Prof. Dr. H. Achmad Sanusi, SH, MPA: Menjaga Api Nilai di Tengah Krisis Pendidikan


Prof. Dr. H. Achmad Sanusi, SH., MPA:
Menjaga Api Nilai di Tengah Krisis Pendidikan

Oleh:
*Masduki Duryat*
_(Rektor Institut Studi Islam al-Amin Indramayu dan Dosen Pascasarjana_
_UI Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon)_

Wafatnya Prof. Dr. H. Achmad Sanusi—Mantan Rektor IKIP (UPI) dulu dan Rektor serta Direktur Sekolah Pascasarja Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung bukan sekadar kehilangan seorang akademisi senior; ia adalah penanda sunyi bahwa dunia pendidikan Indonesia kembali ditinggalkan oleh salah satu penjaga nilai yang paling konsisten.

Di tengah riuh kebijakan yang sering berganti arah, pemikirannya justru terasa semakin relevan—bahkan mendesak—untuk dibaca ulang. Ironisnya, ketika pendidikan kita semakin teknokratis, kita justru kehilangan fondasi filosofis yang selama ini diperjuangkan oleh Prof. Achmad Sanusi.

Saya mengenalnya bukan hanya sebagai pemikir besar, tetapi sebagai—meminjam Bahasa beliau—“driving force” yang tak pernah padam—bahkan ketika usia tak lagi muda, semangatnya dalam mendidik dan mengawal ilmu tetap menyala.

*Pendidikan yang Kehilangan Jiwa*
Salah satu kritik paling tajam yang dapat diarahkan pada sistem pendidikan hari ini adalah reduksinya menjadi sekadar mesin produksi lulusan. Dalam konteks ini, gagasan Enam Sistem Nilai yang dirumuskan oleh Prof. Achmad Sanusi menjadi sangat urgen dan relevan. Ia tidak melihat pendidikan sebagai proses _linear_ transfer ilmu, melainkan sebagai konstruksi manusia seutuhnya—yang teologis, etis, estetis, logis, fisik, dan teleologis (Sanusi, 2017).

Namun realitasnya, pendidikan kita lebih menonjolkan nilai logis semata—itu pun dalam bentuk yang sempit: capaian kognitif dan skor ujian. Dimensi teologis sering direduksi menjadi formalitas ritual, nilai etis terkikis oleh pragmatisme, dan nilai teleologis nyaris hilang dalam orientasi jangka pendek.

Di sinilah kritik Prof. Achmad Sanusi menemukan momentumnya: pendidikan telah kehilangan jiwa, karena nilai tidak lagi menjadi fondasi, melainkan sekadar aksesoris.

*Kepemimpinan Pendidikan: Antara Visi dan Administrasi*
Sebagai seorang ahli di bidang Ilmu Hukum, Administrasi Publik (Manajemen Organisasi), dan Ilmu Pendidikan, Prof. Sanusi memahami betul bahwa pendidikan tidak akan bergerak tanpa tata kelola yang kuat. Namun ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan pendidikan tidak boleh terjebak pada rutinitas administratif. Pemimpin pendidikan harus visioner—mampu membaca masa depan sekaligus menjaga identitas (Sanusi, 2009).

Masalahnya, banyak pemimpin lembaga pendidikan hari ini justru terjebak dalam manajemen administratif yang kaku. Mereka sibuk dengan laporan, akreditasi, dan indikator kinerja, tetapi kehilangan keberanian untuk melakukan lompatan visioner. Akibatnya, lembaga pendidikan berjalan stabil, tetapi tidak progresif.

Dalam perspektif Prof. Sanusi, stabilitas tanpa visi adalah stagnasi. Kepemimpinan yang hanya menjaga sistem tanpa mengarahkannya pada masa depan adalah bentuk kegagalan yang halus tetapi sistemik. Pendidikan membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu mengelola, tetapi juga menginspirasi dan mentransformasikan.

*Integrasi Ilmu dan Iman: Antitesis Sekularisasi Pendidikan*
Gagasan integrasi ilmu dan iman yang diperjuangkan Prof. Sanusi merupakan kritik langsung terhadap sekularisasi pendidikan. Ia menolak dikotomi antara ilmu sebagai produk rasional dan agama sebagai wilayah spiritual. Bagi Prof. Sanusi, keduanya harus bertemu dalam praksis pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan (Sanusi, 1995).

Pada pengalaman saya sebagai mahasiswa doktoral angkatan X yang lulus pada tahun 2014, pesan ini tidak pernah ia sampaikan secara teoritis belaka. Ia hidup dalam keteladanan. Dalam satu kesempatan perkuliahan, beliau pernah menegaskan dengan penuh energi: _“Ilmu itu harus menjadi driving force—penggerak kehidupan. Jangan hanya berhenti di kepala, tetapi harus mengalir menjadi amal dan memberi manfaat bagi umat.”_ Kalimat ini sederhana, tetapi menggambarkan keseluruhan filosofi hidupnya.

Dalam konteks kekinian, gagasan ini sering disalahpahami sebagai upaya “mengagamisasi” ilmu. Padahal yang dimaksud Prof. Sanusi justru sebaliknya: membumikan ilmu agar tidak kehilangan orientasi kemanusiaan. Ilmu tanpa iman berpotensi menjadi alat eksploitasi, sementara iman tanpa ilmu berisiko jatuh pada dogmatisme.

*Pancasila sebagai Sistem Nilai yang Terpinggirkan*
Prof. Sanusi juga menempatkan Pancasila sebagai kekuatan integratif dalam kehidupan berbangsa. Ia melihat Pancasila bukan hanya sebagai ideologi negara, tetapi sebagai sistem nilai yang harus hidup dalam perilaku individu dan institusi (Sanusi, 1994).

Namun dalam praktiknya, Pancasila sering kali direduksi menjadi hafalan normatif. Ia tidak hadir sebagai kerangka berpikir, apalagi sebagai pedoman bertindak. Pendidikan Pancasila kehilangan daya transformasinya karena diajarkan tanpa konteks dan tanpa keteladanan.

Di sinilah letak kritik Prof. Sanusi yang paling mendalam: tanpa internalisasi nilai, pendidikan hanya akan melahirkan individu yang cerdas secara intelektual tetapi rapuh secara moral. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya masalah pendidikan, tetapi ancaman bagi keberlanjutan bangsa.

*Warisan yang Belum Selesai*
Pemikiran Prof. Achmad Sanusi sesungguhnya adalah proyek yang belum selesai. Ia menawarkan kerangka konseptual yang utuh, tetapi implementasinya masih jauh dari harapan. Tantangan kita hari ini bukan sekadar mengagumi gagasannya, tetapi mengujinya dalam realitas yang semakin kompleks.

Yang paling saya ingat dari beliau bukan hanya gagasan-gagasannya, tetapi energi intelektualnya yang tak pernah surut. Di usia senja, ia tetap hadir sebagai penggerak—seorang _driving force_ dalam arti yang sesungguhnya. Ia mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi menyalakan kesadaran.

Di tengah perubahan global, digitalisasi, dan disrupsi sosial, pendidikan membutuhkan fondasi nilai yang kokoh. Tanpa itu, kita hanya akan menghasilkan generasi yang adaptif secara teknis tetapi kehilangan arah secara eksistensial.

Maka, ‘berpulangnya’ Prof. Sanusi seharusnya tidak hanya diratapi, tetapi dijadikan momentum refleksi. Apakah kita masih melihat pendidikan sebagai proses pemanusiaan, atau telah mereduksinya menjadi sekadar instrumen ekonomi?

Jika pertanyaan ini tidak segera dijawab, maka yang hilang bukan hanya seorang Prof. Achmad Sanusi, tetapi juga masa depan pendidikan itu sendiri dan Prof. Sanusi akan merasa gagal, ‘menangis’, kalau ide-ide besar, serta gagasan-gagasannya tidak dilanjutkan oleh kita, mahasiswanya dan para ‘pewaris’ pemikirannya.

Indramayu, 24 Juni 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!