AGAMA-AGAMA TRADISI WARISAN LELUHUR NUSANTARA DAPAT BERMUARA DI DERMAGA SPIRITUALITAS

*Agama-agama Tradisi Warisan Leluhur Nusantara Dapat Bermuara di Dermaga Spiritualitas*

Oleh : Jacob Ereste

Agama Budi — sebagai agama asli suku bangsa Nusantara — yang kemudian bersatu menjadi bangsa Indonesia — seakan diiringi dengan hidup kembali Agama Budi yang menjadi Kapitayan, Kejawen, Sunda Wiwitan dan Kaharingan. Agama Budi membebaskan penganutnya — tidak melakukan larangan apapun — karena semua pilihan dan apa yang dilakukan dipahami memiliki konsekuensi yang harus ditanggung sendiri oleh pelakunya. Konon katanya yang paling murni adalah Agama Budi yang ada di Bali dengan sebutan Hindu Bali.

Sedangkan Sastra intinya bahwa kebenaran yang sejati itu ada di dalam rasa. Karena itu, olah rasa — lebih penting dari olah pikir — apalagi dengan oleh raga, fisik. Atas dasar inilah, agaknya spiritualitas dalam pengertian dan pemaham yang umum, relatif terkesan lebih dekat, bahkan acap dikacaukan pemahamannya, seakan-akan sesuatu yang sama, padahal berbeda. Sebab spiritual beranjak dari kesadaran beragama bahwa manusia itu hanya mungkin dapat mendekatkan diri dengan Tuhan. Namun tidak mungkin bisa disamakan dengan Tuhan untuk seorang Nabi sekalipun. Sehingga di dalam agama dipercayai bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal, tidak beranak. dan tidak sebagai Bapak. Begitulah fenomenologinya. Karena sains modern dominan membuat manusia lupa pada pengalaman batin sendiri.

Selaras dengan tolak pijak Sastra Jendra yang meyakini bahwa kebenaran yang sejati itu ada di dalam batin, sebab pikiran hanya ikut memberikan kesaksian untuk kebenaran. Begitulah dari pemahaman teori lebenswelt, kebenaran ada di dalam pengalaman yang terekam apik dan rapi di dalam batin (hati) sebelum otak berpikir tentang teori dan melakukan eksplorasi lebih jauh untuk menghasilkan suatu pemikiran, atau gagasan maupun tindakan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari yang sangat duniawi sifat maupun bentuknya.

Ragam macam agama asli Suku Bangsa Nusantara, Parmalim (Batak) yang juga masih menggunakan aksara Batak, Aluk Todolo (Toraja), Tolotang (Bugis), Marapu (Sumba), Wetu Telu (Lombok), Naurus atau Arat Sabulungan (Mentawai), Adat Zaman Tumi, atau Agama Buy Tumi (Lampung), Pasemah Agama Megalit – Puyang. Konon Agama Megalit, Pasemah peling teguh dan kuat, sehingga Hindu-Buddha yang datang pada jaman Kerajaan Sriwijaya, Agama Megalit, Pasemah tidak tergoyah, tetap berpegang pada agama warisan Puyang, para leluhur. Namun pada dasarnya semua agama tradisi warisan para leluhur yang turun temurun ini percaya terhadap kebenaran atas dasar keselarasan manusia dengan alam ciptaan Tuhan.

Dari potensi religiusitas keberagaman agama-agama tradisional warisan para leluhur suku bangsa nusantara ini jelas titik pertemuannya ada di muara spiritual yang sudah membangun relasi dengan berbagai tokoh agama, kaum intelektual, kalangan profesi serta berbagai suku bangsa Nusantara dalam jalinan persaudaraan yang telah melampaui ikatan perkawanan. Karena hanya dalam laku spiritual kebersamaan yang setara, tanpa diskriminasi dan tiada membedakan antara yang satu dengan lainnya. Sebab jalinan persaudaraan dalam konsepsi spiritualitas yang sejati adalah kebersamaan untuk mendekatkan diri disisi Tuhan.**


Banten, 30 September 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!