Mahasiswa UNNES Teliti Kearifan Lokal Jawa Untuk Pulihkan Korban Sekstorsi

Mahasiswa UNNES Teliti Kearifan Lokal Jawa Untuk Pulihkan Korban Sekstorsi


Oleh : Nur Fateah
Dosen Pendidikan Bahasa Jawa FBS Unnes


Maraknya ancaman dan pemerasan berbasis konten intim (sekstorsi) di ruang
digital mendorong tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-RSH) Universitas Negeri
Semarang mencari pendekatan pemulihan yang dekat dengan pengalaman korban. Berangkat
dari kegelisahan atas stigma, rasa malu, dan minimnya dukungan yang kerap membuat
penyintas bungkam, tim menempatkan kearifan lokal Jawa sebagai pintu masuk pemulihan
yang manusiawi. Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-RSH) Universitas Negeri
Semarang meneliti bagaimana kearifan lokal Jawa membantu penyintas sekstorsi pulih dari
trauma melalui bingkai Post-Traumatic Growth Theory (PTG). Tim ini diketuai oleh Maharani
Jiny Prasanda dengan anggota Nabilatun Nisa, Siti Qoni’ah, Cikal Madani, dan Haikal
Erlangga Dharmaputra. Fokus riset menyoroti tiga laku budaya yang saling menguatkan:
1. Mangasah mingising budi: mengasah kejernihan batin, menerima emosi tanpa
menyalahkan diri, meneguhkan martabat, dan memulihkan rasa aman.
2. Memasuh malaning bumi: “membersihkan” hal-hal yang buruk mengurangi stigma,
merapikan jejak digital, menyimpan bukti, serta menyiapkan langkah pelaporan yang
aman.
3. Hamemayu hayuning bawana merawat harmoni diri sesama lingkungan melalui
dukungan sosial, bahasa yang memulihkan, dan jejaring sosial yang ramah.
Temuan awal (PTG):
1. New possibilities: kemungkinan baru dalam arah hidup dan kesempatan pengembangan 2. Appreciation of life: lebih mengapresiasi kehidupan dan memaknai keselamatan atau
pendidikan.
3. Spirituality change: perubahan intensitas spiritualitas dan pendalaman makna
pengalaman.
4. Personal strength: kekuatan pribadi untuk menetapkan batas, berkata “tidak”, dan
mengambil keputusan aman.
5. Relating to others: penguatan relasi sosial, lebih terbuka mencari dukungan keluarga,
teman, dan komunitas sosial.
Temuan awal menunjukkan tanda pertumbuhan pascatrauma: apresiasi hidup meningkat,
relasi lebih hangat, dan kepercayaan diri tumbuh. Tim berharap rekomendasi ini mendorong
ekosistem kampus yang lebih ramah korban mulai dari kebijakan jelas, layanan konseling
mudah diakses, hingga literasi digital berkelanjutan. Intinya, memadukan nilai budaya Jawa
dengan pendekatan ilmiah memberi ruang pulih yang manusiawi dan berdaya bagi penyintas
sekstorsi.**


Semarang, 15 Oktober 2025
—-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!