafikan, keculasan maupun pengkhianatan termasuk pada diri sendiri yang hidup dalam suasana glamour penuh rumbai-rumbai imitasi untuk sekedar pencitraan diri seperti melakukan ibadah dengan semangat fashion show, kendati apa yang dipamerkan itu sendiri tidak menjadi pakaian untuk diri sendiri.
Mungkin inilah esensi dari makna snobis dalam tafsir paling modern dari kamus anak gaul masa kini yang tak lagi merasa cukup untuk disebut generasi milenial dan gen Z. Sehingga dari sisi yang lain, hasrat untuk lebih kaya dari mereka yang super kaya tengah menjadi trend seperti birahi untuk menjadi penguasa, meski tidak memiliki kapasitas — kredibilitas serta etikabilitas dan integritas — seperti kegemaran memasang titel atau pun gelar palsu yang bisa dibeli di Pasar Pramuka, Jakarta Timur.
Perang tanding yang telah menjadi epos dalam perseteruan antara Pandawa vs Korawa yang tengah diputar ulang dalam sejarah hari di negeri Konoha justru lebih seru karena tidak lagi diidentifikasi mana yang Pandawa dan mana yang berasal dari keluarga Korawa. Padahal inti ceritanya sama, yaitu memperebutkan tahta di Hastinapura. Masalahnya bukan masalah siapa yang harus menang dan pasti kalah, tetapi mengapa harus berperang jika sungguh hendak berbuat baik untuk keharmonisan hidup bersama. Artinya, ada egosentrisitas untuk lebih unggul dan lebih gagah dari yang lain. Jadi masalahnya bukan lagi masalah dharma tapi soal eksistensi yang tidak memiliki relevansi dengan kepentingan rakyat banyak.
Maka itu, masalah kebenaran yang harus ditegakkan, kejujuran yang perlu dilakukan serta keikhlasan untuk menata kehidupan yang harmonis, nyaman dan aman memang wajib dan patut dilakukan, tapi bukan demi dan untuk kepentingan diri sendiri. Sebab rakyat — meski dianggap tidak ikut terlibat — adalah pihak yang akan sangat merasakan dampaknya, terutama yang negatif sifatnya.
Memang, ketika jalan terbaik sudah mengalami kebuntuan, untuk menegakkan kebenaran terpaksa harus dilakukan melalui kerang agar dapat melihat nilai yang lebih baik yang lebih jelas dan terang untuk menjadi acuan dan pegangan semua pihak, seperti perang Iran melawan Israel yang jelas dan terang disponsori Amerika Serikat. Dan Amerika Serikat pun tak hanya harus menanggung rugi, tapi juga harus menanggung malu yang tercatat dalam sejarah keserakahan manusia di bumi. Persis seperti sinopsis cerita dramatik yang tengah terjadi di negeri kita hari ini.**
——-
![]()
