Oleh : Jacob Ereste
Ketika air menggelontor semua benda yang menghalangi perjalannya menuju muara, seperti tak ada yang mampu menahan arus derasnya yang terus melantak dan merangsek seperti pasukan perang yang tak lagi takut mati. Seperti angin yang meniup permukaan bumi, seakan hendak membersihkan semua kotoran yang tidak lagi bernilai. Lalu api yang melahap semua barang yang ada di sekitarnya, mengingatkan pada upaya ideal membersihkan korupsi dari semua perilaku tersembunyi semacam bangkai yang tak terendus oleh indra perekam segenap gerak-gerik yang tersembunyi rapi fi dasar laci.
Semua orang terperangah menyaksikan air yang tak pilih kasih menghanyutkan semua penghalang menuju muara, agar semua yang telah menjadi sampah itu ditelan oleh mulut samudra yang tak kalah bengis. Begitu juga api yang tampak haus melahap semua keangkuhan yang tidak bisa ditumbangkan. Lalu angin menghempaskan kemarahannya dengan mengangkat dan membanting semua keangkuhan yang tak hirau pada rute perjalannya yang terhalang dan terhadang, sekedar untuk untuk melampiaskan nafsu angkara manusia yang tamak dan rakus tak berujung.
Begitulah harta dan kekayaan yang menggunung di tengah kemiskinan rakyat yang tidak bisa membayar uang sekolah, karena penghasilan yang tidak seberapa harus dibagi untuk membayar rekening listrik, sewa rumah petak yang acap tertunggak pembayarannya, serta biaya hidup dan kebutuhan pokok sehari-hari yang selalu tertentu untuk dilunasi setelah upah berikutnya diterima. Pekerja pelayanan jasa pengantar barang dan orang, telah menjadi alternatif peredam kemarahan kaum buruh buruh yang terkena PHK, Toh, tidak sedikit ASN dan pekerja berstatus PPPK yang amit mundur dan memilih jadi pekerja pengantar barang dan orang dengan status bebas — freelance — tidak terikat pada perusahaan yang lebih berprilaku tidak obah seperti rentenir — memeras dengan cara yang super canggih. Inilah salah satu bentuk kejahatan ekonomi yang diungkap secara gamblang oleh Adian Napitupulu sebagai anggota dewan yang pernah sibuk mengklaim mewakili aspirasi wong cilik.
Kegigihan Adian Napitupulu — sebagai salah satu eksponen aktivis 98 — seperti seorang diantara mereka yang cuma sekedar mengaku konsisten berpihak pada kepentingan rakyat. Pembelaan yang gigih terhadap pekerja ojek online yang diperjuangkan Adian Napitupulu, nyaris tidak ada yang diiringi oleh aktivis seangkatan yang ada di legislatif maupun eksekutif termasuk mereka yang kini berada di wilayah yudikatif.
Sejumlah nama fan sosok aktivis pergerakan 98 yang berhasil melakukan reformasi — yang kemudian dibajak oleh DPR dan MPR RI melalui amandemen UUD 1945, sejak tahun 1998 hingga sekarang harus menanggung dosa atas perbuatannya yang telah menyesengsarakan seluruh rakyat Indonesia, tanpa ampun dan terkutuk. Inilah kesedihan yang paling memilukan yang menindih perasaan aktivis 98 lainnya yang sampai hari ini masih harus kembali turun ke jalanan dan menggedor gerbang gedung wakil rakyat yang justru lebih angker dan angkuh dari rezim sebelumnya yang mengangkangi negeri yang tetap disebut gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerta raharja.
Keangkuhan dan kepongahan rezim penguasa yang menggulung amanah dan kedaulatan rakyat serupa ini hanya mungkin berubah oleh sapaan dalam bahasa langit: gempa bumi, angin puting beliung, air bah dan amuk api yang menyambar semua keangkuhan dan kemunafikan yang berujung pada pengkhianatan janji kemerdekaan bangsa serta konstitusi yang dipenggal sekehendak hati sendiri, padahal semua itu atas nama segenap warga bangsa merdeka untuk menikmati kesejahteraan — lahir batin — yang berkeadilan dalam peradaban manusia yang lebih baik dan lebih mulia sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.
Dalam kondisi dan situasi yang terus menegang secara ekopolisosbudag inilah nilai-nilai spiritualitas perlu menjadi terapi diri segenap warga bangsa untuk selamat dan sentosa secara lahir dan batin. Sebab jiwa dan raga pada kemarau panjang yang tidak jelas titik hujan bisa kembali membasahi, tetap dinanti sambil meningkatkan kewaspadaan, jangan sampai hujan menjadi air bah yang justru membinasakan hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang terus menjadi bagian dari mimpi. **
Pecenongan, 3 September 2026
———
![]()
