Oleh : Jacob Ereste
Perilaku Polisi pada umumnya memang seperti yang ditunjukkan dengan arogan dalam penggrebekan dan pendobrakan tempat kediaman santri wanita di Sukoharjo, Jawa Tengah akibat dari dugaan yang salah menganggap santri wanita dari Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an yang dijadikan tersangka pembakaran, ancaman dan perusakan warung di Desa Parangjoro, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah yang menyajikan menu dari daging babi pada pada 12 September 2026.
Luka yang menyayat hati para santri wanita yang mendapat perlakuan di luar pertimbangan kenanusian ini, tak hanya dirasakan oleh kekuarga santri wanita, juga tidak cuma bagi seluruh pengurus dan penghuni pondok pesantren tersebut, tapi juga terasa mengiris rasa kemanusiaan bagi masyarakat luas, sehingga saya sebagai penulis merasa sangat kecewa dan kesal, mengingat reformasi Polri baru saja usai dilakukan, untuk mengkoreksi prilaku setiap aparat yang selama ini dirasakan menjadi momok — hantu yang menakutkan bagi rakyat kebanyakan, sehingga tak cuma enggan berurusan dengan pihak kepolisian, tapi juga sekedar untuk memendang kegadiran polisi di berbagai tempat dan kesempatan menjada enggan dan memuakkan. Maka itu, perilaku anggota polisi seperti kejadian yang memakukan di Sukoharjo itu, tidak cukup untuk dimutasi, karena lebih layah dan pantas dipecat.
Apalagi kemudian, ditambah sosok Polisi yang kini tampak kembali gentayangan di jalan raya untuk melakukan razia kendaraan bermotor yang menunggak pajak. Padahal, lada umumnya rakyat yang menunggak pajak itu karena sedang dihimpit oleh beban ekonomi yang semakin berat. Dan berbagai usaha sekedar untuk bertahan hidup, sudah tidak alang kepalang beratnya.
Lalu bagaimana hasil dari reformasi Polri yang harus dilakukan secara menyeluruh dan tuntas, sehingga alternatif instansi Kepolisian kadi terancam untuk diletakkan dibawah kenenterian ? Hingga desakan untuk mencopot dan mengganti Kapolri dengan sikap dan sifat yang lebih manusiawi dapat segera diwujudkan ?
Agaknya, Kapolri yang baru, Jendral Pol. Suyudi Ario Seto sejak dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 1 Oktober 2026, jadi baru sebelum lebih beberapa hari, kembali menuai badai yang sangat menyayat hati rakyat. Padahal sebelumnya, sempat menyburatkan harapan besar dengan tampilan di berbagai pengajian atau ceramah di kalangan umat beragama, sehingga cukup mengesankan dan sekaligus menyejukkan, seakan-akan siraman rohani yang dilakukan dapat semakin membuat lembut hati setiap aparat penegak hukum yang sungguh melakukan fungsi dan tigasnya untuk mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat, tidak justru menjadikan warga mssyarakat dijadikan sapi perah dan obyek untuk melipatgandakan prestasi semu dan pujian palsu untuk menggamit pencitraan dalam kebohongan dan kemunafikan.
Kritik keras ini sengaja diungkapkan untuk membuktikan bahwa Polri sungguh ingin mendengar ungkapan jujur dari warga masyarakat seperti yang diungkapkan pada berbagai kesempatan, termasuk saat Polri mengadakan konorensi pers tekait kasus warung babi yang dibakar dan dirusak oleh warga masyarakat, akibat dari tidak tanggap dan sikap abai terhadap keluhan warga masyarakat. Artinya, dari penggrebekan dan pendobrakan tempat hunian santri wanita yang tidak beradab ini, membuktikan betapa bobrok etika, moral dan akhlak mulia yang harus dimiliki oleh setiap personil polri, agar tidak culas dan songong.
Padahal, seruan dan praktik dari gerakan kebangkitan kesadaran spiritual yang sudah dilakukan secara intensif dan agresif kepada seluruh lapisan masyarakat, teristimewa untuk institusi Polri melalui personal yang berada di dalam tubuh Polri sudah lebih dari cukup dilakukan oleh sahabat dan kerabat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) untuk memancangkan kembali pondasi etika, moral sebagai pembingkai akhlak manusia yang memiliki fitrah dari Tuhan sebagai khalifatullah fir’ardhi.
Untuk itulah saran terbaik kepada Kapolri Suyudi Ario Seto sebagai penyandang amanah mulia untuk mengayomi, melibdungi dan melayani masyarakat dengan tulus dan ikhlas, jujur dan adil perlu dibuktikan sebagai putra Banten yang memiliki intehritas, komitmen dan konsistensi untuk menjunjung tinggi pula marwah dan hargi diri dari para leluhur suku bangsa Banten yang terkenal religius dan sangan spiritualitas dalam menata hidup dan kehidupan secara probadi, dalam keluarga, kelompok apalagi untuk korp Kepolisian Republik Indonesia yang juga sangat percaya pada falsafah bangsa Indonesia, yaitu Pancasila dan cita-cita luhur kemerdekaan yang telah ditebus oleh semua leluhur kita dengan ketingat, air mata dan darah hingga nyata berikut harta dan benda yang sangat tidak ternilai.
Dalam pengertian dan istilah filsafat suku bangsa Bangen memiliki dua jantung yang berdetak bersamaan. Yaitu _pikukuh_ serta _jawara dan ulama_ hingga saat Sultan Maulana Hasanuddin tampil semuanya diraut dan diruwat dengan syariat sehingga semakin menguat dan jelas keyakinan — iman — didada, dan agama sebagai panglima. Sehingga tiga tatanan akhlakul karimah dari Syekh Nawawi Al Bantani — ulama besar Benten dari Tanara — sampai debus sebagai wujud dari penguat ruh, hingga kemudian diwujudkan dalam silih asah. silih asuh dan silih wawangi. Jadi falasah pikukuh dan jawara harus dijaga dan tidak berubah dengan iman.
Dan suku bangsa Banten bangga bila Suyudi Ario Seto mau dan bisa mewujudkan marwah para penghuni wilayah santri yang sesungguhnya sangat simbolik dari sebutan Ujung Kulon yang dinaungi anak dan Induk Krakatau yang mampu menggetarkan dunia.
Banten, 3 November 2026
—–
![]()
