Ajeng Ayu Lestari: Waspada Bahaya Al dan Bijak Bermedsos

Ajeng Ayu Lestari di Workshop MUI Indramayu

INDRAMAYU-JAYA-NEWS.COM – Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Indramayu menggelar Workshop dengan tema *”Meneguhkan Fitrah, Memaksimalkan Kiprah”* bertempat di Gedung Islamic Center Indramayu, Sabtu (03/10/2026).

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Umum MUI Kabupaten Indramayu H. Adlan Daie. Hadir Kapolres Indramayu AKBP Prianggo P.M., para pengurus MUI, dan 100 peserta dari perwakilan kecamatan se-Kabupaten Indramayu.

Dalam workshop tersebut narasumber kedua, Ajeng Ayu Lestari, S.St., M.Kes, selaku Pembina Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan, menyampaikan materi berjudul ” Peran Perempuan dalam Ketahanan Keluarga di Era Media Sosial”.

Narasumber mengingatkan bahaya penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang tidak terkendali. Selain merusak ekosistem, penggunaan AI seperti untuk edit foto berlebihan membutuhkan energi besar yang berdampak pada lingkungan, air bersih dan listrik.

Selain itu, peserta diajak untuk mewaspadai fenomena siber bullying, pembuatan meme yang menghina, penyebaran hoax, serta budaya flexing atau pamer di media sosial.

“Kita harus pintar-pintar. Banyak yang mem-bully tanpa tahu fakta sebenarnya, hanya karena lihat potongan video yang di-crop. Begitu juga hoax dan flexing, terutama istri-istri pejabat yang pamer tas, lalu netizen langsung menghakimi tanpa tahu kebenarannya,” ujarnya.

Ia mengajak ibu-ibu untuk bijak bermedia sosial dan menjadikan WhatsApp sebagai sarana komunikasi keluarga yang lebih sehat daripada saling berkomentar di Facebook.

Poin utama workshop adalah ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga bukan berarti keluarga tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, berkomunikasi, menyelesaikan masalah dan bangkit kembali.

“Ketahanan keluarga itu bagaimana cara kita bertahan, beradaptasi, berkomunikasi menyelesaikan dan bangkit. Kenapa perempuan yang paling penting? Karena perempuan adalah tombak untuk ketahanan keluarga,” jelasnya.

Ia mencontohkan hal kecil yang sering merusak kejujuran dalam keluarga, seperti kebiasaan istri menyembunyikan paket COD dari suami.

“Komunikasikan apa adanya, jangan saling rahasiakan. Itu contoh kecil untuk melatih kejujuran dalam keluarga,” tambahnya.

Kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta.**

Penulis : Absal
Editor : Nuryaji
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!