GEBYAR NADA DAN DAKWAH : TAFSIR INTIMATE LIRIK PUITIS EBIET G. ADE, RUANG ROHANI GUS NURIL DAN VISI DARUSSALAM H. GORI

*GEBYAR NADA DAN DAKWAH : TAFSIR INTIMATE LIRIK PUITIS EBIET G. ADE, RUANG ROHANI GUS NURIL DAN VISI DARUSSALAM H. GORI*

Oleh : Adlan Daie
Sekretaris Umum MUI kab Indramayu / Ketua Forum Sastra Indramayu (FSI – 1994)

Apa yang dapat kita maknai ketika H. Gori, Ebiet G. Ade dan Gus Nuril dalam satu panggung “Gebyar Nada & Dakwah” yang akan digelar H. Gori Sanuri, seorang pengusaha Indramayu, Senin 5 Oktober 2026 dalam satu paket Haul Hotel “Istana Bangun Jagat”, miliknya, dalam satu momentum Ultah H. Gori, HUT TNI dan HUT Indramayu ?

Ini bukan panggung “Gebyar” hedonis industrial hiburan melainkan panggung “intimate”, ruang kemesraan ruhaniyah, sebuah refleksi tentang makna perjalanan hidup untuk berhenti sejenak ketika media sosial terlalu dalam “mendikte” ruang rohani kita, ketika rohani kita dipenjara “algoritma”

H. Gori menghadirkan Ebiet G. Ade dan Gus Nuril dalam acara yang disebut “Gebyar Nada dan Dakwah”, seolah H. Gori hendak memaksa “kita mesti telanjang dan benar benar bersih”, mengutip lirik lagu hit Ebiet G. Ade sambil di ujung Hela nafas bertanya lirih “pada rumput yang bergoyang”

Lirik lirik lagu Ebiet G. Ade, bukan lirik sebuah lagu dalam “genre” apapun – tapi “puisi itu sendiri” yang “dimusikalisasi”, kata Penyair “puisi lirih” Sapardi Djokodamono – juga seorang kritikus sastra. Di acara panggung “Mata Najwa” di sebuah televisi swasta Sapardi menyebut Ebiet adalah “penyair” – bukan sekedar “penyanyi”

Dalam konteks itulah lirik lirik lagu Ebiet G. Ade – saya menyebutnya lirik “sabda alam” atau “ayat ayat kauniyah” bertemu dalam satu titik gagasan besar H. Gori yang dalam diksi Bend Anderson disebut “Imajined Communities”, tentang sebuah masyarakat yang dibayangkan, oleh H. Gori “dipatenkan” dalam visi “Darussalam”.

Konstruksi visi “Darussalam” merujuk pada buku berjudul “Indonesia Darussalam Ala H. Gori Sanuri”, ditulis Dr. Masduki Duriyat, bukan proyek “formalisme agama” melainkan ikhtiar menghadirkan nilai amanah, keadilan, kemaslahatan dan tanggung jawab dalam negara Pancasila dan UUD 1945.

Di sisi lain, kehadiran pengasuh pesantren Abdurahman Wahid Soko Tunggal Jakarta, KH Nur Arifin Husein, biasa disapa “Gus Nuril”, di panggung yang sama, sependek pemahaman saya tentang beliau adalah simpul “telaga” mata air yang merawat kesejukan lintas iman di ruang publik.

Agama dipeluknya secara inklusif – tidak ekslusif – menembus pagar pagar doktrin yang memisahkan manusia dengan manusia lain di ruang publik di atas nilai nilai kemanusiaan universal. Islam menyebutnya “rahmatan Lil alamin”, anugerah semesta yang lahir dari Rahmat ilahiyah.

Maka, bagi saya kehadiran ketiga figur di atas dalam satu panggung adalah sebuah “simbolisme” untuk menghadirkan ruang “Intimate”, ruang kemesraan ruhaniyah dalam “genre” pengalaman batin berbeda dan pola ungkap berbeda pula

Ketiganya menempuh jalan takdir masing masing, tak viral dalam dunia “hingar bingar” media sosial tapi mereka bertemu dalam satu titik kesadaran bersama hendak menuntun ke jalan jalan peradaban masa depan.

Ketiganya hadir di panggung bersama, sejenak hendak mengambil alih ruang. Mereka hadir tidak menjelaskan angka angka statistik, tidak berdebat tentang angka angka kemiskinan, tidak beradu data tentang angka angka pengangguran.

Mereka hadir untuk menghidupkan ingatan kolektif misalnya tentang sebuah tragedi untuk direnungkan dalam lintasan jaman dan generasi, tentang luka sosial, tentang kehilangan yang tak dapat dibaca dibalik angka angka.

Di sinilah pembangunan bangsa tidak sekedar proyek infra struktur, lebih dari itu, membutuhkan “subsidi” ruhaniyah, sesuatu yang mungkin tidak bisa dibaca dalam tabel angka angka statistik tapi menentukan martabat dan keberlanjutan sebuah “telaga” kebangsaan, sekali lagi, H. Gori menyebutnya “Darussalam”.

Karena itu, mari kita sambut kehadiran Ebiet G. Ade dan Gus Nuril atas prakarsa H. Gori, pengusaha yang bertumbuh dalam suasana kebatinan desir angin dan lumpur sawah Indramayu, bukan sekedar untuk ditonton

Inilah ruang “Intimate” bersama untuk merenungkan perjalanan panjang di lorong lorong kehidupan tak bertepi.*

Indramayu, 30 September 2026
Wassalam.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!