Spiritualitas Untuk Membangun Jati Diri Yang Kuat dan Ugahari

Spiritualitas Untuk Membangun Jati Diri Yang Kuat dan Ugahari

Oleh : Jacob Ereste

Tradisi berpikir intelektual memang harus dikembangkan di semua bentuk aktivitas dan kegiatan agat ada dinamika berpikir yang semakin cerdas. Karena itu, hasrat untuk berbicara harus dijaga keseimbangan dengan hasrat untuk mendengar, sebab yang banyak terjadi — utananya fi kalangan aktovis pergerakan birahi untuk berbicara menggagahi hasrat untuk mendengar. Bahkan dalam berbagai kesempatan diskusi ilmiah, tidak sedikit dari mereka setelah pasang omong panjang lebar terus meninggalkan forum, tak hendak mendengar argumen atau sanggahan hingga ide maupun gagasan dari orang lain. Inilah tradisi feodal yang terus bertimbuh dalam budaya demokrasi yang hendak dibangun di negeri kita yang terlanjur memgklaim sebagai salah satu negara demokratis di dunia. Sementara para pelaku dan mereka yang merasa paling heroik membangun demokrasi, sifat dan sikapnya tidak cuma feodal, tapi sontoloyo berat.

Dalam berbagai komunitas bahkan ada diantara mereka yang memposisikan sebagian besar anggota kelompok yang ada di dalamnya sebagai pendengar yang dianggap tidak memiliki hak untuk berbicara. Karena itu kesadara spiritual diperlukan untuk mengasah kepekaan tak hanya sebatas tenggang rasa, sikap menghornati eksistensi dan hak orang lain, tetapi juga kesabaran serta sikap tendah hati memberi porsi yang sama bagi oranv lain. Sehingga kedadaran terhadap pemahaman untuk merasa lebih super dari orang lain dapat dikendalikan, seoerti kesasaran dan keyakinan bahwa di atas langit masih ada langit.

Biasabya egisentrisitas untuk lebih dominan berbicara daripada keinginan untuk mendengar, tidak saja didorong oleh egosentrisitas yang berlebih tak terkendali hingga buas dan liar merasa lebih hebat dari orang lain. Sikap rendah hati dan ugahari ini hanya mungkin diperoleh dengan menekuni laku spiritual dengan serius untuk mementapkan sikap dan sifat yang lebih matang, bukan untuk menggagahi orang lain. Maka itu dalam laku spiritual, sikap jujur, rendah hati, tenggang rasa, kepekaan menangkap ucapan yang tidak dikatakan melalui upaya mengasah kepejaan batin, intuisi, sensitifitas penglihatan, pendengaran, bahasa tubuh hingga isyarat yang terdembunyi di lubuk hati orang lain dapat dipetakan seperti atlas yang merinci posisi dan tempat tertentu untuk bisa diisi dan dikunjungi dengan cara yang penuh empati.

Sifat dan sikap toleransi, tenggang rasa, pernaafan dan permaluman harus dapat diwujudkan dalam tajaran proporsi yang wajar dan patut sebagai kelengkapan dari sijap dan sifat yang bijak, sehingga egosentrisitas dan sidat dan sikap ambisius dapat dikendalikan agar dapat tampil lebih paripurna tanpa harus dilakukan secara berlebihan, dimana sifat dan sikap yang ugahari, sederhana tidak berlebihan seperti sanjungan para penjilat tidak menjadi bumerang yang menghantam diri sendiri.

Dalam kesadaran dan pemahanan serta pendalanan laku spiritual yang semakin matang, sikap dan sifat penjilat pun harus dihindari. Setidaknya, dalam laku spiritualitas yang murni dan sejati, jauh dari keinginan untuk pencitraan, sebab spiritualitas yang otentik adalah untuk memperkuat dan memperkukuh jati diri yang jelas tercermin dalam prilaku yang semakin merunduk dan rendah hati.


Banten, 7 November 2026
—-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!