Oleh; J. Hafidh Dinillah
Teknologi komunikasi diciptakan sebagai jembatan yang menghubungkan dua kepala agar dapat saling menyapa dengan jujur. Namun, hari ini kita kerap kali menyaksikan centang dua WhatsApp yang sengaja dimatikan warnanya di ruang obrolan kita . Pesan dibiarkan berwarna abu-abu dengan dalih untuk menjaga kesehatan mental atau hak privasi.
Sejatinya, kehidupan bermasyarakat, baik di dunia nyata maupun dunia maya, diikat oleh apa yang disebut sebagai kontrak sosial. Ketika dua orang memutuskan untuk saling bertukar nomor ponsel dan berkomunikasi lewat platform pesan instan, secara tidak tertulis mereka telah sepakat untuk terlibat dalam dialog yang setara dan transparan. Kehadiran indikator pesan, seperti status online dan centang biru, pada awalnya didesain untuk mereplikasi kehadiran fisik; sebuah penanda bahwa “saya ada di sini dan saya mendengarkan Anda.”
Namun, ketika fitur ini dimatikan secara sepihak, terjadilah ketimpangan informasi yang egois. Pengguna yang mematikan fitur tersebut dapat dengan bebas memantau kapan pesan orang lain dibaca. Di saat yang sama, ia menutup rapat pintu transparansi dirinya sendiri. Tindakan ini jelas mencederai keadilan kontrak sosial digital.
Analogi dari seseorang yang mematikan centang biru bagaikan seseorang yang mengintip dari balik tirai jendela yang gelap. Ia bisa melihat semua orang di jalanan dengan jelas, tetapi menolak untuk menampakkan wajahnya saat dipanggil. Mematikan centang biru membangun narasi palsu seolah-olah pesan “belum dibaca”, sehingga pelakunya memiliki alibi moral untuk menunda tanggung jawab atau bahkan menghindar sama sekali.
Menolak membalas pesan sambil menyembunyikan status baca menunjukkan ketidakdewasaan. Karena pribadi yang gentle atau ksatria tidak akan bersembunyi di balik ketidakpastian indikator aplikasi. Jika mereka belum memiliki jawaban atau belum siap menghadapi isi pesan tersebut, mereka akan secara jantan mengetik: “Saya sudah membaca pesanmu, namun saya butuh waktu untuk memikirkannya. Saya akan hubungi lagi nanti.” Kalimat sederhana ini menyelamatkan kehormatan kedua belah pihak dan menjaga kesehatan hubungan—sesuatu yang gagal dilakukan oleh taktik centang abu-abu. Istilah gentle sering kali dikaitkan dengan keberanian fisik, namun di era digital, sikap ksatria diuji lewat bagaimana kita mengelola relasi dan kata-kata.
Membaca sebuah pesan adalah sebuah tindakan yang membawa konsekuensi moral. Ketika kita mengetahui bahwa seseorang membutuhkan jawaban, konfirmasi, atau sekadar perhatian kita, sikap yang ksatria adalah memberikan kepastian.
Selain itu, budaya “menggantung” (ghosting skala kecil) ini, jika dinormalisasi, akan mengikis empati sosial. Pengguna yang mematikan centang biru sering kali merasa bahwa ketenangan pikiran mereka jauh lebih berharga daripada waktu orang lain yang sedang menunggu kepastian. Di sinilah letak hilangnya mutual respect, rasa saling menghormati. Pada tingkat yang lebih parah, ini menciptakan stratifikasi sosial yang angkuh, di mana penerima pesan merasa memiliki kuasa penuh untuk memilah-milah siapa yang layak diberi kepastian dengan cepat dan siapa yang bisa “digantung” di balik kepalsuan status abu-abu.
Menampilkan status abu-abu untuk menutupi fakta bahwa pesan sudah dibaca adalah sebuah bentuk kebohongan visual. Sistem aplikasi dimanipulasi untuk menciptakan impresi palsu yang tidak sesuai dengan realitas objektif. Ketika seseorang memberikan nomor ponselnya, ada rasa percaya (trust) bahwa jalur tersebut akan digunakan untuk komunikasi yang adil. Menggantung pesan orang lain di balik tameng abu-abu, sementara kita bebas menuntut kejelasan dari mereka, adalah bentuk pengkhianatan terhadap komitmen mutual tersebut.
Manipulasi sistem aplikasi agar terlihat seolah-olah pesan belum tersentuh —padahal sudah dilihat oleh mata dan dicerna otak — merupakan pembiaran terhadap terpeliharanya sifat Nifak Amali (munafik perbuatan). Dan itu akan akan berdampak terhadap pembentukan pribadi-pribadi yang munafiq.
Kemunafikan digital ini menjadi sangat berbahaya karena sifatnya yang “tanpa wajah.” Di dunia nyata, seseorang mungkin akan merasa malu atau canggung saat harus berbohong langsung di depan muka orang lain karena ekspresi wajah dan bahasa tubuh tidak bisa menipu. Namun, di balik layar ponsel, teknologi menyediakan bunker persembunyian yang nyaman. Kenyamanan inilah yang perlahan-lahan mengikis rasa bersalah, melatih mentalitas kita untuk menjadi pribadi yang terbiasa bersandiwara dalam hal-hal kecil.
Di titik inilah, manipulasi digital tersebut bermutasi menjadi sebuah bentuk kemunafikan yang nyata. Dalam khazanah moral dan agama, kemunafikan tidak selalu lahir dari ledakan dosa yang besar, melainkan dari akumulasi pembiaran terhadap dusta-dusta kecil yang dianggap lumrah, dan dusta yang dilakukan berulang akan membentuk seseorang menjadi pendusta, sebagaimana juga kejujuran yang dilakukan secara berulang akan membentuk pribadi yang jujur.
Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan menuntun kepada kebaikan (kebenaran), dan sesungguhnya kebaikan itu akan mengantarkan ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk selalu jujur, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang shiddiq (orang yang sangat jujur). Dan jauhilah oleh kalian perbuatan dusta (bohong), karena sesungguhnya dusta akan menuntun kepada kejahatan (kemaksiatan), dan sesungguhnya kejahatan itu akan mengantarkan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berbuat dusta dan berusaha untuk selalu berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang kazzab (pendusta).”(Muttafaq ‘alaih / HR. Bukhari dan Muslim)
Membaca pesan dan memahaminya, namun secara sadar memanipulasinya agar terlihat tak tersentuh, adalah replika sempurna dari perilaku munafik di dunia nyata. Dalam Surah Al-Mulk ayat 13, Allah SWT telah memperingatkan dengan tegas agar manusia tidak bersikap abu-abu, melainkan harus sportif dan terus terang. Sepasang centang abu-abu mungkin bisa mengelabui manusia dan bersandiwara seolah pesan belum terbaca.
“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau zahirkanlah (nyatakanlah). Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”
Melatih diri untuk menyembunyikan realitas dalam hal-hal kecil seperti indikator pesan lambat laun akan merusak integritas dalam skala sosial yang lebih besar. Jika memanipulasi status baca hari ini dianggap sebagai hal yang lumrah atas nama privasi, maka memanipulasi janji, komitmen, dan kejujuran hidup di masa depan tinggal menunggu waktu saja.*
Indramayu, 6 Oktober 2026
——
![]()
