Episode 1 – Kiriman Foto.
Arie bukan wartawan kota besar. Ia reporter JayaNews.Com yang biasa liput balap liar di kota dan banjir rob di Pesisir pantai.
Sampai sebuah pesan masuk ke WA nya jam 2 malam. Dari nomor tak dikenal. Isinya hanya satu foto: tiga gadis belasan tahun duduk di gudang kayu, wajahnya pucat, dan di bawah foto tertulis:
“Tolong, Pak. Desa kami di Pulau Hantu, Kepulauan Karang timbul. Adik-adik kami diculik terus. Kalau lapor, kami dibunuh.”
Arie zoom foto itu. Di latar belakang terlihat patok kayu bertuliskan PULAU HANTU- KEC. KARANG TIMBUL ? Tapi di peta , tidak ada pulau bernama itu. Hanya nelayan tua yang tahu, di ujung utara ada gugusan pulau terpencil yang tak ada sinyal.
Arie tahu, ini bukan berita biasa. Ini kejahatan kemanusiaan.
Episode 2 – Pulau Yang Diam.
Dua hari kemudian Arie menyamar jadi pembeli ikan asin. Perahu kecil membawanya ke Pulau Karang. Desa itu sunyi. Terlalu sunyi.
Ibu-ibu menunduk kalau ditanya. Bapak-bapak pura-pura memperbaiki jala. Anak gadis? Tidak ada satu pun yang terlihat di luar rumah setelah maghrib.
Di warung kopi, Arie bertemu Pak Burhan, 63 tahun, mantan guru SD yang sudah 30 tahun mengabdi di pulau itu.
“Empat tahun, Nak,” bisik Pak Burhan dengan tangan gemetar. “Sudah 11 anak gadis hilang. Mereka bilang diambil untuk kerja di kota. Padahal dijual. Kelompok Bos Karim. Mereka punya senjata. Punya kapal cepat. Bulan lalu anaknya Karman, umur 15 tahun, melawan… bapaknya ditemukan mengambang di tambak.”
“Kenapa tidak lapor polisi?” tanya Arie.
Pak Burhan menatap laut. “Polisi di sini cuma satu. Bripka Joni. Dia juga diancam. Anaknya sekolah di darat, pernah diikuti orang tak dikenal. Kami semua sandera di pulau kami sendiri.”
Malam itu Arie melihat sendiri. Dua perahu tanpa lampu merapat. Tiga laki-laki bertubuh kekar menarik paksa seorang gadis berkerudung dari rumah panggung. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang keluar. Hanya suara tangis ibu yang ditahan.
Arie merekam dengan HP dari kegelapan. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena marah.
Episode 3 – Perlawanan.
Arie tidak langsung kabur ke kota. Ia tahu kalau ia pulang sendirian, gadis itu akan hilang selamanya.
Ia temui Bripka Joni di pos pol air yang bocor atapnya. Joni menangis. “Saya sudah 2 kali buat laporan, Mas Arie. Mentok. Mereka backing kuat.”
“Kalau kita lawan sendiri-sendiri kita mati, Pak Joni. Tapi kalau kita lawan sama-sama, kita punya kesempatan,” kata Arie.
Rencana gila itu disusun di rumah Pak Burhan tengah malam, hanya bertiga. Lampu dimatikan.
Pak Burhan tugasnya: kumpulkan semua bapak-bapak yang masih punya nyali. Bukan untuk berkelahi, tapi untuk menjadi saksi. Untuk pertama kalinya dalam 4 tahun, mereka akan menyalakan obor bersama.
Bripka Joni tugasnya: hubungi Polres kota lewat radio HT tua, minta bantuan tim khusus. Sinyal harus dari atas mercusuar, tempat paling tinggi di pulau.
Arie tugasnya: jadi umpan. Ia akan berpura-pura jadi pembeli dari kota yang mau beli 2 gadis. Ia akan masuk ke markas Bos Karim di ujung pulau.
Pukul 3 pagi. Hujan turun.
Di gudang pengasinan ikan yang bau amis, Arie melihat 4 gadis disekap. Bos Karim tertawa, “Wartawan? Kirain pembeli. Bagus, sekalian aja lu gua jual ginjal lu.”
Saat itulah obor menyala. Satu, dua, sepuluh, dua puluh obor menyala di sepanjang pantai. Penduduk yang selama ini diam, malam itu berdiri. Dipimpin Pak Burhan yang berteriak dengan pengeras suara masjid:
“WAHAI KARIM! CUKUP! KAMI TIDAK TAKUT LAGI! ANAK KAMI BUKAN BARANG DAGANGAN!”
Bos Karim panik. Anak buahnya bingung. Belum pernah mereka lihat perlawanan.
Di saat yang sama, dari arah laut, sorot lampu kapal patroli Polres kota membelah gelap. Bripka Joni berhasil.
Baku hantam singkat terjadi. Arie melindungi para gadis dengan tubuhnya sampai polisi datang merangsek.
Dan akhirnya semua komplotan penculik diringkus dan diminta pertanggung jawabannya sesuai dengan kejahatannya.
Epilog.
Pagi harinya, untuk pertama kalinya setelah 4 tahun, anak-anak gadis Pulau Karang bermain lagi di pantai.
Arie menulis beritanya.
——-
![]()
