Mengenal dan Memahami Diri Sendiri Untuk Mengenal dan Memahami Keberadaan Tuhan

Oleh : Jacob Ereste

Ungkapan yang penuh hikmah dalam dunia tasawuf : Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu _Barang siapa mengenal dirinya, dia telah mengenal Tuhan_ Sehingga untuk mengenal Tuhan, manusia harus mengenal dirinya sendiri. Sebab dengan begitu tanda-tanda _Kebesaran Tuhan_ ada di dalam diri setiap manusia. Mulai dari yang terlihat hingga yang samar maupun yang tersembunyi dalam diri seriap orang. Karena itu pula, kaum sufi atau spiritualis percaya bahwa Tuhan itu ada di dalam setiap diri manusia, kendati Tuhan tetap diyakini dan dipercaya tetap satu adanya, seperti keyakinan dan kepercayaan dari setiap umat beragama yang berbeda-beda cara memahami keberadaan dari Tuhan.

Dari perbedaan cara pandang meyakini dan memahami keberadaan Tuhan dalam setiap diri manusia inilah, jalan spiritual mampu mempertemukan umat beragama, terutama untuk berjalan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kasih dan Maha Penyayang. Dalam perspektif Ketuhanan kaum sufi dan spiritualis percaya bahwa Tuhan ada di dalam setiap diri manusia. Artinya. tidak berarti Tuhan itu banyak, seperti yang tercantum dalam sila Pancasila : Ketuhanan Yang Maha Esa. Bedanya hanyalah dapam cara manusia memahami dan merasakan kehadiran Tuhan, sesuai dengan agama dan kepercayaan keyakinan masing-masing. Dan dari perbedaan cara meyakini keberadaan Tuhan inilah. jalan spiritual mampu mempertemukan kerukunan umat beragama. Karena tujuan dari perjalanan spiritual — apapun agamanya — mengarah pada tujuan yang sama, mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta, pemilik langit dan bumi serta seisinya, termasuk makhluk yang ada.

Dalam perspektif keagamaan pun, Brahmana asyik masuk ke kedalaman dirinya hingga menemukan keberadaan Tuhan dalam dirinya. Sehingga ada keyakinan bahwa rasawuf dan catur warna jalan mengenai diri, cukup menarik untuk dibahas dan direnungkan makna filosufisnya. begitulah ungkapan yang penuh hikmah dalam dunia tasawuf : Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.Intinya adalah manusia yang mengenal dirinya dengan baik, ajan mengenal Tuhan. Karena itu, oerhalan spiritual sesungguhnya masuk ke kedalaman diri — lubuk hati — batin dan ruh yang ada di dalam diri masing-masing. Melihat betapa besarnya Tuhan dalam perbandingan dengan duri manusia. Ia mencoptakan jantung yang berdegub, hati yang bergetar, naluri yang memiliki vibrasi daya tangkap yang tinggi, insting yang tangkas dan cerdas, serta rada iba pada nilai-nilai kemanusiaan yang telah dianugeahkan oleh Tuhan untuk tidak disia-siakan guna menjaga kesempurnaan arti manusia sebagai makhluk paling mulia dari makhluk lainnya. Sebab manusia memiliki sifat iblis dan syaitan serta malaikat. Bahkan lebih fulgar dari binatang jenis apapun.

Karenanya, perilaku jahat, pembohong, penghasut, tamak, rakus, egois, penuh beragam macam jenis nafsu ada pada diri manusia. Tinggal manusia yang bersangkutan untuk mengendalikan serta memanfaatkan semua itu untuk menjadi potensi dirinya yang positif serta meninggalkan nilai-nilainya yang negatif agar tidak sampai merugikan dirinya sendiri maupun bagi orang kain.


Banten, 17 Oktober 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!